Inspirasi Islam

Cara Dakwah Efektif dan Canda Kematian Ustadz Aswaja

Pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal ra saat diutus berdakwah ke Yaman. “Yassiruu wa laa tu’assiruu, farrihuu wa laa tunaffiruu.” (Mudahkanlah mereka jangan engkau persulit (dalam dakwahmu), gembirakanlah mereka jangan membua mereka berlari).

Inilah Cara Dakwah dan Canda Kematian Ustadz Aswaja. Canda kematian yang menjadi nasehat tepat mengena di hati. Berawal dari hikmah candaan yang berbuah sebagai sebuah nasehat bagi sebagian warga yang berkesinambungan sampai saat ini.

Kisah nyata yang ingin diceritakan ini tidak ada maksud dan tujuan lain kecuali berharap kiranya Allah Ta’ala membukakan pintu hati kita untuk menerima petunjuk Allah darimana saja datangnya. Meskipun hidayah tersebut kita dapatkan dari sekedar canda kematian.

Kisah nyata yang singkat ini adalah kisah pribadi ustadz Aswaja dalam menjalani profesinya di tengah-tengah masyarakat.

Ustadz Aswaja ini bernama Asimun Mas’ud kelahiran Pati Jawa Tengah, usia kini hampir kepala lima dan tinggal di Bambu Apus Kec. Cipayung Jakarta Timur. Sejak sekitar tahun 2000 dia mendapatkan amanah dari pihak Kel. Bambu Apus untuk menggantikan seorang Amil Jenazah yang meninggal dunia menjadi petugas yang mengurus pemulasaraan mulai dari memandikan, mengkafankan, menshalatkan jenazah sampai selesai pemakaman.

Meski sebelumnya dan sampai saat ini keahlian dan ilmu yang dia miliki adalah menjadi fasilitator pelatihan pemulasaraan jenazah umum (tidak berpenyakit menular) maupun khusus beresiko (berpenyakit menular) yang didapatkannya dari Departemen Agama pada saat itu (secara syari’at agama) dan Rumah Sakit Islam YARSI (secara medis).

Dengan berjalannya waktu yang mengawali kisah ini adalah kebiasaan masyarakat pada waktu itu masih menyukai perjudian. Bahkan setiap saat di berbagai tempat ada permainan pertaruhan nasib melalui judi. Pagi, siang, malam bahkan pada saat orang sedang kena musibah kematian pun ramai dengan arena judi dengan alasan menemani shohibul musibah biar tidak kesepian.

Anehnya ketika mau mengundang acara doa kematian untuk mengundang warga bukan dari rumah ke rumah tetapi cukup datang di mana masyarakat berkumpul yang tidak lain adalah di tempat perjudian.

Terkait canda kematian tersebut, suatu saat ustadz Asimun bertemu dengan seorang Ketua RT di wilayah RW 03 Kel. Bambu Apus. si Ketua RT bercerita dengan setengah bercanda kepada ustadz Asimun.

“Ustadz, kemarin orang-orang yang pada judi di dekat rumah itu saya ingatkan dan saya takut-takuti kalau ada polisi. Tapi mereka tidak takut malahan mereka menjawab kalau polisinya tidak akan menangkapnya karena sudah saling kenal. Tetapi ketika saya bilang nanti saya panggilkan Pak Ustadz Asimun, justru mereka menjawab serentak, ‘wah kalau dipanggilkan Pak Ustadz Asimun kita baru takut. Berarti kita mau dimandiin’.” Tutur Pak RT sambil tersenyum.

“Ah, Pak RT ada-ada saja,” Jawab ustadz Asimun

Singkat cerita, suatu saat saat ustadz Asimun mau mengurus jenazah di wilayah Pak RT tersebut. Di sana berkumpul warga yang beberapa waktu sebelumnya ditegur Pak RT, dan kebetulan saat itu di saat ustadz Asimun berada di hadapan mereka tiba-tiba Pak RT berkata, “Pak Ustadz, ini orang-orang yang gak takut polisi tapi takut sama Bapak.”

Ustadz Aswaja bertanya kepada mereka, “Kenapa bapak-bapak takut sama saya dan tidak takut aparat?” Di antara mereka ada yang menjawab, “Karena kalau Pak RT manggil Pak Ustadz berarti saya meninggal minta diurus dan dimandikan.”

“Oh, ternyata mereka takut mati juga ya.” Kata ustadz Asimun dalam hati.

Kemudian ustadz Asimun spontan berkata kepada semua ta’ziyyin (para pelayat) dengan bermaksud bercanda. “Bapak-bapak semua, sudah seharusnya jika di wilayah Bambu Apus khususnya di RW 03 ini saya lah orang yang layak ditakuti. Karena 99% orang yang saya mandikan itu pasti meninggal dunia.”

Mendengar ucapan ustadz Aswaja itu suasana hening di tempat musibah, meski masih ada terdengar suara tawa oleh ta’ziyyin.

“Dan ketahuilah bapak-bapak semua, saya selaku amil jenazah adalah salah seorang yang bisa menghantarkan bapak-bapak dapat nikmat kubur atau siksa kubur, masuk neraka atau masuk surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Lanjut ustadz Asimun dengan sedikit serius. Di sinilah suasana yang sebelumnya ada tawa beralih hening seketika.

Kemudian ustadz Aswaja itu menjelaskan, “Ketahuilah bapak-bapak semua, siksa dan nikmat kubur, neraka dan surganya Allah itu akan didapatkan di saat seseorang selesai saya sucikan, kafankan, shalatkan dan kuburkan. Makanya yang harus ditakuti itu bukan saya tetapi kematian. Dan ada yang harus lebih ditakuti Dzat yang menghidupkan dan mematikan yaitu Allah Ta’ala. Oleh karena itu kita wajib takut kepada Allah dan ta’at kepada-Nya.”

Canda Kematian yang Menyadarkan

Mulai sejak saat itu lah setiap ada warga yang meninggal dan saya datang ada saja sapaan candaan dari warga. “Alhamdulillah orang yang paling ditakuti sudah datang.”

Biidznillah wa syukrulillah mulai saat itu pula sedikit demi sedikit perjudian mulai ditinggalkan warga masyarakat di wilayah Kel. Bambu Apus khususnya RW 03 sampai saat ini. Kalau pun masih ada yang bermain judi, itu dilakukan di tempat yang hanya mereka yang mengetahui dan tidak di tempat umum.

Demikianlah kisah singkat canda kematian yang mengandung nasehat. Semoga bisa menginspirasi dan memotivasi kita dalam berdakwah. Ternyata penyampaian dakwah tidak harus selalu melalui metode tertentu yang rumit. Tetapi cukup dengan strategi sederhana dan menyesuaikan kultur masyarakat setempat hasilnya akan lebih maksimal.

Ingat ‘rumus’ dalam berdakwah, “Masyarakat kurang merespon dan tidak menerima dakwah kita bukan karena sulit dan beratnya ajaran yang kita sampaikan. Bisa jadi karena cara kita menyampaikannya yang salah dan kurang tepat.”

Pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal ra saat diutus berdakwah ke Yaman. “Yassiruu wa laa tu’assiruu, farrihuu wa laa tunaffiruu.” (Mudahkanlah mereka jangan engkau persulit (dalam dakwahmu), gembirakanlah mereka jangan membua mereka berlari).

Mohon maaf jika ada kesalahan dan semoga bermanfa’at. Aamiin

CANDA YANG MENJADI NASEHATBerawal dari hikmah candaan yang berbuah sebagai sebuah nasehat bagi sebagian warga yang…

Dikirim oleh Asimun Ibnu Mas'ud pada 20 Desember 2017

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close