Cerita Sufi: Pengembala Unta dan Seorang Guru

Cerita Sufi: Pengembala Unta dan Seorang Guru

Di dalam cerita sufi dikisahkan soal adanya seorang yang berminat terhadap tasawuf. Dari seorang temannya dia menguping soal adanya guru sufi yang agung. Sebab itu, dia berangkat ke sana dengan menyewa seekor unta dari seorang penggembala.Singkat cerita, sesudah menempuh travelling yang berat dan lama, akhirnya sampailah dia ke rumah sang guru. Ternyata, orang yang akan dijadikan gurunya itu bahkan bersikap amat hormat terhadap si penggembala unta, sampai-sampai si penyewa unta itu terheran-heran.

“Saya datang untuk berguru terhadap Anda, tetapi sikap Anda terhadap penggembala unta layaknya terhadap seorang guru saja,” kata si penyewa unta itu tanpa menutupi kekesalannya. Sang guru, ialah si tuan rumah itu, menerangkan bahwa si penggembala unta itu memang ndak lain ialah gurunya sendiri.

Loading...
loading...

Cerita seperti itu tidak sedikit sekali di dalam tasawuf. Tetapi sebetulnya bukan monopoli tradisi sufisme, karena hampir seluruhnya budaya mengarah ke situ. Dalam pepatah Melayu, misalnya, dikatakan, “Makin berisi, padi makin merunduk.” Idenya ialah soal sikap rendah hati, seperti ditampakkan oleh si penggembala unta dalam cerita di atas, yang ternyata ialah gurunya guru sufi.Di kalangan ulama ada pandangan bahwa ndak ada yang tahu seorang wali kecuali wali. Maka jika kita menjelaskan bahwa seseorang itu wali, maka efeknya seolah- olah kita mengakui diri kita sendiri selaku wali (orang suci). Dalam hal ini, ungkapan Ali ibn Abi Thalib amat cakep saat menggambarkan kesucian, “Sebaik-baik kesucian ialah menyembunyikan kesucian itu.”

*Selengkapnya, klik di sini

Loading...

Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *