Bersikap Jernih Kepada Ijtima Ulama yang Terlalu Politis itu

Bersikap Jernih Terhadap Ijtima Ulama yang Sangat Politis itu

Bersikap Jernih Kepada Ijtima Ulama yang Terlalu Politis itu


Secara konsep, Islam ialah agama yang mudah dan mempermudah. Hukum di dalamnya terang dan tegas, akan tetapi mempermudah. Misal, salat wajib, maka tidak salat salah. Kita lantas digampangkan salat sesuai kesanggupan, mulai berdiri sampai cuma mempergunakan niat dan isyarat saja.

Islam mempermudah dengan diperolehkan pengembangan hukum Islam (Fiqh) sesuai keadaan kekinian. Hal ini dikenal al maqashid asy-syar’iah punya tujuan untuk menyingkap dan menerangkan hukum dalam bermacam Perkara yang tidak ada nash (ayat atau hadisnya). Misalnya hukum jual beli online, pembayaran mempergunakan uang virtual dan fenomena era millenial lainnya.

Bukankah Islam telah sempurna seperti dalam penggalan surat Al Maidah ayat 3.

“…. pada hari ini sudah Kusempurnakan untuk kau agamamu, dan sudah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan sudah Ku-ridhai Islam selaku agama bagimu…(QS. Al-Maidah: 03).

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

Bagaimana kita merespon hal ini? Ulama dan mufassir Ibnu Katsir menerangkan ayat ini penegasan bahwa Allah SWT sudah menyempurnakan segala firmanNya untuk ummat manusia. Sehingga, kita tidak memerlukan agama lain dan tidak pula Nabi lain selain Nabi Muhammad SAW.

Islam sudah sempurna, tetapi bukan artinya tertutup. Kita Penting mengambil hikmah dari kesempurnaan Islam untuk menuntaskan problem Islam. Ibaratnya, ada bahan baku multifungsi, kita dapat gunakan bahan baku yang super berfaedah itu untuk dikelola menuntaskan problem ummat manusia.

Loading...
loading...

Dalil agama mesti dapat dipahami secara kontekstual, seperti memahami bagaimana karena turunnya (asbabunnuzul/asbabul wurud), biar kita tidak terjebak dengan tekstual. Bukan malah ditelan bulat-bulat kayak tahu. Ingat, Islam mudah dan mempermudah.

Ijma’ Ulama untuk Kepentingan Ummat

Bagian cara mempergunakan Islam yang telah sempurna supaya mempermudah kehidupan manusia di segala medan atau dalam bahasa hadist; Islamu shalihun li kulli zaman wa al-makan ialah Ijmak.

Ijmak ialah Komitmen para ulama dalam menetapkan suatu hukum hukum dalam agama berdasar Al-Qur’an dan Hadis dalam suatu perkara yang terjadi. Hal yang disepakati dalam ijma Adalah hukum syara’ Soal suatu problem/kejadian hukum tertentu. Seluruh untuk ummat tenang dan nyaman.

Belakangan ini booming Ijmak ulama. Hasil ijmaknya menyokong bagian capres. Barang tentu hal ini tidak dapat kita anggap selaku hukum syariat Islam. Sehingga tidak bersifat Penting diikuti.

Bukankah ijmak menerangkan permasalahan keagamaan (teologis)? Kok mereka yang disebut “ulama” ini malah membicarakan berhaluan sokongan politik kekuasan. So make me mumetly–#terAnakJaksel

Saya menyaksikan hasil ijmak ulama ini berkemungkinan memecah ummat Islam, sebab akan ada kemungkinan gesekan sosial pada mereka yang beda pandangan politik. Saya sih takut saja, muncul narasi tidak patuh untuk ulama gegara beda pilihan politik.

Selaku penutup, syariat Islam berlebihan besar untuk mengurusi remeh temeh macam perebutan kekuasaan. Kecuali sungguh niatnya menjual agama untuk maksud politik. Sungguh, apalagi? Yuk  bersikap jernih kepada hal ini. Lagian, ulama yang berijmak itu kok baru ‘sekarang memikirkan ummat’ dan kenapa kok ya soal pemilihan presiden. Ah ada-ada saja. Wallahu’alam bishawab.

Loading...

Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :