Uncategorized

Biografi Nabi Muhammad Saw Versi Sunni, Syiah dan Orientalis

Sejarah Hidup Nabi Muhammad Saw Menurut Sunni, Syiah dan Orientalis

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21)

Di dalam al-Quran disebutkan Nabi Muhammad saw adalah suri tauladan tiada duanya. Tidak mungkin kita mengetahui suri tauladannya jika tidak membaca dan menghayati riwayat kehidupan Nabi Muhammad saw. Berbeda dengan Nabi-nabi yang lain, Nabi saw lahir dalam sorotan sejarah yang terang. Beliau adalah tokoh historis yang eksisstensinya jelas ada. Orang mencatat riwayat hidupnya secara rinci, mulai dari siapa yang membantu kelahirannya, berapa utas uban dihari tuanya, hingga bagaimana dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.[2]

Sudah tak terhitung banyaknya buku-buku yang membahas sejarah Nabi saw. Dari Ibn Ishaq, Ibn Hisyam hingga tulisan sarjana-sarjana di abad modern baik orientalis maupun ilmuwan Muslim. Boleh dibilang kajian sirah Nabawiyah, biografi tentang Nabi terakhir Ini, adalah kajian biografi yang paling banyak dilakukan para ilmuwan.

Dari ilmuwan Muslim misalnya, kajian ilmiah sejarah Nabi dilakukan oleh Muhammad Husain Haykal yang menulis buku Hayat Muhammad. Dr. Abdul Radhi Muhammad, Syekh Akram Dhiya’ Al-Umri, Mustafa as-Sibai, Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuri, Dr. Said Ramadhan al-Buthi, Syauqi Abu Khalil dengan karya Monumentalnya Atlas Siroh an-Nabawiyyah, Abul Hasan Ali An Nadwi dari India, Muhammad bin Alwi al-Maliki, Martin Lings alias Abu Bakar Sirajuddin (w. 2005) hingga Fethullah gulen asal Turki.

Sedangkan di Indonesia, terdapat KH Moenawar Chalil yang menulis Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad (6 jilid), H. Al-Hamid al-Husaini dengan judul ‘Riwayat Kehidupan nabi besar Muhammad’ (yayasan al-Hamidiy, 1991). Buku ini cukup impresif karena sumber-sumber penulisannya tidak menggunakan buku-buku yang ditulis oleh para orientalis sebagai rujukan dalam daftar pustakanya. Hal serupa bisa kita temukan pada karya Martin Lings. Dan yang terbaru adalah karya Quraish shihab ‘Membaca sirah Nabi Muhammad saw’ (Lentera hati, 2011). Selain dalam bentuk buku ilmiah. Ada juga penulis seperti Andy wasis yang menulis buku berjudul ‘Rasul’ dalam format Novel bergenre sejarah.

Dari kalangan orientalis, penulisan sejarah hidup Nabi saw dirintis oleh Thomas Carlyle (1795-1881). Thomas pernah menulis buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Ali Adham dengan judul Al-Abthâl dimana orientalis asal Inggris itu menulis satu pasal tentang Nabi Muhammad saw yang isinya cukup simpatik.[3]Selain Thomas, ada Marshal Hodgson dengan bukunya The Venture of Islam dan tentu saja yang tidak boleh dilupakan adalah Karen Amstrong. Akan tetapi jika kita cermati bersama mengenai karya-karya orientalis tentang sirah Nabi saw, lebih banyak yang ngawur, penuh kebencian dan tendensius ketimbang yang obyektif, memberi penghargaan dan simpatik kepada Nabi saw. Oraeintalis yang penulis maksudkan diantaranya: Philip K. Hitti, William Montgomery Watt, H.A.R. Gibb, William Muir dan Emile Dermenghem. Metodologi orientalis (baca: filologi, deduksi individu, metode kritik sejarah dll) tentu tidak ada ada apa-apanya jika dibandingkan dengan metodologi ilmuwan Muslim yang menggunakan sanad, riwayat, kaidah jarh wa ta’dil dan prinsip periwayatan hadist sebagai alat pengukur kebenaran.

Pakar Sejarah, Prof. Azyumardi Azra berpendapat penulisan sîrah Nabi bukan berasal dari pengaruh tradisi Yahudi, Kristen, atau Persia; justru akar penulisan Sîrah Nabi berasal dari dari ajaran Islam sendiri. Akan tetapi, Nabi tidak pernah menulis atau memerintahkan untuk menulis biografinya sendiri.[4] Meski begitu, penulisan sirah Nabi menduduki urutan kedua setelah penulisan sunnah beliau (baca: hadist Rasulullah). Orang yang pertama memberikan perhatian besar penulisan riwayat hidup nabi dan berbagai peperangan yang diikuti Nabi adalah Urwah bin zubair (93 H), Abban ibn Utsman, Wahab bin Munabih, Syarhabil Ibn Sa’d dan Ibn syihab az-zuhri. Sayangnya, tulisan yang disusun oleh kelima tokoh itu musnah ditelan waktu. Yang sampai ke tangan kita hanyalah fragmen-fragmen kecil yang berserakan di sana sini yang berhasil dihimpun oleh Ibn ishaq walau tak semuanya.[5]

Secara garis besar, kajian sirah Nabawiyyah bisa di bagi menjadi 4 macam, yaitu: sîrah Nabi dengan gaya penulisan versi tradisional, penulisan versi modern, penulisan versi tematik dan versi ringkasannya (Mukhthasar). Versi tradisional mengacu pada pendekatan kronologis yang ditulis secara berurutan dan rinci dimulai dari pra-Islam/Jahillyah, nasab, kelahirannya hingga wafatnya Nabi. Kemudian penulisan sirah nabi versi modern, sebetulnya rujukannya mengacu pada kitab-kitab klasik tetapi ditulis dengan metode ilmiah yang salah satu tujuannya mengcounter karya-karya orientalis yang tidak obyektif. Adapun versi yang tematik, metode penulisannya sama dengan versi tradisional dan modern. Bedanya para ilmuwan yang memilih versi tematik biasanya mengkhususkan pada tema-tema yang sesuai dengan masalah kekinian.[6]

Di era sekarang, terdapat dua versi sirah Nabi yakni versi Sunni dan Syiah. Apa perbedaan diantara keduanya? Kalau kita baca karya-karya seperti Muhammad Husain Haykal, Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuri dan Said Ramadhan al-Buthi, sisi nabi sebagai manusia biasa akan nampak. Maksudnya jika sebagai manusia biasa, beliau pernah merasakan “takut” ketika menerima wahyu, mencuekin orang buta (Ummi maktum). Bahkan soal penyerbukan kurma yang gagal hingga berbuat “khilaf” sehingga oleh Allah swt beliau ditegur. Misalnya Nabi pernah mengharamkan dirinya atas madu. Sumber-sumber referensi yang digunakan sejahrawan sunni diantaranya: al-Qur’an, kitab-kitab hadist, para perawi yang memiliki perhatian besar terhadap sirah Nabi saw.[7]

Terakhir, kita bahas bagaimana versi kalangan Syiah. Ada beberapa yang menulis sejarah nabi diantaranya: Syed Amer Ali, Murtadha Mutahari yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia dengan judul Sirah Sang Nabi. Kemudian ada Ali Syari’ati, Ja’far Subhani dengan bukunya berjudul The Message dan Sayid Ali Asgher Razwy. Dalam versi kalangan Syiah, Sisi nabi sebagai manusia tidak akan dinampakkan. Menurut pandangan mereka Nabi saw itu maksum, bersih dari kesalahan dan sempurna perilakunya.[8]Kalangan syiah referensinya mengacu pada Nahjul balaghah, Kanzul Fawa’id, Biharul anwar,[9]al-Kafi serta dilengkapi dengan referensi dari kalangan Sunni dan orientalis.

Sudah barang tentu mereka akan menonjolkan peranan khalifah Ali bin abi Thalib. Contohnya dalam buku Ali Asgher Razwy, ada sub bab mengenai kelahiran Ali, peranan Ali dalam Perang Uhud dan perang Hunain, kemudian saat detik-detik wafatnya Nabi dan upacara pemakaman Nabi.[10]Kalangan Syiah juga meragukan nabi Muhammad wafat di pangkuan siti Aisyah RA, mereka hanya meyakini beliau wafat dipangkuannya Ali bin Abi thalib.

Mengenai prosesi pemakaman Nabi, Masih menurut versi syiah, ketika Ali dan bani Hasyim sedang sibuk memakamkan nabi, justru Abu bakar, Umar bin Khattab dan beberapa orang lainnya sibuk membicarakan dan saling mengklaim tampuk kekhalifahan.[11]Baik Sejarah versi Syiah maupun orientalis jangan ditelan mentah-mentah, sebagai seorang Muslim kita harus kritis dan bertanya kepada ahlinya supaya tidak tersesat. Wallahu’allam bishowab


Oleh: Fadh Ahmad Arifan[1]

 


[1] Alumni Jurusan Studi Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Malang
[2] Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah: Kurun Makkah, suatu Penafsiran Baru (Jakarta: Tama Publisher, 2005), hal 4
[3] Quraish shihab, Orientalisme, dalam http://www.psq.or.id (diakses pada 29/5/2012 pk 18.05)
[4] Kata Pengantar Azyumardi Azra, dalam buku Versi Terdalam: Kehidupan Rasul Allah Muhammad SAW (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002)
[5] Lihat Mustafa as-Siba’ie, The Life of Prophet Muhammad: Hightlight and Lesson (Riyadh: International Islamic Pblishing House, 2003), hal 33; Said Ramadhan al-Buthi, Fikih Sirah: Hikmah Tersirat Dalam Lintas Sejarah Hidup Rasulullah saw, (Hikmah, 2010), hal 6
[6] Kata pengantar Azyumardi Azra, Op.Cit. hal XII
[7] Said Ramadhan, Fikih Sirah… hal 7
[8] Lihat Ja`far Subhani, The Message (Pakistan: Islamic Seminary Publications, tt)
[9] Biharul anwar adalah kitab terbesar mazhab Syi’ah yang memuat hadits dari kitab-kitab rujukan syiah karya Muhammad Baqir Al Majlisi. Syiah menganggap Majlisi sebagai salah satu ulama yang dihormati dan diagungkan. Dia dianggap sebagai salah satu ulama yang menguasai dan menjaga mazhab syiah.
[10] Tentang Ali sibuk mengurus pemakaman Nabi saw, bisa dibandingkan dengan Barnaby Rogerson, Muhammad Biografi singkat (Yogjakarta: Mitra buku, 2012), hal 273-274
[11] Ali Asgher Razwy, Muhammad Rasulullah saw: Sejarah lengkap Kehidupan dan Perjuangan Nabi Islam Menurut Sejahrawan Timur dan Barat, (Zahrah, 2004), hal. 400
Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close