Berkat 3 Kyai Pesantren Nusantara, Misi Dakwah Al-Qur’an Lewat MTQ Sukses Menginternasional

Berkat 3 Kiai Pesantren Nusantara, Misi Dakwah Al-Qur’an Lewat MTQ Berhasil Mendunia

Berkat 3 Kyai Pesantren Nusantara, Misi Dakwah Al-Qur’an Lewat MTQ Sukses Menginternasional

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) kali pertama kali dihelat oleh Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA) pada Maret 1965 bekerja sama dengan Pimpinan Pusat Jamiyyatul Qurra wal Huffazh. Ketika itu, MTQ masih bernama Festifal Tilawatil Qur’an.

Aktifitas itu berlangsung atas prakarsa dari KH Bashori Alwi Malang. Mulanya, ia berbarengan empat rekannya saban malam Jumat melaksanakan pembacaan ayat suci Al-Qur’an di Masjid Sunan Ampel, Surabaya. Aktifitas itu disebut selaku lailatul qira’ah.

Lantas, ia mengusulkan langsung terhadap Sekretaris Jenderal OIAA KH Ahmad Syaikhu ketika diundang langsung ke Jakarta demi menemuinya. Hal ini dapat terjadi sebab gurunya KH Abdul Karim mengabarkan kegiatannya terhadap menteri agama ketika itu, KH Abdul Wahid Hasyim.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan hal itu ketika memberikan sambutan pada pembukaan MTQ Nasional XXVI di Mataram, Nusa Tenggara Barat tahun lalu.

“Presiden Soekarno lalu menyambut usulan tersebut dengan menggelar musabaqah internasional pada ketika Konferensi Islam Asia Afrika di Bandung pada tahun 1965. Itulah MTQ pertama kali dan langsung bertaraf internasional. sesudah itu, Bung Karno menugaskan 11 orang qori Indonesia bermuhibah ke sejumlah negara sahabat,” ungkap Lukman seperti dikabarkan NU Online sebelumnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyebutkan bahwa Festifal Tilawatil Quran pertama kali itu dimenangkan oleh 3 qari terbaik Indonesia, yaitu KH Bashori Alwi, KH Fuad Zen Buntet Pesantren, dan KH Abdul Aziz Muslim.

Hal ini ia sampaikan ketika menyampaikan sambutan pada pembukaan Kongres kelima JQHNU dan MTQ Nasional Antarpondok Pesantren kedelapan dan MTQ Internasional di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (11/7). Adapun aktifitas sepenuhnya dilaksanakan di Karawang, Jakarta Barat.

sebelum ini, ia juga menyampaikan hal tersebut ketika memberikan sambutan pada Halal bi Halal PBNU di halaman gedung PBNU pada Selasa (3/7).

Selaku qari terbaik, ketiganya diundang demi bermuhibah membawa tugas misi Al-Qur’an selama empat bulan ke 11 negara Islam, yaitu Arab Saudi, India, Pakistan, Irak, Iran, Syiria, Lebanon, Mesir, Tunisia, Aljazair, dan Libya.

Mereka secara bergantian melantunkan ayat suci Al-Qur’an pada acara di kedutaan, istana kerajaan, dan lembaga pendidikan di negara maksud.

Mengenai keberangkatan KH Fuad Zen ke berbagai negara dalam mengemban misi Al-Qur’an itu, penulis juga sering mendengarnya dari penuturan masarakat Buntet Pesantren.

Riwayat Dewan Juri MTQ

menurut surat keputusan dengan nomor surat 75/OC/KF/62/1/65 soal Dewan Jury Festifal Qiro’atul Qur’an Tingkat Nasional KIAA menetapkan lima perwakilan PP JQH selaku dewan juri. 3 di antaranya selaku penasihat, ketua dewan juri, dan wakilnya.

Selain itu, masing-masing partai dan ormas Islam memperoleh jatah satu orang perwakilannya duduk selaku juri, yaitu dari PB Muhammadiyah, PB Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), PB Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), PB Jamiyatul Wasliyah, dan PB Nahdlatul Ulama. Sementara Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama) diwakili dua orang.

Di samping itu, surat yang ditandatangani oleh KH Ahmad Syaikhu selaku Sekretaris Jenderal OIAA di Jakarta pada 11 Januari 1965 itu juga memasukkan perwakilan daerah-daerah selaku dewan juri. Berikut nama-nama dan daerah asalnya.

1. Jakarta diwakili oleh KH Tb Manshur Ma’mun dan KH Nahrawi

2. Jawa Barat diwakili oleh Habib Usman Bandung, KH R Jawahir Dahlan Buntet Pesantren Cirebon, dan Ustadz Ayatullah Banten

3. Jawa Tengah diwakili oleh KH Umar Mangkuyudan Solo, KH Abdullah Umar Semarang, KH Mufid Mas’ud dari Krapyak Yogyakarta (pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Bantul, Yogyakarta)

4. Jawa Timur diwakili oleh Kyai A. Damanhuri Malang, KH Machfudz Anwar Jombang, dan KH Abdul Wahhab Turham Surabaya

5. Sumatera diwakili oleh KH Jusuf Umar Palembang dan Ustadz Adzro’i Medan, dan

6. Kalimantan diwakili oleh KH Bustomi Ahmad Barabai dan Ustadz H Abdul Muttalib Martapura

Selain menetapkan juri, surat yang penulis dapat dari dokumen pribadi KH R. Jawahir Dahlan Buntet Pesantren itu juga menetapkan lima panitera, yaitu Ustadz Abdul Mujib Ridwan Surabaya, Ustadz H Alie Muhammad Surabaya, Ustadz H Ach Anwar Semarang, Ustadz H Ahmad Fauzi Bandung, dan Ustadz Husny Minwary Bandung. (Syakir NF/Fathoni/NU Online)

Source by Hakim Abdul

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOMENTAR: Jika ada artikel yang salah, dll, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.