Dakwah Walisongo Sukses sebab Cinta Tanah Air

Website Islam Institute

Dakwah Walisongo – Walisongo menyebarkan agama Islam meniru persis “bungkus” dan “isi” yang dahulu dikerjakan Nabi Saw. Sungguh-sungguh menjiplak mutlak metode dakwahnya kanjeng nabi. Alasannya, kondisinya hampir serupa, Walisongo kala itu ibaratnya “satu-satunya”.

Dahulu Nabi Muhammad SAW ialah satu-satunya orang yang berada di jalan yang benar. Ditambah iIstrinya sendiri, sahabat Abu Bakar r.a., sahabat Umar r.a., sahabat Utsman r.a., calon mantunya Ali r.a. Dan seluruh orang di muka Bumi waktu itu tersesat seluruh. Kanjeng nabi sungguh-sungguh the only one yang tak sesat.

Tetapi, berkat ruh dakwah yang full kasih sayang, beberapa orang akhirnya mau mengikuti agama baru yang dibawa kanjeng nabi. Dengan dilandasi perasaan yang tulus, Nabi Muhammad SAW amat amat sabar menerangi orang-orang yang tersesat. walaupun kepala beliau dilumuri kotoran, meski muka beliau diludahi, bahkan beberapa kali hendak dibunuh, kanjeng nabi senantiasa tersenyum memaafkan. Walisongo pun mencontoh akhlak kanjeng nabi sama persis. Walisongo berdakwah dengan full kasih sayang.

Pernah suatu hari ada warga desa menanyakan hukumnya menaruh sesajen di suatu sudut rumah. Tanpa terkesan menggurui dan memperlihatkan kekhilafan, sunan tersebut berkata, “Boleh, malah sebaiknya jumlahnya 20 piring. Namun dimakan berbarengan para tetangga terdekat ya.”

Pernah juga ada murid bagian anggota Walisongo yang ragu pada konsep tauhid. Dan menanyakan, “Tuhan kok jumlahnya satu? Apa nanti tak kerepotan dan ada yang terlewat tak diurus?”

Sunan yang ditanyai hal tersebut cuma tersenyum sejuk mendengarnya. Bahkan beliau minta ditemani murid tersebut menonton pagelaran wayang kulit.

Singkat cerita, sunan tersebut berkata pada muridnya, “Baik ya cerita wayangnya…”. Si murid pun menjawab full antusias soal keseruan lakon wayang malam itu. “Oh iya, bagaimana menurutmu jika dalangnya ada dua atau empat orang?” tanya sunan tersebut. Si murid langsung menjawab, “Bahkan lakon wayangnya sanggup bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan.”

Sang guru cuma tersenyum dan mengangguk-angguk menguping respon polos tersebut. Seketika itu pula si murid beristighfar dan mengklaim telah paham konsep tauhid. Begitulah “isi” dakwah Walisongo; menjaga perasaan orang lain.


Pernah suatu hari ada bagian anggota lain dari Walisongo mengumpulkan masarakat. Sunan tersebut dengan amat bijaksana menghimbau para muridnya untuk tak memotong binatang sapi waktu Idul Kurban. Walaupun syariat Islam terang menghalalkan. Tujuannya untuk menjaga perasaan orang lain lebih diutamakan.

Di atas ilmu fikih, masih ada ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tasawuf. Maksudnya, menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram. Kebaikan lebih utama daripada kebenaran. Dengan bercanda, beliau berkomentar bahwa daging kerbau dan sapi sama saja. Makan daging kerbau saja juga enak. Ndak perlu cari gara-gara dan cari benarnya sendiri, kalau ada barang halal lain tapi lebih kecil mudharatnya. 

Lantas, tatkala berbicara di depan khalayak umum, beliau menyampaikan bahwa agama Islam juga memuliakan binatang sapi. Sunan tersebut lalu memberikan bukti bahwa kitab suci ummat Islam ada yang namanya Surat Al-Baqarah (Sapi Betina). Dengan nuansa kekeluargaan, sunan tersebut memetikkan beberapa ilmu hikmah dari surat tersebut. Untuk dijadikan pegangan hidup siapa pun yang mendengarnya. Begitulah cara dakwah Walisongo.

Perlu diketahui, prilaku Walisongo amat meneladani Nabi Muhammad SAW. Zaman dahulu, Walisongo tak cuma jadi guru orang-orang yang beragama Islam. Walisongo berakhlak baik pada siapa saja dan apapun agamanya. Bahkan sebab kelembutan dakwah sunan tersebut. Masarakat yang waktu itu belum masuk Islam. Bahkan gotong-royong membantu para murid beliau melakukan ibadah qurban.

Dakwah Walisongo Mirip Gaya Dakwah Nabi Muhammad

Jika Anda sekalian amati, betapa gaya berdakwah para anggota Walisongo amat mirip gaya dakwah kanjeng nabi. Pertanyaan berikutnya ialah, bagaimana sanggup? Hal tersebut sanggup terjadi sebab ada manual book cara berdakwah, yaitu Surat An-Nahl ayat ke-125.

Ud’u ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau’izhatil hasanati wajaadilhum billatii hiya ahsan. Inna Rabbaka Huwa a’lamu biman dhalla ‘an sabiilihi wa Huwa a’alamu bilmuhtadiin. Terjemahannya kira-kira; Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui mereka yang memperoleh petunjuk.

Menurut ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, tafsir ayat dakwah tersebut ialah seperti ini. Potongan kalimat awal, ud’u ilaa sabiili Rabbika, yang terjemahannya ialah “Ajaklah ke jalan Tuhanmu”, tak mempunyai objek. Hal tersebut sebab Gusti Allah berfirman mempergunakan pola kalimat sastra.

Loading...
loading...

Dakwah Walisongo amat memahami ayat dakwah

Pertanyannya ialah, siapa yang diajak? Tentunya orang-orang yang belum di jalan Tuhan. Misalnya, ajaklah ke Jakarta, ya artinya yang diajak ialah orang-orang yang belum di Jakarta.

Dakwah artinya ialah “mengajak”, bukan perintah. Jadi cara berdakwah yang betul ialah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Apabila mesti berdebat, pendakwah mesti mempergunakan cara membantah yang lebih baik. Sifat “lebih baik” di sini sanggup diartikan lebih sopan, lebih halus, dan dengan kasih sayang. Sekali lagi, apabila mesti berdebat, ingin diperhatikan. Para pendakwah malah semestinya menghindari perdebatan. Bukannya tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba ada ustadz yang mengajak debat para pendeta, biksu, orang atheis, dan sebagainya. Berdakwah tak boleh berlandaskan hawa nafsu. Mesti ditikari ilmu, diselimuti rasa kasih sayang, dan berangkat niat yang tulus.

Apalagi ayat dakwah ditutup dengan kalimat penegasan bahwa cuma Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati. Cuma Allah SWT yang tahu hambaNya yang masih tersesat dan hambaNya yang telah memperoleh petunjuk. Firman dari Allah SWT tersebut telah merupakan warning untuk para pendakwah jangan pernah merasa telah suci. Apalagi menganggap objek dakwah selaku orang-orang yang tersesat. Anggaplah objek dakwah selaku sesama manusia yang sama-sama berusaha ke jalan-Nya.

Ayat dakwah itulah yang dipegang Nabi Muhammad SAW dan para pewarisnya waktu berdakwah. Maka dari itu, kita jangan kagetan seperti para sejarawan dunia, sebab kesuksesan dakwah Walisongo sesungguhnya bukanlah hal yang aneh.

Dakwah Walisongo Memanusiakan Manusia

Kanjeng nabi saja sanggup mengubah Jazirah Arab cuma dalam waktu 23 tahun. Apalagi Walisongo yang “cuma” ditugaskan Allah SWT untuk mengislamkan sebuah bangsa.

Dakwah Walisongo sanggup sukses pada dasarnya dikarenakan dua faktor saja:

Pertama, sebab niat yang tulus. Walisongo menyayangi bangsa Indonesia. Maka dari itu bangsa nusantara dirayu-rayu dengan full kelembutan untuk mau masuk agama Islam. Bila ada kalangan yang menolak, tetap amat disayangi. Sekalipun orang tersebut malas masuk agama Islam, tapi bila ada yang sedang sakit, ia tetap dijenguk dan dicarikan obat. Jika orang tersebut sedang membangun rumah, maka Walisongo mengerahkan para santrinya untuk menyumbang tenaga. Bahkan, kpd pihak-pihak yang tak cuma menolak agama Islam, tapi juga mencela sekalipun, Walisongo tetap bersikap ramah.

Kedua, sebab “satu kata satu perbuatan”. Walisongo membawa ajaran agama Islam ke Nusantara, tentu kesembilan alim ulama tersebut mesti jadi pihak pertama yang mempraktekkan.

Agama Islam ialah agama anugerah untuk ummat manusia. Maka para wali tersebut senantiasa berusaha praktek jadi anugerah bagi ummat manusia di sekitarnya.

Semuanya dimanusiakan, sebab Walisongo mempraktekkan inti ajaran agama Islam; rahmatan lil ‘alamin. Islam tak mengenal konsep rahmatan lil muslimin. (ISNU)

Jadi, berdakwah itu bukan mengkafir-kafirkan orang yang telah Islam. Kalau ingin sukses berdakwah di masarakat, ingin sukses mengajak orang yang belum Islam supaya masuk Islam, tirulah Dakwah Walisongo.

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Loading...

Simpan

loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :