Bermalam Seharian ketika Puasa Lebih utama dari pada Maksiat

Bermalam Seharian ketika Puasa Lebih utama dari pada Maksiat

Orang bilang, puasa itu menahan diri dari segala yang membatalkan puasa. Menahan diri ini sepertinya lebih terasa di ketika yang bersangkutan tengah berjaga dibandingkan sambil bermalam. Apa betul seperti inilah? Apakah menahan diri sambil bermalam itu masih mampu disebut menahan diri?

Jika dihitung-hitung sebagaimana itu, maka Allah mempunyai perhitungan yang lebih luas dengan full rahmatnya. Allah tetap memberikan pahala bagi orang puasa sambil bermalam. Syekh Romli dalam Nihayatul Muhtaj menjelaskan,

و لا يضر النوم المستغرق للنهار على الصحيح لبقاء أهلية الخطاب معه إذ النائم يتنبه إذا نبه،ولهذا يجب قضاء الصلاة الفائتة بالنوم دون الفائتة بالإغماء

Menurut pandangan yang shahih, bermalam yang mengabiskan waktu sehari full itu tak problem secara syara’ sebab ia tetap dinilai pihak yang kena khithab syara’. Lagi pula orang bermalam itu bakal terjaga bila dibangunkan. Karenanya, ia wajib mengqadha’ sembahyang yang luput karena bermalam, tidak luput karena pingsan.

Menerangkan komentar gurunya, Syekh Ali Syibromalisi menjelaskan dalam Hasyiyahnya alan Nihayah,

لبقاء أهلية الخطاب معه أي ويثاب على صيامه للعلة المذكورة

Loading...
loading...

Redaksi “tetap dinilai pihak yang kena khithab syara’”, maksudnya yang bersangkutan tetap diberikan pahala sebab puasanya berdasarkan illat hukum yang telah tersebut itu.
Advertisement

Tapi tetap saja kita tak boleh menyalahgunakan rahmat Allah yang luas itu, lalu memilih bermalam seharian. Masih lebih bagus jika kita menghidupkan siang hari itu dengan baca Al-Quran, mengaji, dzikiran, sedekah, atau aktivitas yang disunahkan lainnya.

Di samping itu, kita pun masih mempunyai kewajiban lain selama puasa, yaitu menjalani aktivitas keseharian kita sebagaimana biasa. Petani berangkat menuju sawah. Pegawai ke kantor. Pelajar ke sekolah. Pedagang ke pasar. Puasa tidak alasan guna bermalam atau menurunkan tensi aktivitas harian. alasannya kita hidup tidak sekadar guna pahala. Itu telah urusan Allah. Tetapi kita pun mempunyai kewajiban-kewajiban di luar puasa.

Tapi seperti inilah bermalam masih lebih bagus daripada terjaga lalu melaksanakan aktivitas yang sungguh-sungguh bisa membatalkan pahala puasa sebagaimana dusta, ghibah, menghasut, menyudutkan orang atau kubu lain. Atau pilihannya kita mengunci mulut ketika berpuasa sambil melaksanakan kewajiban harian daripada bermalam atau menjelek-jelekkan pihak lain. Wallahu a’lam. (nu.or.id)

Bermalam Seharian ketika Puasa Lebih utama dari pada Maksiat

Loading...

Link

loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *