Cerita Nabi Ibrahim Meragukan Allah SWT

Ikhlas

Cerita Nabi Ibrahim Meragukan Allah SWT

Dalam hal apapun, bukti Adalah suatu yang amat berharga dan menentramkan. Seorang ibu akan lega waktu menyaksikan langsung anaknya maju ke panggung, memberikan sambutan waktu wisuda, dibandingkan menguping seribu orang yang menjelaskan bahwa anaknya rajin, pintar, dan berprestasi.

Seorang wanita akan amat tenang hatinya saat diberi kepastian (bukti) oleh pria yang mencintainya, meski belum lama kenal. Sebaliknya, mereka akan gundah kalau berstatus Sahabat tapi mesra dengan pria tampan nan kaya, tapi tidak kunjung memberi bukti, nikah.

Bukankah beberapa cerita soal cinta laki-laki yang kandas lantaran wanita menerima pinangan dari sosok yang lebih pasti? Bahkan tidak jarang orang tua turun tangan mengintervensi keputusan anak perempuannya seperti cerita cinta Novita dan Mas Pur dalam serial Tukang Ojek Pengkolan yang berhasil membikin baper netizen.

Ada sebuah cerita menarik soal permintaan bukti untuk menenangkan hati. Cerita yang termaktub dalam surat al-Baqoroh ayat 260 ini menarik karna melibatkan Allah SWT dan Nabi Ibrahim AS. Ya, Nabi yang bergelar Khalilullah (kekasih Allah) ini meminta bukti untuk Allah soal kuasanya dalam menghidupkan makhluk yang telah mati.

“Tuhanku, perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan makhluk yang mati,” pinta Ibrahim. “Apakah engkau tidak percaya kepadaku?” Tanya Allah.

“Tentu saya percaya, tapi untuk sekedar meyakinkanku dan menentramkan hatiku saja,” tukas Ibrahim.

Lalu Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengambil 4 ekor burung dan menyembelihnya. Kemudian memotong kecil-kecil jasad burung itu dan meletakkannya secara random di beberapa gunung dan memanggil burung tadi.

seusai Ibrahim melaksanakan seluruh itu, apa yang terjadi? Burung-burung Hadir ke tempat di mana Ibrahim memanggil mereka dan bangkai burung itu jadi jadi 1 sesuai jasadnya masing-masing dan hidup sedia kala.

Dalam cerita tersebut, apakah Nabi Ibrahim waktu itu ragu dengan kekuasaan Allah? Quraish Shihab dalam dalam Tafsir al-Misbah menerangkan bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi Ibrahim belum percaya.

Hal itu bisa dilihat dari perkataannya sendiri. Tetapi, keraguan itu bukan artinya ketidakpercayaan. Cuma saja, kepercayaan dan keyakinan Ibrahim dalam masalah ini, masih pada tataran Ilm al-Yaqin, belum sampai pada tingkat ‘ain al-yaqin atau bahkan haqq al-yaqin.

Wallahu A’lam.

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.