Biar Kamu Ga Suka Nuduh Bid’ah, Bacalah Kajian Ilmiyah ini

Loading...

Oleh: Ikbal Abdul Aziz

MusliModerat.net – Itu bidah! Ga ada dari Rasulnya mungkin kita sudah tidak asing lagi mendengar statement seperti itu. Memang permasalahan bidah ini sangat rawan menjadi bahan perdebatan alot dikalangan pemuka agama islam (ulama,kyai,ustadz), bahkan tak jarang perbedaan persfektif-interpretasi terhadap bidaah ini menjadi senjata ampuh untuk saling menyerang satu sama lain bahkan sampai pada kondisi dimana seseorang sampai mengkafirkan orang lain. Oleh karena itu problematika bidah ini menjadi salah satu problematika dalam islam yang sangat sangat fatal dan harus segera dicarikan solusi yang tepat untuk mencari titik temu yang dapat mempersatukan perbedaan-perbedaan interpretasi yang dapat memecah belah umat ini.

Tidak dapat dibantahkan bahwa masing-masing argumentasi mempunyai dasar yang jelas, semua berasal dari hadis nabi Muhammad SAW. Namun,perbedaan interpretasi itulah yang menyebabkan terjadi kontradiksi di kalangan umat islam.
Dalam artikel ini saya akan mencoba mengemukakan analisis saya terhadap hadis Nabi yang menjadi penyebab perdebatan di kalangan umat islam yang menyoal tentang bidaah.
A. Pengertian bidah dan klasifikasinya menurut para ulama
Secara etimologi Ibnu Manzhur berkata;bidah berasal dari kata badaa syaian yang bermakna mengawali penciptaan sesuatu. Makna ini selaras dengan firman Allah SWT.
Katakanlah: Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara para Rasul (QS. Al-Ahqaff: 9)
Sedangkan menurut terminologi syari, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan bidaah tersebut.
1. Menurut Imam Syafii, seorang ulama besar dan pendiri madzhan syafii beliau mengategorikan bidaah kedalam dua kategori:

a. Perkara baru yang menyalahi al-Quran, Sunnah, Ijma atau menyalahi Atsar (sesuatu yang dilakukan atau dikatakan sahabat tanpa ada di antara mereka yang mengingkarinya), perkara baru semacam ini adalah bidahyang sesat.

b. Perkara baru yang baru yang baik (hasanah) dan tidak menyalahi al-Quran, Sunnah, maupun Ijma, maka sesuatu yang baru seperti ini tidak tercela” (Riwayat Imam Baihaqi didalam Manaqib Asy Syafii Juz 1 Halaman 469, Ibnu Hajar Al Asqalaniy dalam Fath al-Bari bi Syarah Shahih Bukhari 13/253, Sayyid Al-Bakri Abu Bakar bin Muhammad Syatha’ Addimyatiy didalam Ianah At-Thalibin Ibn `Asakir dalam Tabyin Kadzib al-Muftari, hal.97. Dinukilkan oleh adz-Dzahabi dalam Siyar, 8/408, Ibnu Rajab dalam Jami` al-`Ulum wal-Hikam,2/52-53,).

2. Imam Ibnu Abdil barr Al Hakim Al Muhaddits Al Imam Abu Umar Yusuf bin Abdilbarr Al-NamiriAl-Andalusi, seorang ulama besar faqih lagi hafidh yang bermazhab maliki. Adapun perkataan Umar, sebaik-baik bidah, maka bidah dalam bahasa Arab adalah menciptakan dan memulai sesuatu yang belum pernah ada. Maka apabila bidah tersebut dalam agama menyalahi sunnah yang telah berlaku, maka itu bidah yang tidak baik, wajib mencela dan melarangnya, menyuruh menjauhinya dan meninggalkan pelakunya apabila telah jelas keburukan alirannya. Sedangkan bidah yang tidak menyalahi dasar syariat dan sunnah, maka itu sebaik-baik bidah. (Al-Istidzkar, 5/152).

3. Imam Nawawi Al-Imam al-Muhaddits al-Hafizh Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawi, Pakar Hadits Besar, Rijalussanad Imam Syafii. “Bidah -menurut syariat- adalah segala sesuatu yang tidak pernah ada pada zamanRasulullah SAW. Bidah terbagi menjadi dua, baik dan buruk. Beliau melanjutkan: Para pemuka umat dan Imamkaum muslimin yang ilmunya sudah diakui, seperti Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdissalam menyebut di akhir buku beliau, al-Qawa`id (al-Kubra): Bidah itu terbagi pada perkara-perkarawajib (wajibat), haram (muharramat), sunnah (mandubat), makruh (makruhat) dan boleh (mubahat). Seharusnya, cara menilai suatu Bidah itu dengan melihat kaidah syariat (qawaid syariah). Jika ia masuk dalam kategori kewajiban (ijab) maka jadilah ia Wajib, jika ia termasuk dalam keharaman maka jadilah ia Haram, jika ia termasuk hal yang mendatangkan keutamaan, maka jadilah ia disukai, apabila ia termasuk hal yang buruk maka jadilah ia makruh dan seterusnya. Selebihnya adalah bidah yang boleh. (Tahdzibul ‘Asma wal Lughot 3/20-22) Bidah terbagi menjadi dua, bidah hasanah (baik) dan bidah qabihah (buruk). (Tahdzib Al-Asma wa al-Lughat 3/22),

4. Imam Ibnu Hajar Al Asqalani Al Hujjatul Islam Amirul Mukminin fii Hadits Ibn Hajar Al-Asqalani. hafizh dan faqihbermadzhab Syafii. Secara bahasa, bidah adalah sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya. Dalam syara, bidah diucapkan sebagai lawan sunnah, sehingga bidah itu pasti tercela. Sebenarnya, apabila bidah itu masuk dalam naungan sesuatu yang dianggap baik menurut syara, maka disebutbidah hasanah. Bila masuk dalam naungan sesuatu yang dianggap buruk menurut syara, maka disebut bidah mustaqbahah (tercela). Dan bila tidak masuk dalam naungan keduanya, maka menjadi bagian mubah (boleh). Dan bidah itu dapat dibagi menjadi lima hukum. (Fathul Bari bi Syarah Shahihul Bukhari, 4/253).

5. Imam Ibnu Al Arabi Al Hafidh Al Imam Ibnu Al Arabi Al Maliki Ketahuilah bahwa Bidah (al-muhdatsah) itu ada dua macam: Pertama, setiap perkara baru yang diadakan yang tidak memiliki landasan agama, melainkan mengikut hawa nafsu sesuka hati, ini adalah Bidah yang sesat. Kedua, perkara baru yang diadakan namun sejalan denganapa yang sudah disepakati, seperti yang dilakukan oleh para Khulafaurrasyidin dan para Imam besar, maka hal tersebut bukanlah bidah yang keji dan tercela. Ketahuilah, sesuatu itu tidak dihukumi bidah hanya karena ia baru. (Aridhat Al-Ahwadzi Syarah Jami Attirmidziy 10/146-147)

6. Imam Ghazali Al Hujjatul Islam Al Imam Ghazali “Hakikat bahwa ia adalah perkara baru yang diadakan tidaklah menghalanginya untuk dilakukan. Banyak sekali perkara baru yang terpuji, seperti sembahyang Terawih secara berjamaah, ia adalah Bidah yang dilakukan oleh Sayyidina`Umar RA, tetapi dipandang sebagai Bidah yang baik (Bidah Hasanah). Adapun Bidah yang dilarang dan tercela, ialah segala hal baru yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW atau yang bisa merubah Sunnah itu. (Ihya Ulumuddin 1/276).

INFO PENTING

Dari semua definisi bidah yang dikemukakan oleh para ulama tersebuat dapat kita ambil kesimpulan bahwa: Bidaah adalah segala sesuatu yang baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi atau para sahabat, namun para ulama menjelaskan bahwa bidah terbagi menjadi 2 bagian: pertama, bidah hasanah/mahmudah (bidah yang baik), yaitu semua perkara baru dalam maliah ibadah yang terpuji dan tidak menyalahi aturan syariat islam, seperti shalat tarawih secara berjamaah, pengumpuln mushaf al-Quran yang dilakukan oleh Zaid bin Tsabit atas perintah Sayyidina Utsman, tahlilan, maulidan sebagimana yang banyak dilakukan oleh mayoritas ulama di Indonesia. Kedua, bidah saiat/madzmumah (bidah jelek dan tercela), yaitu semua perbuatan baru dalam amaliyah ibadah yang tidak sesuai dengan hukum syariat seperti, pesta miras, pesta seks dll.
B. Kajian hadis tentang bidah
Salah satu hadis yang mashur yang menjadi landasan seseorang mengklaim bahwa semua bidah atau segala sesuatu yang baru yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW itu mnyesatkan adalah hadis yang termuat dalam kitab Sahih Muslim yang diriwayatakan oleh Jabir bin Abdullah.
Setelah permulaan maka sebaik-baiknya perkataan adalah kitabullah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan dan semua bidah itu mnyesatka.
Jika Redaksi terakhir hadis tersebut hanya sampai pada bahwa semua bidah menyesatkan maka hadis yang terdapat dalam kitan Sunan An-Nasai dalam kitab shalat iedain sampai pada setiap bidah menyebabkan masuk neraka.
Setiap bidah itu menyesatkan dan setiap yang menyesatkan akan masuk neraka
Namun ini hanya ketika hadis tersebut dipahami secara leterlek tanpa melakukan interpretasi mendalam dengan mengkaji hadis tersebut dengan berbagai disiplin ilmu yang sngat berkaitan dengan pemahaman hadis tersebut.
Pertama, dengan menggunakan pendekatan ilmu ushul fiqh. Jika hadis tersebut kita pahami secara leterlek maka akan terjadi kontradiksi dengan hadis lain yang di sabdakan oleh Rasulullah SAW, seperti hadis hadis ini menjelaskan tentang barang siapa yang berbuat kebaikan, apapun itu dan mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan yang sama maka Allah SWT akan memberikannya pahala ia sendiri dan pahala orang yang di ajak yang mengerjakannya. Hal ini akan kontradiksi dengan hadis diatas apabila perbuatan baik yang kita lakukan tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Oleh karena itu kita perlu mencari titik temu dalam memahami hadis-hadis yang bertentangan ini. Dalam ilmu ushul fiqh dijelaskan tentang cara menyelesaikan hadis-hadis yang saling bertentangan (taarud al-adillah)sesuai dengan tipe teks hadis tersebut.
Jika kita analisis kedua hadis tersebut, hadis pertama redaksinya menggunakan kata kullu, sebagaimana diketahui bahwasanya suatu kalimat diawali dengan kata kullu maka ia bersifat umum. Sedangkan pada hadis yang kedua redaksinya menggunakan kata yang disifati, sebagaimana telah diketauhi bahwa sifat merupakan takhsis (penghususan) yang berimplikasi menjadikan kalimat tersebut bersifat khusus.
Dalam ilmu ushul fiqh, jika dua nash (al-Quran atau Hadis) yang kontadiksi yang satu umum yang satu lagi khusus maka cara menyelesaikan kontradiksi ini adalah dengan cara men-takhsis nash yang bersifat umum. Sebagaimana syekh Syarifuddin Yahya Al-Imrithi yang dikenal luas dengan sebutan syekh Imrithi empunya kitab nadm-al-Imrithi, beliau menjelaskan dalam kitab Tashil at-Thariqaat li an-Nadzm al-Waraqaat melalui bait syair.
#
Syekh Abdul Hamid menjelaskan dalam kitab Lataaif al-Isyarah yang menjadi syarh untuk kitab ini dengan redaksi (apabila dari kedua nash yang kontradiksi tersebut, yang satu bersifat umum dan yang satu lagi bersifat khusus, maka takhsis lah nash yang bersifat umum dengan yang khusus).
Redaksi hadis pertama adalah sedangkan yang kedua , jika kita mentaksis hadis pertama karena keumumanya dengan hadis kedua, maka pemahamannya akan menjadi setiap bidah yang jelek adalah menyesatkan. Pemahaman inilah yang dipegang oleh mayoritas Ulama. Apabila bidah tersebut baik dan tidak bertentagan dengan al-Quran dan Hadis maka tidak mengapa untuk dilaksanakan, sebaliknya apabila bidah tersebut bertentangan dengan al-Quran dan Hadis maka wajib untuk dijauhi dan ditinggalkan. Inilah yang dinamakan dengan metode istinbat hukum dengan cara jamu (menyatukan dan mencari titik temu).
Kedua, dengan pendekatan kaidah ilmu mantiq (logika). Dengan pendekatan ini kita garis bawahi kata kullu, karena ini yang menjadi sentral dalam permaslahan ini. dalam ilmu mantiq dikenal ada dua jenis kullu, pertama, kullu majmu yang bermakna sebagian dan yang kedua, kullu jaami yang bermakna seluruh. Sebagaimana imam al-Akhdori dalam kitab Sulam al-Munauraq membubuhkan bait.
#
#
Penyelesaiannya adalah dengan kita mengidentifikasi jenis kullu yang ada pada redaksi hadis pertama. Imam Nawawi, seorang ulama yang sangat mashur di kalangan mazhab imam SyafiI dalam mensyarahi redaksi kullu bidatin dengan ghaalib al-bida atau mayoritas bidah. Karena memang kebanyakan bidah itu menyesatkan akan tetapi bukan berarti semua bidah itu menyesatkan. Penjelasan imam Nawawi tersebut memberi isyarat bahwa kata kullu tersebut adalah kullu majmu yang bermakna sebagian bukan seluruhnya.
Sebenarnya konsep klasifikasi kata kullu ini telah diisyaratkan oleh al-Quran, seperti dalam firmannya.
Dan kami telah ciptakan dari air itu segala sesuatu yang hidup
Dalam ayat tersebut Allah SWT menjelaskan bahwa dari Allah menciptakan segala sesuatu yang hidup, baik itu manusia, hewan, tumbuhan, jin dan malaikat. Sedangkan pada kenyataannya sebagai mana telah di jelaskan oleh para ulama bahwa jin dan malaikat itu Allah SWT ciptakan bukan dari air melainkan Allah SWT menciptakan jin dari api dan malaikat dari cahaya. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa kata kullu disana adalah kullu majmu karena bermakna sebagian.
Berbeda dengan ayat . setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dalam ayat ini allah menjelaskan ahwa setiap makhluk baik itu manusia, hewan, jin dan malaikat akan mngalami kematian, dan ini memang akan terjadi. Tidak ada satupun makhluk yang dapat luput dari kematian bahkan, malaikat pun juga akan mengalami kematian. Dari sinidapatkita simpulkan bahwa kullu disana adalah kullu jaami yang bermakan keseluruhan tanpa terkecuali sebagai mana yang dijelaskan oleh imam al-Akhdori.
Dari semua pembahasan ini dapat kita simpulkan bahwa tidak semua bidah itu menyesatkan sebagai mana yang dituduhkan oleh kaum salafi wahabi selama bidah tersebut tidak bertentangan dengan al-Quran dan Hadis. Hal ini dikuatkan dengan perkatan Abu Hamid Al Ghazali dalam kitab Ihya al-Ulum ad-Din juz 2 halaman 248, beliau berpendapat bahwa tidak semua perkara baru yang tidak dilakukan di zaman nabi SAW itu dilarang, akan tetapi yang dilarang adalah perkara bid’ah yang bertolak belakang dengan Sunnah dan menghilangkan apa yang sudah ditetapkan syari’at.
Referensi:
1. kitab Tashil at-Thariqaat li an-Nadzm al-Waraqaat karya syekh Syarifuddin Yahya Al-Imrithi
2. kitab Sulam al-Munauraq karya Syekh Abdurrahman al-Akhdari
3.http://ppssnh.malang.pesantren.web.id/cgibin/content.cgi/artikel/bidah.single?seemore=y
Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :