Dalil Bantahan Apakah Orang Tua Nabi Masuk Neraka

dalil-bantahan-orang-tua-nabi-masuk-neraka
Makam Ibunda Rasulullah SawSiti Aminah

Penjelasan Mengenai hal Apakah Ke-2 Orang Tua Nabi Saw – Akhir-akhir ini ada kubu yang mengklaim selaku muslim yang konsisten untuk sunnah dan Al-quran. “Mereka mengumumkan bahwa ke-2 orang tua Nabi Muhammad SAW masuk Neraka”. Manakah yang benar, orang tua Nabi wafat dalam kondisi islam (tauhid) atau menyembah berhala?Apakah orang tua Nabi Muhammad masuk Neraka? – Al-Qodli Abu Bakar bin Al-A’Robi pernah ditanya soal orang yang mengumumkan bahwa orang tua dan nenek-moyang Nabi Saw masuk neraka (sebab musyrik). Beliau menjawab selaku berikut : “Sesungguhnya orang yang berkata seperti ini itu dilaknat oleh Allah swt, sebab Allah swt berfirman”:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, niscaya mereka dikutuk Allah di dunia dan akhirat dan disediakanNya untuk mereka siksa yang menghinakan”. (QS:Al-Ahzab:57).

Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Nabi Saw selain mengumumkan bahwa orang tua beliau masuk neraka. Imam AI-Suhaili berkata: “Kita tidak boleh berkata yang seperti ini itu (masuk neraka sebab musyrik) pada ke-2 orang tua Nabi Saw, sebab Nabi Saw bersabda: “Janganlah Anda semua menyakiti orang yang masih hidup dengan mencaci yang telah meninggal”.

Dalil Bantahan Orang Tua Nabi Masuk Neraka

Ada 3 argumentasi mengapa ke-2 orang tua Nabi Saw tidak termasuk ahli neraka sebagaimana yang dituduhkan sebagian kalangan, yaitu:

  1. Masa Fatrah – Seperti dimaklumi, ke-2 orang tua Rasululah SAW hidup pada masa fatroh ialah zaman dimana tidak ada utusan Allah (Rasul) yang menyebarkan kebenaran dan mengajak manusia untuk jalan yang benar. Selisih waktu antara Nabi lsa AS dengan Nabi Saw ialah 600 tahun. Sayyid Abdullah, ayah Rasululah SAW, wafat pada usia delapan belas tahun waktu Nabi Saw masih Ada dalam kandungan ibunya. Sementara Sayyidah Aminah,ibunda Nabi Saw, wafat pada usia 20 tahun waktu usia Rasullullah SAW 6 tahun.Pada masa itu orang-orang yang mengerti kitab- kitab nabi terdahulu tersebar di negara-negara Syam, bukan di Arab, sebab nabi-nabi terdahulu tidak diutus untuk bangsa Arab. Dengan seperti ini, kalau ke-2 orang tua Rasulullah tidak bersyahadat dan beriman atas kerasulan Muhammad SAW, tentu hal itu bisa dimaklumi sebab mereka wafat pada waktu Nabi Muhammad SAW belum diutus jadi Rasul. Allah SWT berfirman:


    “Dan Kami tiada menyiksa (suatu kaum) sehingga Kami utus seorang Rasul (kepadanya).”(QS. Al-lsro’: 15).

    Tidak ada petunjuk kuat yang mengatakan dengan tegas bahwa ke-2 orang tua dan kakek Nabi Saw sampai Nabi Adam AS dari golongan musyrikin. Bahkan sebaliknya, mereka ialah golongan kaum yang meng-esa-kan Allah SWT dan tidak menyekutukan Nya seperti halnya kaum jahiliyah Arab. Allah SWT berfirman:

    .

    “Yang melihatmu tatkala engkau berdiri ( sembahyang) dan tatkala engkau bolak-balik , dalam orang-orang yang sujud (sembahyang).”(QS:Asy Syu’ araa’:218-219).Menurut para ulama ahli Tafsir, ayat ini mengatakan dengan tegas bahwa Nabi Saw lahir dari orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah SAW. Nabi Saw bersabda: “Secara terus menerus saya dipindahkan daribeberapa tulang iga yang suci pada rahim yang suci .”Allah SWT berfirman:

    ” Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis”. (QS:At-Taubah:28).

    Dengan seperti ini, ke-2 orang tua Nabi Saw sampai generasi di atas bukan termasuk kaum yang najis, yaitu yang menyekutukan Allah SWT.

  2. Do’a Nabi Ibrahim – Seperti dijelaskan para ahli sejarah bahwa Nabi Saw ialah anak cucu dari Nabi Ibrahim AS. Bagian doa Nabi ibrahim seperti tercantum dalam AI-Qur ‘an:

    “Ya Tuhanku, jadikanlah saya orang yang mendirikan shalat,begitu anak -anak turunku. Ya Tuhan kami, dan perkenankanlah do’a ku.”(QS:I brahim:40).

    Tentu do’a Nabi Ibrahim ini tidak akan sia-sia. Ayat ini jadi jaminan bahwa semua anak cucu Nabi lbrahim ialah orang-orang yang tidak menyembah selain untuk Allah SWT. Adapun firman Allah SWT :

    Loading...
    loading...

    “Dan lngatlah tatkala Ibrahim berkata untuk”bapaknya” Azar, adakah engkau ambil berhala jadi Tuhan. Sesungguhnya saya menyaksikan engkau dan kaum engkau dalam kesesatan yang nyata”.(QS:AI-An’ am:74)

    Menurut riwayat Abi Hatim dari lbnu Abbas, yang dimaksud dengan Azar, bapak Ibrahim AS, ialah pamannya dan bukan bapak kandungnya. Ada pun nama bapak kandung Ibrahim AS ialah Tarikh bin Syarikh bin Nakhurin. Di kalangan kaum Arab, pemanfaatan kata-kata “bapak” untuk sebutan paman ialah hal yang telah lumrah, biasa dan dipakai sehari-hari.

  3. Mu’jizat Nabi SAW – Pandangan ini dinyatakan oleh beberapa ulama, di antaranya ahli Tafsir yang terlalu terkenal yaitu Imam Fahruddin AI-Rozi.Ada beberapa riwayat yang mengumumkan bahwa dengan mu’jizatnya dan atas seizin Allah SWT, Nabi Saw menghidupkan kembali ke-2 orang tuanya, lalu mengucapkan kalimat syahadat dan beriman. Mu’ jizat Nabi dengan menghidupkan orang yang telah meninggal bukan hal yang mustahil. Kejadian serupa pernah dikerjakan oleh Nabi lsa as.

Pandangan yang terakhir ini dinyatakan oleh beberapa ulama ahli Hadits, di antaranya ulama ahli Hadits yang terlalu terkenal dan bergelar Al-Hafidz, yaitu Al-Hafidz Abu Bakar Al-Khotib Al-Baghdadi. Juga Imam Al-Suhaili, AI-Qurthubi, Muhibbu at-Thobari, Nashiruddin ibnu Al-Munir, dan lain-lain.

Yang dimaksud dengan gelar AI-Hafidz dalam istilah ilmu Hadits ialah orang yang mempunyai beberapa hafalan matan Hadits. Menurut sebagian pandangan, orang yang bergelar ai-Hafidz wajib mempunyai hafalan minimal 100.000 matan hadits dengan sanad yang bersambung untuk Rasululah SAW

Adapun soal hadits bahwa seorang laki-laki A’robi (Arab pedalaman) menanyakan untuk Nabi Saw, “Wahai Rasulullah, dimanakah bapakku?” Nabi Saw menjawab, “Di neraka.” Lalu sesudah laki-laki itu berpaling Nabi Saw memanggilnya dan berkata,“Sesungguhnya bapakku dan bapakmu Ada di neraka.” (HR. Muslim). Bisa dijelaskan selaku berikut:

Menurut Imam AI-Hafidz AI Suyuthi, kalimat “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu Ada di Neraka,” tidak disepakati oleh beberapa perawi hadits dan cuma diriwayatkan oleh Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas. Inilah jalur yang dipakai oleh Imam Muslim.

Riwayat ini bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ma’mar dari Tsabit dari Anas dengan perawi yang shahih. Dalam riwayat ini tidak Ada kalimat “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu Ada di Neraka.”

Redaksinya ialah: Berkata A’robi, “Ya Rasulullah, dimanakah bapakku?” Nabi Saw menjawab: “Ada di neraka.” Berkata A’robi, “Dimanakah bapakmu?” Nabi Saw berkata, “Apabila engkau melewati kuburan orang kafir, maka berilah ia berita gembira (maksudnya berita duka) dengan siksa neraka”.

Dalam hadits riwayat Ma’mar ini sama sekali tidak dimuat info Soal keberadaan orang tua Nabi Saw. Menurut penilaian ulama ahli Hadits, riwayat ini lebih kuat daripada riwayat hadits ke-1 yang memuat info Soal keberadaan orang tua Nabi Saw yang Ada di neraka seperti dalam pertanyaan si A’robi.

Ini dikarenakan status Ma’mar, perawi hadits ke-2, lebih bisa dipercaya (tsiqoh) daripada Hammad, perawi hadits yang ke-1 sebab pada riwayat hadits yang lain beberapa yang diinkari oleh para ahli hadits. Menurut para ulama ahli hadits, anak tiri Hammad memalsukan beberapa hadits pada kitab kumpulan hadits Hammad. Oleh karena itulah maka Imam Bukhori tidak mengambil 1 pun riwayat hadits dari Hammad.

Dengan seperti ini, selaku pegangan paling pas ialah hadits yang bersumber dari riwayat Ma’mar, bukan riwayat Hammad. Disamping itu, respon Nabi Saw pada riwayat Ma’mar lebih pas.

Pertanyaan itu keluar dari seorang A’robi, yang dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah dan kemurtadan karena menurut riwayat Al-Baihaqi, pada waktu itu A’robi masih belum masuk Islam, wajar kalau Nabi Saw kuatir apabila respon itu disampaikan dengan kondisi yang sesungguhnya bahwa orang tua Nabi Saw tidak Ada di neraka, sedangkan orang tua si A’robi masuk neraka, ini tentu akan membuatnya terlalu kecewa.

Kenapa nasib orang tuanya tidak sama dengan orang tua Nabi Saw. Ini akan terlalu memungkinkan murtadnya si A’robi atau keengganannya memeluk agama Islam. Orang-orang A’robi dikenal berwatak keras dan tidak suka mengalah kepada orang lain.

Seperti ini respon singkat ini,semoga bisa menjadikan iman dan kecintaan kita untuk Nabi Saw dan keturunannya bertambah besar. Berikut pula silahkan disimak cuplikan penjelasan dari Al Habib Umar Hafidz, silahkah di share – Dalil Bantahan Orang Tua Nabi Masuk Neraka

(Lihat. Ghomzu ‘Uyuni ai-Bashoir, juz 3, him. 241 , Masaliku ai-Hunafa fi Walday ai-Mushthofa, him. 12, 18, 27,42, 43, 51, 52, 53, 60, 63. AI-Ta’dhim wa al-Minnah, him. 40, 43, 54. AI-Durj AI-Munifah fi ai-Aba’ ai-Syarifah, hlm.18).

Sumber: CN Istifta

SHARE THIS
Loading...

loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :