Fikih Islam

Cara Menggelar Resepsi Pernikahan yang Ideal Menurut Islam

Jasa Web Alhadiy

Tidak Memaksakan Diri Mengadakan Resepsi Pernikahan di Luar Batas Kemampuan

Ada yang menggelar resepsi pernikahan secara sederhana di rumah dan ada pula yang melakukan resepsi pernikahan di gedung mewah, bahkan hingga di hotel berbitang lima yang menghabiskan dana sampai puluhan miliar rupiah.

Resepsi pernikahan atau walimah perkawianan merupakan tradisi yang telah diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya. Perintah untuk menggelar waliwah saat pernikahan disampaikan Nabi Muhammad SAW ketika putrinya, Fatimah RA dipinang Ali bin Abi Thalib RA. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pada perkawinan harus diadakan walimah”.

Di era akhir zaman ini, resepsi pernikahan digelar ummat Islam dengan beragam cara. Ada yang menggelar resepsi pernikahan secara sederhana di rumah dan ada pula yang melaksanakan resepsi pernikahan di gedung mewah, bahkan hingga di hotel berbitang lima yang menghabiskan dana sampai puluhan miliar rupiah.

 

 

Agar sebuah walimah perkawinan atau resepsi pernikahan tak terjatuh ke dalam perkara yang munkar, ajaran Islam telah menetapkan cara yang santun dalam menyelenggarakan walimah atau resepsi pernikahan. Syekh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam Mausuu’atul Aadaab al-Islaamiyyah, mengungkapkan, adab atau tata cara walimah atau resepsi pernikahan berdasarkan syariat Islam.

Pertama, kata Syekh as-Sayyid Nada, hendaknya sebuah walimah diselenggarakan dengan niat yang benar. “Niatkan walimah itu sebagai sunah Rasulullah SAW dan memberi makan orang-orang,” tutur nya. Sesuatu yang diniatkan dengan baik akan menjadi amal saleh. Sehingga, harta yang dibelanjakan dan waktu yang diluangkan akan diganti dengan pahala.

Kedua, membuat dan menyediakan hidangan yang sesuai dengan kemampuan. Menurut Syekh as Sayyid Nada, seoarng tuan rumah tak perlu memberatkan diri di luar batas kemampuannya untuk menyediakan hidangan bagi para undangan. Kesederhanaan dalam menyelenggarakan walimah telah dicontohkan Rasulullah SAW.

Ketika memiliki rezeki, Rasulullah SAW menyembelih kambing sebagai sumber hidangan. Namun, saat tak memiliki apa-apa, resepsi pernikahan pun digelar sesuai kemampuan. Semua contoh berwalimah sesuai kemampuan itu dijelaskan dalam hadis.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW mengadakan walimah untuk Zainab, yang tidak pernah diadakan untuk istri-istri beliau lainnya, dan beliau menyembelih seekor kambing.” Namun, saat mengadakan resepsi pernikahan dengan Shafiyyah binti Huyay RA, Rasulullah SAW tak menyembelih apapun. Menurut Anas RA, Nabi SAW pernah menginap tiga hari di suatu tempat antara Khabir dan Madinah untuk menyelenggarakan perkawinan dengan Shafiyah.

Rasulullah SAW lalu mengundang kaum Muslimin untuk menghadiri walimahnya. Dalam resepsi pernikahan itu para undangan tak disuguhi roti maupun daging. Hidangan yang disajikan bagi para tamu undangan hanyalah kurma kering, gandum dan minyak samin. Hal ini dijarkan Rasullah untuk menghindarkan umat Islam terjerat dari utang, karena memaksakan diri mengadakan resepsi pernikahan atau walimah di luar batas kemampuan.

Ketiga, seorang Muslim yang mengadakan resepsi pernikahan hendaknya mengundang karib kerabat, tetangga dan rekan-rekan seagama. Menurut Syekh as-Sayyid Nada, mengundang karib kerabat dalam acara walimah akan mempererat tali silaturahim. Sedangkan, mengundang tetangga dapat mendatangkan kebaikan. “Selain itu, mengundang rekan-rekan seagama akan melanggengkan kasih sayang dan menambah rasa cinta,” papar ulama terkemuka itu.

Keempat, Rasulullah SAW mengingatkan agar seorang Muslim tak hanya mengundang orang-orang kaya saja. Nabi menekankan agar saat walimah orang miskin pun harus diundang. Syekh as-Sayyid Nada, menuturkan, meninggalkan atau melupakan orang miskin dari sebuah walimah bukanlah ajaran Islam. Mengabaikan orang-orang miskin, kata dia, dapat mematahkan hati mereka. Sehingga, mereka yang mengadakan resepsi pernikahan namun mengabaikan orang miskin dicap Islam sebagai orang-orang yang sombong.

Bahkan, hidangan resepsi pernikahan yang mengabaikan orang fakir dan miskin disebut Nabi SAW sebagai makanan paling buruk. Rasulullah SAW bersabda, “Seburuk-buruknya hidangan adalah makanan walimah, yang diundang untuk menghadirinya hanyalah orang-orang kaya, sedangkan orang-orang fakir tidak diundang…” (HR Bukhari-Muslim).

Kelima, Rasulullah mengajarkan agar sebuah acara resepsi pernikahan tak diselenggarakan secara berlebih-lebihan. Dalam Alquran surat al-A’raaf, Allah SWT berfirman, “… Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Saat ini, kata Syekh as-Sayyid Nada, begitu banyak orang yang menggelar walimah secara berlebih-lebihan.

Bahkan ada yang menggelar resepsi pernikahan sampai menghabiskan uang berpuluh bahkan ratusan miliar rupiah. “Berbangga-bangga dan pamer di hadapan manusia untuk menjaga kedudukan dan gengsi, merupakan bentuk mengkufuri nikmat Allah SWT,” paparnya. Alangkah baiknya, jika kelebihan itu diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Keenam, sebuah acara resepsi pernikahan tak boleh berisi perkara munkar. Menurut dia, jika undangan sebuah resepsi pernikahan berisi perkara-perkara munkar, maka wajib bagi yang diundang untuk tidak menghadirinya.

Ketujuh, wajib mendatangi undangan resepsi pernikahan bagi yang diundang. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian diundang ke walimah, hendaklah ia mendatanginya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Begitulah, Islam mengajarkan cara menyelenggarakan walimah atau resepsi pernikahan.

Jasa Web Alhadiy

Related Articles

One Comment

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: