Bolton dan Trump Ulangi Retorika Usang Kepada Iran di PBB

Bolton dan Trump Ulangi Retorika Usang Terhadap Iran di PBB

Bolton dan Trump Ulangi Retorika Usang Kepada Iran di PBB

WASHINGTON – Beberapa jam sesudah para pemimpin AS dan Iran saling berkampanye di Majelis Umum PBB, Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton menjelaskan pada perjumpaan puncak anti-Iran bahwa Teheran wajib “membayar mahal” kalau menabrak AS atau sekutunya.

“Rezim pembunuh dan pendukungnya akan berhadapan dengan konsekuensi signifikan kalau mereka tidak merubah perilaku mereka. Biarkan pesan saya hari ini jadi terang: Kami mengawasi, dan kami akan Hadir sesudah Anda,” kata Bolton ke KTT UANI (United Against Nuclear Iran) di New York.

“Kalau Anda menabrak kami, sekutu kami, atau mitra kami; kalau Anda membahayakan masyarakat negara kita … akan ada neraka yang wajib dibayar,” kata Bolton.

Bolton menjelaskan AS akan “agresif dan tidak tergoyahkan” saat menyangkut penerapan sanksi kepada Iran. Mereferensi planning Uni Eropa untuk saluran pembayaran Iran, Bolton menuding Brussel kuat pada retorika dan lemah pada Aksi lanjutan. “Kami tidak bermaksud supaya sanksi kami dihindari oleh Eropa atau orang lain,” katanya.

Perjumpaan itu, yang juga dihadiri oleh orang-orang seperti Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Direktur Mossad Yossi Cohen, bukan tanpa insiden. Rekaman muncul dari konferensi yang mempertunjukkan para aktivis gerakan akar rumput Code Pink mengganggu acara tersebut seraya meneriakkan bahwa orang Amerika “berharap perdamaian” dengan Iran.

warning segar ke Iran Hadir sesudah Presiden AS Donald Trump turun ke podium Majelis Umum PBB (UNGA) pada hari Selasa, menyebut Iran selaku “kediktator korup” yang menabur “kekacauan, kematian, dan kehancuran.”

Mereferensi sanksi yang dikenakan pada Iran, Trump menjelaskan bahwa Washington sudah meluncurkan kampanye “intimidasi ekonomi” untuk melarang biaya Teheran yang dibutuhkan untuk memajukan “agenda berdarah.”

“Kami tidak bisa mengizinkan sponsor terorisme terbesar di dunia untuk mempunyai senjata paling berbahaya di planet ini,” kata Presiden AS.

Beberapa jam lantas, giliran Rouhani naik ke panggung. Presiden Iran membidik administrasi Trump, yang mengumumkan bahwa perilakunya dalam urusan internasional ialah “otoriter.”

Rouhani mengkritik keras AS sebab penarikan “tidak resmi” atas Komitmen nuklir Iran, seraya menambahkan bahwa Teheran suka dengan fakta bahwa warga internasional lainnya tidak ikut jejak Washington. “Pemerintah Amerika Serikat, setidaknya pemerintahan waktu ini, tampaknya bertekad untuk membikin seluruh lembaga internasional tidak efektif,” kata Rouhani.

“AS menabrak hukum internasional dengan keluar dari JCPOA dan menginjak-injak resolusi 2231 Dewan Keamanan yang wajib Dilakukan. Tapi kami selama kepentingan Iran di JPCOA dijamin oleh 5 negara lainnya, maka kami akan konsisten dengan Komitmen nuklir,” ungkap Rouhani.

Di Peluang tersebut Rouhani juga menepis laporan tahunan pemerintah AS terkait terorisme dan bahwa Iran di laporan tersebut didakwa selaku penyokong terorisme. “Serbuan teror hari Sabtu lalu di Ahvaz Adalah respon paling pas bagi Amerika bahwa Iran tak sama dengan propaganda besar-besaran Washington dan Tehran Adalah korban terbesar terorisme di wilayah,” pungkas Rouhani. [ARN]


Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.