Biografi Nabi Muhammad Saw

Cerita Ini Bakal Membuatmu Kian Cinta terhadap Rasulullah – Islami[dot]co

Cerita Ini Bakal Membuatmu Kian Cinta terhadap Rasulullah

Saat Nabi Muhammad berada di bilik salah seorang istrinya, pernah ada sekelompok orang Arab pedalaman datang dan memanggil beliau dengan suara keras dan lantang. Ketika itu pun Allah menegur mereka melalui wahyu yang diturunkan terhadap Nabi: 

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar kamarmu kebanyakan mereka tak mengerti dan jika sekiranya mereka bersabar sampai kau keluar menemui mereka sesungguhnya itu lebih bagus bagi mereka dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Al-Hujurat [49]:4-5. Ini ialah suatu langkah budaya luar biasa yang dilaksanakan nabi terhadap orang-orang Baduy.

Nabi pun mengajarkan terhadap orang-orang yang sehari-harinya hidup di berkisar beliau  soal bagaimana adab minta izin dan memberitahu kedatangan.

Jabir menceritakan, “Saya datang menuju rumah Nabi guna menagih hutang. Saya mengetuk pintu.”

“Siapa?” Tanya Nabi.

“Saya!” Jawab Jabir.

“Saya? Saya siapa?” Beliau kelihatan tak suka.

Begitulah Nabi mengajari Jabir menyebutkan namanya saat ditanya dari balik pintu. Karena saya tidak nama melainkan kata yang menuding pada diri pembicara. Yang benar ialah bagaikan yang dilaksanakan Nabi ketika meminta izin masuk menuju bilik istrinya. Saat ditanya, siapa yang mengetuk pintu. Beliau menjawab, “Abul Qosim!”

Pernah seorang pria datang menuju rumah nabi dan meminta izin masuk. “Bolehkah saya masuk?” kata orang itu. Beliau lalu memanggil pembantunya sambil berkata, “Keluarlah! ajari orang itu tata krama minta izin masuk. Suruh katakan, “Assalamualaikum. Boleh masuk?”

Para sahabat juga menggunakan tata krama minta izin ini sampai-sampai Abu Musa al-Asy’ari mengeluarkan riwayat bahwa nabi bersabda, “Minta izin lumayan 3 kali. Kalau diperbolehkan masuk, masuklah. Kalau tak, pulanglah!” Bagian adab yang ditunjukkan para sahabat ketika mendatangi rumah Nabi ialah mengetuk pintu dengan jari tidak dengan kuku sebagaimana tradisi mereka sebelumnya.

Satu hal menakjubkan soal bagaimana Nabi mengajarkan permintaan izin bisa kita lihat setelah pulang beliau dari bagian peperangan. Kayak gitu iring-iringan mendekati batas kota Madinah, Nabi memerintahkan segenap pasukan berhenti sejenak. Lalu diutuslah seseorang menemui istri-istri beliau guna menyampaikan berita kedatangan dengan maksud supaya mereka sungguh-sungguh siap memberikan penyambutan.

Rasulullah bersabda, “Kalau kau lama meninggalkan rumah jangan sampai pulang malam. Tapi bila terpaksa, hendaknya kita tak langsung masuk sebelum istri bersolek dan menyisir rambutnya yang kusut.”

Kalau nabi masuk menuju keluarganya beliau mengucap salam. Wajahnya berseri dan selalu tersenyum. Beliau menekankan perlunya hal tersebut. Beliau bersabda, “Kalau kau masuk menuju keluargamu, Ucapkan salam niscaya kau dan seluruh keluargamu bakal berkah.”

Sebagaimana Nabi berharap terciptanya tenang dan kondusif dalam rumah tangga, tiap muslim. Kayak gitu pun beliau berharap tak adanya faktor luar yang mengganggu suasana tersebut dan mengotori hati. Para sahabat juga meniru bentuk tata krama yang dicontohkan Nabi. Saban info yang mereka ketahui melalui istri-istri beliau langsung mereka praktikkan.

Di antara sifat rumah tangga Nabi yang lain ialah menjaga kehormatan seluruh yang terjadi di rumah beliau tidak lepas dari sifat ini. Sekecil apapun hal yang dicurigai bakal merusak kehormatan, pasti nabi hindari. Suatu hari beliau masuk menuju biliknya. Di dalamnya, selain dua orang istri beliau dengan busana santai, terdapat pun Ibnu Ummi Maktum. Menyaksikan hal itu beliau marah.

Istri Nabi berkata, “Wahai Rasulullah, dia ini buta.”

“Apakah kalian pun buta?” Nabi menyembunyikan rasa jengkelnya. Beliau tak suka ada laki-laki asing yang berkepentingan berada di tempat yang terbaik di sana meski ia cuma seorang buta.

waria bernama Hit masuk bilik Ummu Salamah. Kayak gitu menguping berita itu, nabi berkata, “Abdullah bin Umayyah, jika Allah berkenan menaklukkan Thaif, kutunjukkan seorang waria. Iya berkemaluan 4 dan berdubur 8.” Nabi di sini hendak menjelaskan bahwa ia menyimpan hal busuk dan berpengaruh buruk terhadap orang lain. Sebab itu beliau lalu berkata terhadap istri-istrinya, “Jangan biarkan mereka masuk menuju bilik kalian di rumah.”

Dalam segala hal Nabi selalu menghiasi diri dengan tata krama yang disusun sejalan dengan konsep kesehatan jasmani dan rohani. Nabi tidak pernah makan sambil bertelekan tetapi senantiasa duduk lurus. Kayak gitu rasa lapar hilang, beliau segera berhenti. Beliau mengajari sahabat, “Kalau kalian makan, sebutlah nama Allah yang Maha Tinggi. Nabi mencegah keluarganya meniup makanan atau minuman yang panas, tidak pernah mencela makanan. Kalau dilike beliau makan. Kalau tak beliau tinggalkan.

Beliau pun mengajari keluarganya kebersihan. Jika bersin beliau menutup mulut dengan tangan atau baju biar tak mengganggu yang lain. Ketika bakal berangkat bermalam Rasulullah berwudhu terlebih dahulu lalu mengipas alas tidurnya dengan ujung sarung. Rasulullah memulai tiap pekerjaan dengan tangan atau kaki sebelah kanan bagaikan makan, minum, berwudhu, berpakaian dan berjalan. Sedangkan saat masuk kamar kecil beliau mempergunakan yang kiri.

Rumah tangga Nabi Muhammad berhias adab, menjaga dan mensyukuri nikmat. Beliau mengarahkan seluruh istrinya guna menghormati dan menghargai dengan sungguh-sungguh. Saban istri Nabi memperoleh pelajaran tata krama dari beliau sendiri di bawah bimbingan dan asuhan beliau. Mereka tak mempertunjukkan perbincangan kecuali yang bagus.

Setelah melangsungkan pernikahan dengan Zainab binti Jahsy, Rasulullah lalu mengunjungi kamar Aisyah lalu Rasulullah berkeliling menuju bilik istri-istri beliau. Kehidupan keluarga Nabi berjalan mulus. Tidak ada ketegangan antara Nabi dan seluruh istri beliau. Mereka memperlakukan Nabi secara manusiawi dalam segala hal. Ini menandakan bahwa Nabi ialah seorang insan, kecuali ketika nabi menerima wahyu. Dalam situasi itu beliau sungguh-sungguh menyatukan diri.

Bagian bukti insaniyah Nabi ialah mencintai istri-istrinya. Kadang di depan beliau mereka adu mulut dan berteriak-teriak kecil tetapi tentu saja hal itu dilaksanakan dengan bagus tak keluar dari batas kesopanan.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Umar pernah masuk menuju rumah beliau kebetulan banyak istri beliau sedang terlibat adu mulut seperti itu menyaksikan Umar datang mereka sontak berhenti dengan heran. Umar berkata,

“Kalian takut kepadaku tetapi tak takut pada Rasulullah Saw.

*selengkapnya, klik di sini

Cerita Ini Bakal Membuatmu Kian Cinta terhadap Rasulullah

link

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker