Cara Dakwah Efektif dan Canda Kematian Ustadz Aswaja

Inilah Cara Dakwah dan Canda Kematian Ustadz Aswaja. Canda kematian yang jadi nasehat tepat mengena di hati. Berawal dari hikmah candaan yang berbuah selaku sebuah nasehat bagi sebagian penduduk yang berkesinambungan sampai waktu ini.
Cerita nyata yang ingin diceritakan ini tak ada maksud dan target lain kecuali menginginkan kiranya Allah Ta’ala membukakan pintu hati kita untuk menerima petunjuk Allah darimana saja datangnya. Walaupun hidayah tersebut kita dapatkan dari sekedar canda kematian.
Cerita nyata yang singkat ini ialah cerita pribadi ustadz Aswaja dalam menjalani profesinya di tengah-tengah warga.
Ustadz Aswaja ini bernama Asimun Mas’ud kelahiran Pati Jawa Tengah, usia Saat ini hampir kepala lima dan tinggal di Bambu Apus Kec. Cipayung Jaktim. Semenjak kisaran tahun 2000 dia memperoleh amanah dari pihak Kel. Bambu Apus untuk menggantikan seorang Amil mayat yang meninggal dunia jadi petugas yang mengurus pemulasaraan mulai dari memandikan, mengkafankan, menshalatkan jenazah sampai selesai pemakaman.
walau sebelumnya dan sampai waktu ini keahlian dan ilmu yang dia miliki ialah jadi fasilitator pelatihan pemulasaraan jenazah umum (tak berpenyakit menular) maupun spesial beresiko (berpenyakit menular) yang didapatkannya dari Departemen Agama pada waktu itu (secara syari’at agama) dan Rumah Sakit Islam YARSI (secara medis).
Dengan berjalannya waktu yang mengawali cerita ini ialah kebiasaan warga pada waktu itu masih menyukai perjudian. Bahkan tiap-tiap waktu di berbagai tempat ada permainan pertaruhan nasib melalui judi. Pagi, siang, malam bahkan pada waktu orang sedang kena musibah kematian pun ramai dengan arena judi dengan alasan menemani shohibul musibah biar tak kesepian.
Anehnya waktu mau mengundang acara doa kematian untuk mengundang penduduk bukan dari rumah ke rumah tetapi cukup datang di mana warga berkumpul yang tak lain ialah di tempat perjudian.
Terkait canda kematian tersebut, suatu waktu ustadz Asimun berjumpa dengan seorang Ketua RT di wilayah RW 03 Kel. Bambu Apus. si Ketua RT bercerita dengan setengah bercanda kpd ustadz Asimun.
“Ustadz, kemarin orang-orang yang pada judi di dekat rumah itu saya ingatkan dan saya takut-takuti jika ada polisi. Namun mereka tak takut malahan mereka menjawab jika polisinya tak akan menangkapnya sebab telah saling kenal. Tetapi waktu saya bilang nanti saya panggilkan Pak Ustadz Asimun, bahkan mereka menjawab serentak, ‘wah jika dipanggilkan Pak Ustadz Asimun kita baru takut. Artinya kita mau dimandiin’.” Tutur Pak RT sambil tersenyum.
“Ah, Pak RT ada-ada saja,” Jawab ustadz Asimun
Singkat cerita, suatu waktu waktu ustadz Asimun mau mengurus jenazah di wilayah Pak RT tersebut. Di sana berkumpul penduduk yang beberapa waktu sebelumnya ditegur Pak RT, dan kebetulan waktu itu di waktu ustadz Asimun berada di depan mereka tiba-tiba Pak RT berkata, “Pak Ustadz, ini orang-orang yang gak takut polisi tapi takut sama Bapak.”
Ustadz Aswaja menanyakan kpd mereka, “Kenapa bapak-bapak takut sama saya dan tak takut aparat?” Di antara mereka ada yang menjawab, “Sebab jika Pak RT manggil Pak Ustadz artinya saya meninggal minta diurus dan dimandikan.”
“Oh, ternyata mereka takut mati juga ya.” Kata ustadz Asimun dalam hati.
Lalu ustadz Asimun spontan berkata kpd seluruh ta’ziyyin (para pelayat) dengan bermaksud bercanda. “Bapak-bapak seluruh, telah semestinya kalau di wilayah Bambu Apus khususnya di RW 03 ini saya lah orang yang layak ditakuti. Sebab 99% orang yang saya mandikan itu pasti meninggal dunia.”
Menguping ucapan ustadz Aswaja itu suasana hening di tempat musibah, meski masih ada terdengar suara tawa oleh ta’ziyyin.
“Dan ketahuilah bapak-bapak seluruh, saya selaku amil jenazah ialah salah seorang yang dapat menghantarkan bapak-bapak dapat nikmat kubur atau siksa kubur, masuk neraka atau masuk surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Lanjut ustadz Asimun dengan tidak banyak serius. Di sinilah suasana yang sebelumnya ada tawa beralih hening seketika.
Lalu ustadz Aswaja itu menerangkan, “Ketahuilah bapak-bapak seluruh, siksa dan nikmat kubur, neraka dan surganya Allah itu akan didapatkan di waktu seseorang selesai saya sucikan, kafankan, shalatkan dan kuburkan. Makanya yang wajib ditakuti itu bukan saya tetapi kematian. Dan ada yang wajib lebih ditakuti Dzat yang menghidupkan dan mematikan yaitu Allah Ta’ala. Oleh sebab itu kita wajib takut kpd Allah dan ta’at kepada-Nya.”

Canda Kematian yang Menyadarkan

Mulai semenjak waktu itu lah tiap-tiap ada penduduk yang meninggal dan saya datang ada saja sapaan candaan dari penduduk. “Alhamdulillah orang yang paling ditakuti telah datang.”
Biidznillah wa syukrulillah mulai waktu itu pula tidak banyak untuk tidak banyak perjudian mulai ditinggalkan penduduk warga di wilayah Kel. Bambu Apus khususnya RW 03 sampai waktu ini. Jikalau pun masih ada yang bermain judi, itu ditunaikan di tempat yang cuma mereka yang mengetahui dan tak di tempat umum.
Demikianlah cerita singkat canda kematian yang mengandung nasehat. Semoga dapat menginspirasi dan memotivasi kita dalam berdakwah. Ternyata penyampaian dakwah tak wajib senantiasa melalui metode tertentu yang rumit. Tetapi cukup dengan strategi sederhana dan menyesuaikan kultur warga setempat hasilnya akan lebih maksimal.
Ingat ‘rumus’ dalam berdakwah, “Masarakat kurang merespon dan tak menerima dakwah kita bukan sebab sulit dan beratnya ajaran yang kita sampaikan. Sanggup jadi sebab cara kita menyampaikannya yang salah dan kurang tepat.”
Pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kpd Mu’adz bin Jabal ra waktu diutus berdakwah ke Yaman. “Yassiruu wa laa tu’assiruu, farrihuu wa laa tunaffiruu.” (Mudahkanlah mereka jangan engkau persulit (dalam dakwahmu), gembirakanlah mereka jangan membua mereka berlari).
Mohon maaf kalau ada kekhilafan dan semoga bermanfa’at. Aamiin

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :