Bob Woodward: Kushner Diam-Diam Otak aliansi Saudi-Israel

Bob Woodward: Kushner Diam-Diam Otak aliansi Saudi-Israel

Bob Woodward: Kushner Diam-Diam Otak aliansi Saudi-Israel

AMERIKA – Anak Mantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, Ada di balik layar aliansi Israel dan Arab Saudi, jurnalis investigasi Amerika Bob Woodward sudah mengakui dalam buku barunya yang berjudul, “Fear”.

Menurut Woodward, Kushner mendukung planning ini walaupun ada perlawanan dari beberapa pejabat senior Gedung Putih, yaitu Menhan James Mattis, eks Menteri Luar Negeri Rex Tillerson dan Penasihat Keamanan Nasional, H.R. McMaster.

Kushner mulai bekerja pada aliansi Tel Aviv-Riyadh tidak lama sesudah Presiden Trump merebut Gedung Putih pada awal 2017, dengan memperlihatkan bahwa perjalanan luar negeri ke-1 presiden akan meliputi Lawatan ke Arab Saudi dan Israel, tulis jurnalis tersebut.

Woodward mengumumkan bahwa Kushner mempunyai hubungan yang lebih kuat dengan pejabat paling senior di kabinet Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dia menambahkan bahwa Kushner berhadapan dengan tantangan konstan dari pejabat senior AS soal siapa yang wajib jadi pejabat Saudi teratas yang bekerja sama dengannya.

Woodward mecatat bahwa para pejabat senior intelijen AS berharap eks kepala intelijen dan putra mahkota, Mohammed bin Nayef bekerja untuk AS, tetapi Kushner lebih menyukai Mohammed bin Salman.

Kushner “kunci ke Arab Saudi ialah wakil putra mahkota, Mohammad bin Salman yang berumur 31 tahun, dikenal selaku MBS,” Woodward mengabarkan.

“Pesan dari mereka ialah bahwa Kushner sebaiknya berhati-hati,” Woodward mecatat soal saingan Kushner di Gedung Putih. “Laki-laki sejati yang sesungguhnya ialah putra mahkota waktu ini, Mohammed bin Nayef, 57, yang dikenal selaku MBN. Dia ialah keponakan raja yang disingkirkan dengan membongkar keterkaitannya dengan Al-Qaida. Memperlihatkan favoritisme ke MBS yang lebih muda akan menyebabkan gesekan dalam Famili kerajaan,” Woodward menulis.

Loading...
loading...

Woodward mecatat bahwa Tillerson percaya bahwa “pertunangan dengan MBS wajib dikerjakan dengan sebutir garam. AS bisa bekerja keras di puncak, dan pada akhirnya tidak mempunyai apa-apa.”

Pada Juni 2017, bin Salman menggantikan sepupunya, Pangeran Mohammed bin Nayef, selaku orang ke-1 yang sejalan dengan tahta Saudi. Nayef diadukan di bawah tahanan rumah.

Pangeran muda itu lalu meluncurkan kampanye promosi diri yang dimaksudkan untuk mengkonsolidasikan cengkeramannya pada kekuasaan, selaku bagian di mana ratusan bangsawan dan Pebisnis bisnis terkenal ditangkap dan disiksa atas tudingan “korupsi”. Sebagian besar dari mereka lalu dibebaskan di bawah jaminan uang tunai.

Bin Slaman juga mencoba menggambarkan dirinya selaku “reformis” dan mengadvokasi hak-hak wanita dengan memperkenalkan serangkaian Pergantian ekonomi dan sosial.

Di bawah bin Salman, pemimpin de facto Saudi Arabia, sudah menaikkan tawarannya kepada Israel. [ARN]


Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :