Islam Institute, Aceh–Menurut sejumlah laporan, FPI melaksanakan razia sejumlah kafe yang dinilai sudah dipakai selaku tempat berdua-duaan di wilayah Pantai Wisata Seunangan, Kecamatan Kuala Pesisir, Sabtu (22/12) sore.
Dalam aksi tersebut mereka memotong ujung celana 3 remaja
sebab dianggap tidak Islami dan juga memaksa sejumlah laki-laki menundukkan
kepala ke tanah. Di Aceh, penerapan hukum syariat semestinya dikerjakan oleh
polisi syariah atau Wilayatul Hisbah.
Sejumlah masyarakat di Kabupaten Nagan Raya mengklaim tidak suka
dengan aksi FPI yang sewenang-wenang itu. Susi Riyanti, menjelaskan tindakan
yang dikerjakan oleh member FPI kurang beradab.
“Kejadian ini tidak beradab, masih banyak cara lain
untuk memberi advis, jangan dengan cara-cara yang tidak beretika yang terjadi,
seluruh orang juga punya salah,” kata Susi Riyanti, masyarakat Nagan Raya, ke
awak media di Aceh, Hidayatullah, yang mengabarkan untuk BBC News Indonesia, Senin
(24/12).

 

Hal senada juga dikatakan oleh Samsul Bahri, menurut dia
tindakan yang dikerjakan oleh FPI di daerahnya berlebihan kasar, padahal biasanya
Satpol PP & Wilayatuh Hisbah cuma memberikan arahan dan
teguran.”Kejadian kemarin berlebihan kasar, padahal itu tugas Satpol PP dan
Wilayatuh Hisbah, mereka saja cuma ngasih arahan jikalau ada yang menabrak
syariat,” tegas Samsul Bahri, masyarakat Nagan Raya.
Di media sosial, sejumlah user juga mempersoalkan
kewenangan FPI untuk melaksanakan razia. “Tidak ada wewenangnya, salah
kaprah,” kata Ruslan di Facebook.
Lainnya menyorot pengguntingan celana. “Kok aneh ya,
Syariat Islam kok (yang) memotong celana cewek, (ialah) laki-laki. Mana boleh
itu, bukan muhrim.”
Bupati Nagan Raya, mengklaim baru mengetahui kejadian tersebut
waktu awak media meminta konfirmasi. “Saya tengah di Jakarta dalam beberapa
hari ini, malah ini baru tahu jikalau ada tindakan seperti itu,” kata
Bupati Nagan Raya, Jamin Idham.
Jamin Idham, menjelaskan dirinya telah mengubungi setda dan
humas di pemerintahannya, dan meminta pimpinan FPI untuk menerangkan tindakan
yang sudah dikerjakan.
“Saya tidak pernah menginstruksikan apapun, malah
terkejut jikalau seperti ini, sejauh ini kami baru mengeluarkan imbauan perayaan
tahun baru supaya masarakat tidak beruforia,” tegas Jamin Idham.
Sementara itu, Ketua FPI Nagan Raya, Neldi Isnayanto,
menjelaskan pihaknya telah menegur secara keras tindakan yang dikerjakan oleh
para laskar.
“Ada tujuh orang laskar, telah kita panggil dan kami
menegur mereka kepada apa yang telah mereka lakukan ke remaja,”
terang Neldi Isnayanto.
Neldi meneruskan, FPI tekad bulat melaksanakan sosialisasi
kepada penyelenggaraan syariat islam, supaya diwilayah ini jauh dari maksiat.
Terkait kejadian ini, ia meminta maaf ke semua pihak.
“Saya pastikan ini tidak akan terjadi lagi, kami minta
maaf, mohon jangan dibesar-besarkan lagi,” terang Neldi Isnayanto, Ketua
FPI Nagan Raya.