Cara Busuk HTI untuk Rusak Hari Santri di Garut

Pesantren Lirboyo: Begini Hukum Membakar Bendera yang Ada Kalimat Tauhidnya

Cara Busuk HTI untuk Rusak Hari Santri di Garut

Unjuk rasa pengikut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Jakarta beberapa waktu silam. Organisasi itu sekarang telah dicegah pemerintah. (Photo :
VIVA/ Muhamad Solihin)

Cara-cara licik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terkait insiden pembakaran bendera oleh Banser akhirnya terbongkar.

menurut info yang didapatkan bahwa skenario menyusupkan bendera HTI ke dalam acara Hari Santri Nasional di Garut tersebut sengaja di setting semenjak awal.

Padahal, sebelum acara berlangsung para stakeholder yang di wakili Camat, Kapolsek, Danramil, dan Figur publik masarakat BL Limbangan sudah setuju supaya pada penyelenggaraan upacara memperingati hari Hari Santri itu dicegah keras membawa bendera apapun waktu penyelenggaraan upacara dan acara berlangsung. Cuma diizinkan Bendera Merah Putih selaku lambang negara Indonesia.

Akan tetapi, pada waktu penyelenggaraan upacara, seketika ada salah seorang dengan mengacungkan bendera yang Adalah simbol ormas yang dicegah bahkan telah dibubarkan oleh pemerintah. Bahkan ternyata, kejadian pengacungan bendera tersebut bukan cuma di BL Limbangan tetapi ditunaikan juga oleh seseorang di Alun-alun garut dengan waktu dan aktifitas yang sama.

Ternyata skenario untuk menciptakan suasana tidak kondusif itu telah disiapkan semenjak awal oleh HTI.

Bahkan, pembawa bendera HTI yang mengklaim dari Kecamatan Cibatu itu telah diarahkan atau diperintahkan oleh bagian ormas terlarang untuk ditugaskan ke Tasik dan sebelumnya singgah di Alun-Alun BL. Limbangan untuk melaksanakan pengecekan di lapangan terkait perayaan Hari Santri Nasional.

“Apakah ramai atau tidak acara di Limbangan,” kata pesuruh tersebut.

Sebab acara di BL. Limbangan itu kelihatan amat ramai dan akhirnya pelaku melaksanakan niatnya di acara Upacara warning HSN dan ingin merusaknya.

Loading...
loading...

Sangkaan unsur kesengajaan yang digerakkan oleh ormas terlarang secara sistematis soal insiden Limbangan akhirnya jelas benderang.

sebelum ini, permainan propaganda penyebaran fitnah oleh HTI dan pendukungnya yang menuding pemerintah Indonesia mencegah bendera tauhid telah dimainkan terlebih dulu. Bahkan, mereka memainkan narasi dan mendoktrin seakan-akan pemerintahanan ini anti-tauhid.

Mampu dipastikan info itu ialah berita tidak benar. Pemerintahan Presiden Joko Widodo sendiri sampai sekarang tidak pernah memerangi kalimat tauhid, melainkan pihak yang kerap menyalahgunakan kalimat itu untuk maksud politiknya.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Gus Ali Gondrong dalam ceramahnya. Pimpinan Mafia Shalawat itu menerangkan bahwasanya sampai sekarang Pemerintah Indonesia tidak pernah mencegah kalimat Tauhid. Melainkan mencegah HTI yang kerap mengakui bendera tauhid itu selaku simbolnya.

“Jadi, yang dicegah itu ialah HTI-nya. Bukan kalimat Tauhidnya. Masalahnya sekarang organisasi terlarang itu kerap mempergunakan simbol-simbol tauhid, sehingga seakan pemerintahan anti kepada kalimat kesaksian Allah dan Muhammad itu,” kata Gus Ali.

Kata dia, beberapa organisasi yang juga mempergunakan kalimat tauhid selaku benderanya.

“ISIS yang hobi memotong kepala manusia itu pun juga mempergunakan atribut tauhid,” katanya.

“Bila kita mencegah ISIS, kemudian bukan artinya kita anti kepada simbol tauhid yang digunakannya. Oleh sebab itu, kita jangan sampai salah paham,” tambah dia.

Gus Ali meneruskan bahwa organisasi HTI sendiri sudah dicegah oleh pemerintah Indonesia sebab pahamnya bertentangan dengan Pancasila. Mereka ialah golongan pengkhianat bangsa yang berlindung di balik tulisan tauhid.

“Kita menginginkan masarakat sanggup bijak menyikapi polemik di media sosial terkait pengakuan pelarangan kalimat tauhid ini. Tidak Penting kita mudah terprovokasi dengan info yang sesat seperti itu,” sebutnya.

“Karena kubu HTI ini sungguh ingin memecah belah masarakat dan pemerintah dengan isu dan sentimen agama. Awas jangan terprovokasi fitnah dari HTI,” pungkasnya.

(eramuslimin.com/ suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :