Cerita Ibrahim bin Adham Bertaubat Gara-gara Burung Gagak

Kisah Ibrahim bin Adham Bertaubat Gara-gara Burung Gagak

Cerita Ibrahim bin Adham Bertaubat Gara-gara Burung Gagak

Sebelum jadi seorang sufi, Ibrahim bin Adham yang membikin dirinya bertaubat. Dalam sebuah cerita disebutkan Ibrahim tengah memancing sebuah dangau. Ia membentangkan tikarnya dan mengeluarkan bekal yang dibawanya. Bersiaplah Ibrahim untuk makan. 1 persatu bekal tersebut diletakkan di atas tikar.

Waktu ingin makan, Ibrahim kaget. Sampai-tiba ada seekor burung gagak yang lantas mengambil roti di tempat makannya. Dengan paruhnya burung gagak tadi membawa terbang rotinya. Pelan-pelan naik keatas dan terbang. Ibrahimpun mendongak dan matanya ikut arah burung gagak itu terbang.

Sekejap lantas, Ibrahim mengambil kudanya dan mengejar burung tersebut. Burung itu terbang menyebrangi bukit dan Ibrahim terus mengejarnya. Sampai lantas burung tersebut kelihatan terang di hadapanya. Ibrahimpun mendekat, tetapi burung tersebut terbang lagi. hingga akhirnya burung tersebut berhenti dan betapa kagetnya Ibrahim.

Di depannya tampak seorang laki-laki yang tengah terikat. Burung itu menaruh rotinya di depan pria tersebut. Ibrahim Adham kemudian turun dari kudanya. Lalu didekati laki-laki yang erikat tersebut dan menanyakan ikhwalnya mengapa diikat ke-2 tangannya.

Orang tersebut lantas berkata, “Saya ialah pedagang. Waktu melintas di sini Mendadak datanglah serombongan perampok yang mengambul hartaku. Mereka menyiksaku dan mengikatku di sini sampai seminggu. Burung gagak itulah yang senantiasa Hadir kepadaku membawakan makanan. Burung gagak itu bertengger di dadaku dan dengan paruhnya mengurai makanan yang dibawanya. Ia menyuapiku kerat untuk kerat ke mulutku. Allah tidak membiarkanku dalam keadan lapar.”

Menguping cerita orang tersebut, Ibrahimpun melompat ke kudanya dan kembali ke tempat awalnya. Ia lantas bersujud memohon ampunan Allah SWT. Baju kebesarannyapun di tinggalkan. Ia menggantinya dengan baju yang lebih murah. Tidak cuma itu hamba sahayanya dimerdekakan. Harta miliknyapun ditinggal. Lalu dipungutnya sebilah tongkat. Ibrahim berjalan kaki ke Mekah tanpa bekal sedikutpun dan kendaraan.

Anehnya Ibrahim sama sekali tidak pernah merasa lapar, sampai akhirnya sampai di Mekah. Ia bersyukur ke Allah dan memuji-muji tiada habisnya, seraya menirukan ayat Al Qur’an, “Sesiapa saja tawakal ke Allah SWT, Allah itulah cukup bagi dia. Allah sungghuh akan menyampaikan kepentingannya. Untuk tiap sesuatu Allah sudah menciptakan kadar masing-masing.”

Wallahu A’lam.

IslamiDotCo by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.