Cerita Sufi dan Pemuda Galau

Kisah Sufi dan Pemuda Galau

Cerita Sufi dan Pemuda Galau

Rupanya, kegalauan yang melanda sebagian besar pemuda zaman ini pernah juga dialami oleh pemuda-pemuda yang hidup di masa kejayaan Islam. Sama halnya dengan penyebab kegalauan zaman ini yaitu perekonomian atau rejeki dan pasangan hidup atau jodoh, hal itu juga dinikmati oleh pemuda zaman dahulu. Sungguh problem rejeki dan jodoh ialah perkara yang terlalu meresahkan sebagian pemuda terlebih yang mereka tidak mempunyai keyakinan yang kuat akan kekuasaan Allah Swt.

Seorang Sufi besar bernama Imam Ibrahim bin Adham pernah menemui seorang pemuda yang duduk termenung. Rupanya pemuda itu tengah galau, memikirkan hidupnya. Sang pemuka Sufi itu pun mendekati pemuda tersebut dengan full akhlak dan keramahan.

sesudah memberi salam, Ibrahim bin Adham berkata ke pemuda tersebut, “Duhai pemuda, bolehkan saya menanyakan 3 hal, tetapi tolong jawablah pertanyaanku dengan jujur.”

“Baiklah, Wahai Imam, akan saya jawab pertanyaanmu dengan jujur,” Sahut si pemuda.Ibrahim bin Adham menanyakan, “Apakah ada suatu perkara yang terjadi di dunia ini yang luput dari pengetahuan dan kehendak Allah Swt ?”

“Tentu tidak ada,” jawab pemuda itu.

“Dan apakah rejeki yang Allah tetapkan kepadamu akan berkurang?”

“Pasti tidaklah berkurang,” jawab pemuda itu lagi.

“Apakah waktu kematian yang ditetapkan Allah kepadamu akan bergeser dan tertunda ?”

“Sungguh, tidak akan bergeser dan tertunda,” jawabnya.

Ibrahim bin Adham pun berkata, “Kemudian, kenapa kau masih galau?” Pemuda itu pun sadar dengan sikapnya yang salah.

“Yakinlah, bahwasanya pengetahuan dan kehendak Tuhan itu meliputi semua perkara atau perbuatan yang ada di alam semesta, maka mohonlah pertolongan ke Allah SWT sebelum berbuat sesuatu supaya bimbingan dan rahmat Allah senantiasa menyertai.”

“Rejeki ialah suatu perkara yang sudah ditetapkan Allah Swt. ke tiap ciptaan-Nya. Allah SWT tidak akan menzalimi makhluknya sedikitpun. Maka bekerja, doa, dan tawakal akan jadi pegangan seseorang untuk menjalani kehidupan ini dengan Kedamaian dan damai.”

“Adapun Kematian ialah hal yang pasti dialami tiap-tiap manusia. Tetapi kehidupan sesudah kematian masih jadi suatu misteri, kebahagiaan kah atau kesengsaraan kah yang akan diperoleh oleh seorang manusia. Tuk itu mencari bekal untuk kehidupan sesudah kematian ialah suatu keniscayaan untuk orang-orang yang berharap kebahagiaan.”

Wallaahu a’lam

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.