Tasawuf Islam

Cerita Sufi: Kearifan Tertinggi Malah Dipungut al-Ghazali dari Kawanan Perampok!

Cerita Sufi: Kearifan Tertinggi Malah Dipungut al-Ghazali dari Kawanan Perampok!

Ilustrasi (Gambar artchive.ru)

Imam al-Ghazali ialah seorang ulama Sunni paling masyhur yang bergelar Hujjatul Islam (Argumen Islam). Ia berasal dari Thus, sebuah kampung di dekat kota Mashad (Iran saat ini).

Sebagaimana ulama pada zamannya, ia kerap bepergian ke kota Nishapur yang merupakan pusat ilmu di abad ke-5 Hijriah. Kepergian al-Ghazali ke Nishapur dan juga Jurjan, tiada lain ialah demi berjumpa ulama-ulama beken di zaman itu, untuk menuntut ilmu dan kemuliaan.

Dan bagian cara belajar favorit al-Ghazali di masa itu ialah dengan menulis seluruhnya hal yang dia dengar dari gurunya. Akibatnya, dia menimbun tidak sedikit sekali manuskrip dan catatan pelajaran.

Tatkala dia ingin mudik ke kampung halamannya, al-Ghazali memasukkan seluruhnya manuskrip dan catatan itu ke dalam kopor lalu menumpang kafilah yang bakal berangkat ke kampung Thus.

Malangnya, di tengah travelling kafilah itu dicegat oleh kawanan perampok yang ingin memperoleh hal-hal berharga. Seluruhnya barang berharga mereka jarah. Tiba giliran al-Ghazali, dia bermohon sekali supaya para perampok itu ndak mengambil barang bawannya.

Para perampok itu pun curiga dan mengira bahwa al-Ghazali membawa barang-barang mewah. Sekali kopor dibuka, yang ditemukan tidak lebih dari setumpuk manuskrip dan catatan pelajaran tidak berguna.

Untuk menemui tumpukan manuskrip itu, si perampok menanyakan: “Apa isi manuskrip ini, dan apa faidahnya buat kau?” al-Ghazali menjawab: “Itu cuma barang-barang yang berharga bagiku dan nir-faidah bagi kalian.”

“Apa pula faidah kertas-kertas hina ini bagimu?” kata perampok. “Itu ialah catatan ilmu yang kudapat dari para guruku. Jika kamu ambil, ilmu dan jernih payahku bakal hilang sia-sia,” jawab al-Ghazali.

“Apakah benar seluruhnya yang kamu tahu ada di catatan-catatan ini?” tanya perampok. “Ya, tolonglah jangan dicuri,” bujuk al-Ghazali.

“Hm, ketahuilah wahai penuntut ilmu, ilmu yang hilang sebab dicuri sesungguhnya bukanlah ilmu!” petuah para perampok itu sambil berlalu.

Untuk menguping itu, al-Ghazali pun terkejut dan mulai merenungkan ulang caranya dalam menuntut ilmu.

Selama ini dia cuma bersikap seperti beo yang meniru apa-apa yang didiktekan padanya. Semenjak kejadian itu, dia mengubah cara belajar.

Al-Ghazali mulai mempergunakan metode penalaran sembari menghafal hal-hal penting yang ia dengar. Ia mulai menyusun daftar pelajaran dan persoalan yang terbetik di benaknya demi lalu dia analisis dan cari jawabannya.

Begitu dalam kejadian itu membekas di diri al-Ghazali, sampai-sampai ia sempat berkata:

“Nasihat terbaik yang sempat kudengar dan langsung memicu pencerahan kepada pikiranku ialah nasihat yang kudapat dari kawanan perampok itu!”

Dilansir dari kitab Qishash al-Abrar (Cerita Orang-Orang Baik), karya Murtadha Mutahhari, halaman 40-42. (Novriantoni Kahar)

 

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker