Dalil – dalil Perinatan / Perayaan Maulid Nabi SAW

Dalil Maulid Nabi
Dalil – dalil Peringatan / Perayaan Maulid Nabi SAW

Dalil – dalil Peringatan / Perayaan Maulid Nabi saw

Seperti bahasan sebelumnya Soal Hukum perayaan atau warning Maulid Nabi Muhammad saw. serta sejarah diadakannya Maulidunnabiy, sekarang kita masuk dalam bahasan dalil-dalil yang menguatkan hukum bolehnya perinagtan / perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. Banyak dalil yang mampu kita jadikan selaku dasar diperbolehkannya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana ada banyak argumentasi dan alasan pula untuk tidak merayakan tradisi ini.

Di antara dalil-dalil yang mampu kita jadikan selaku dasar diperbolehkannya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ialah:

Firman Allah SWT:

Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu ialah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.“(QS.Yunus:58).Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Rasulullah Sawmerupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan selaku rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya: 107).

Dalam sebuah hadist disebutkan:

As-Suhaeli sudah menyebutkan bahawa Abbas bin Abdul mutholib menyaksikan abu lahab dalam mimpinya,dan Abbas menanyakan padanya,”Bagaimana keadaanmu? Abu lahab menjawab, di neraka, cuma tiap-tiap senin siksaku diringankan sebab saya membebaskan budakku Tsuwaibah sebab gembiraku atas kelahiran Rasul saw.“(shahih bukhari hadits no.4813, sunan Baihaqi al-kubra hadits no.13701, syibul Iman no.281, fathul Baari al-Masyhur juz 11 hal431)

warning Maulid Rasulullah Sawialah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja memperoleh manfaat dengan kegembiraan itu (Waktu Tsuwaibah, budak wanita Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira mengenai hal kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya selaku tanda suka cita. Dan sebab kegembiraannya, kelak di alam baqa siksa atas dirinya diringankan tiap-tiap hari Senin Sampai.

Demikianlah rahmat Allah kepada siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga kepada orang kafir sekalipun. Maka kalau untuk seorang yang kafir pun Allah merahmati, sebab kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman senantiasa ada di hatinya?

Beliau saw. sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur untuk Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.

Nabi Saw merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa tiap-tiap hari kelahirannya, yaitu tiap-tiap hari Senin Rasulullah Sawberpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.

Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Nabi Saw pernah ditanya Soal puasa hari senin. Nabi Saw menjawab: Pada hari itu saya lahir dan wahyu diturunkan kepadaku.(H.R. Muslim).

Firman Allah :

“Dan seluruh cerita dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu..” (QS.Hud :120)

Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul ialah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa waktu ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita mengenai hal beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan cerita para nabi sebelumnya

warning Maulid Nabi SAW mendukung orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Taala, Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman,bershalawatlah Anda semua untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).

Apa saja yang mendukung orang untuk melaksanakan sesuatu yang dituntut oleh syara, artinya hal itu juga dituntut oleh syara. Berapa beberapa manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya5. warning Maulid Nabi masuk dalam anjuran hadits nabi untuk membikin sesuatu yang baru yang baik dan tidak menyalahi syari at Islam. Rasulullah bersabda:

Sesiapa saja yang memulai (merintis) dalam Islam sebua perkara baik maka ia akan memperoleh pahala dari perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga memperoleh pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun.” (HR.Muslim dalam kitab Shahihnya).

Hadits ini memberikan keleluasaan untuk ulama ummat Nabi Muhammad untuk merintis perkara-perkara baru yang baik yang tidak bertentangan dengan al-Qur an, Sunnah, Atsar maupun Ijma.

warning maulid Nabi ialah perkara baru yang baik dan sama sekali tidak menyalahi satu- pun di antara dalil-dalil tersebut.

Dengan sedemikian artinya hukumnya boleh, bahkan bagian jalan untuk memperoleh pahala. Kalau ada orang yang mengharamkan warning Maulid Nabi, artinya sudah mempersempit keleluasaan yang sudah Allah berikan untuk hamba-Nya untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan baik yang belum pernah ada pada masa Nabi.

Baca juga artikel : Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW

Loading...
loading...

Dalam warning Maulid disebut mengenai hal kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan mengenai hal pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, ikut perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya.

Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan komprehensif.warning Maulid Adalah ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita untuk beliau dengan menerangkan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang Inti.

Dulu, di masa Nabi, para penyair Hadir untuk beliau melantunkan qashidah-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (suka) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan Pembalasan untuk mereka dengan kebaikan-kebaikan. Kalau beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha dengan orang yang mengumpulkan Penjelasan mengenai hal perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita untuk beliau, ialah dengan manarik kecintaannya dan keridhaannya.

Mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat jadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.

Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, balk fisik (tubuh) maupun akhlaq, ilmu maupun amal, kondisi maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih Inti dibandingkan akhlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman ialah 2 hal yang dituntut oleh syara. Maka, apa saja yang memunculkannya juga Adalah tuntutan agama.

Mengagungkan Rasulullah Sawitu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membikin jamuan, berkumpul untuk mengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, ialah performance pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.

Dalam ujaran Rasulullah Sawmengenai hal keutamaan hari Jumat, disebutkan bahwa bagian di antaranya ialah, “Pada hari itu Adam diciptakan.” Hal itu memperlihatkan dimuliakannya waktu tatkala seorang nabi lahir. Maka bagaimana dengan hari di lahirkannya nabi yang paling Inti dan rasul yang paling mulia?

warning Maulid ialah perkara yang dipandang baik oleh para ulama dan kaum muslimin di seluruh negeri dan sudah ditunaikan di seluruh tempat. Sebab itu, ia dituntut oleh syara, berdasar qaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Masud, “Apa yang dipandang balk oleh kaum muslimin, ia pun balk di sisi Allah; dan apa yang dipandang negatif oleh kaum muslimin, ia pun negatif di sisi Allah.”

Dalam warning Maulid tercakup berkumpulnya ummat, dzikir, sedekah, dan pengagungan untuk Nabi SAW. Seluruh itu hal-hal yang dituntut oleh syara dan terpuji. Tidak seluruh yang tidak pernah ditunaikan para salaf dan tidak ada di awal Islam artinya bidah yang munkar dan negatif, yang haram untuk ditunaikan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah ditunaikan) wajib dianggap berdasar dalii-dalil syara.

Tidak seluruh bidah itu diharamkan. Kalau haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang ditunaikan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf sebab kuatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang ditunaikan Umar tatkala mengumpulkan orang untuk ikut seorang imam tatkala melaksanakan shalat Tarawih, padahal ia menjelaskan, “Sebaik-baik bidah ialah ini.” Beberapa lagi perbuatan baik yang amat dibutuhkan ummat akan dikatakan bidah yang haram apabila seluruh bidah itu diharamkan.

warning Maulid Nabi, walaupun tidak ada di zaman Nabi Saw, sehingga Adalah bidah, ialah bidah hasanah (bidah yang baik), sebab ia tercakup di dalam dalil-dalil syara dan kaidah-kaidah kulliyyah (yang bersifat global).

Jadi, warning Maulid itu bidah kalau kita cuma melihat bentuknya, bukan perinaan-perinaan amalan yang Ada di dalamnya (sebagaimana Ada dalam dalil ke-2 belas), sebab amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.Seluruh yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara. Sebab, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara, pun dituntut oleh syara.

Imam Asy-Syafii menjelaskan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau ditunaikan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, ialah bidah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, ialah terpuji.

Saban kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syari dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemunkaran itu termasuk ajaran agama.
Memperingati Maulid Rasulullah Sawberarti menghidupkan ingatan (kenangan) mengenai hal Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang kita lihat sebagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan mengenai hal peristiwa-peristiwa terpuji yang sudah lalu.

Seluruh dalil-dalil yang disebutkan sebelumnya mengenai hal dibolehkannya secara syariat warning Maulid Nabi SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan munkar yang tercela, yang wajib ditentang. Adapun kalau warning Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan wanita, dilakukannya perbuatanperbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diridhai Shahibul Maulid, tidak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada warning Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut.

Loading...

Sumber: FB/Muh. Khanafi

loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :