Bercermin pada “Tragedi Suriah”, Santri Pamekasan Tolak Ulama Salafi-Wahabi


MusliModerat.Com – Pesatnya perkembangan paham radikalisme di Madura membikin intelektual muda Muslim Pamekasan, Maltuful Anam, berinisiatif membikin Gerakan Santri Pemuda Rahmatan Lil Alamin atau disingkat Gesper. Seperti diketahui, Gesper berada di balik aksi-aksi unjuk rasa menolak apa yang mereka menyebut selaku aliran Wahabi-Salafi di Pamekasan.

“Berangkat dari kegelisahan sahabat-sahabat dan teman-teman tatkala menyaksikan beberapa paham-paham radikal Wahabi masuk desa-desa di Pamekasan, bukan cuma di kotanya,” kata Maltuf menerangkan back-ground lahirnya Gesper ke awak media BBC Indonesia (19/5)

Kalau benih-benih radikal itu dibiarkan tumbuh dan membesar, kata pengajar Ponpes Panyepen ini, tragedi di Suriah sanggup terjadi di Madura. “Kita nggak berharap itu,” katanya.

Alumni S-2 UIN Sunan Ampel ini memberi contoh seorang ulama dari luar Madura yang pernah berceramah di masjid Ridwan, Pamekasan. Ulama tersebut, menurut dia, dalam berbagai ceramahnya sering menganggap tradisi yang selama ini dikerjakan masyarakat NU kebanyakan selaku bertentangan dengan ajaran Islam.

“Kita ziarah ke Wali Songo, kayaknya salah. Kita ziarah ke para kiayi, minta barokah ke kyai, sepertinya salah. Dalam pandangan mereka dinilai bidah. Masak kita dijustifikasi selaku penganut bidah yang nantinya akan masuk ke neraka,” ujarnya.

Nggak cuma cenderung mebid’ahkan dan mengkafirkan kubu lain, Wahabi-Salafi juga dinilai sarat dengan aksi anarkis dalam ajarannya. Tahun lalu, materi pelajaran yang memuat unsur ‘ekstrimisme beragama’ pernah dimuat dalam dalam Kumpulan Lembar Kerja Peserta Didik Pendidikan Agama Islam SMA Kelas XI Jombang. Di dalamnya dijelaskan perihal ajaran Wahabi yang dibuat oleh ulama asal Arab Saudi, Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787 M).

Bagian pandangan Muhammad bin Abdul Wahab yang tertulis dalam halaman buku yang sempat menggegerkan itu, “Yang boleh dan mesti disembah hanyalah Allah SWT, dan orang yang menyembah selain Allah SWT sudah jadi musyrik dan boleh dibunuh”.

Ialah wajar kalau para pengikut kubu teroris seperti ISIS dan Al Qaeda menganut ideologi ini. Sedemikian eksklusifnya, selain kubu mereka nggak berhak memperoleh keselamatan di sisi Tuhan. “Lalu, surga seakan-akan telah dikavling oleh mereka. Kita ini tidak kebagian surga. Kayaknya tanah-tanah yang ada di surga telah ada sertifikat mereka seluruh. Nah, itu yang buat pusing kita,” kata Maltuf dengan nada canda.

walau sempat didemo oleh Gesper, ketua pengurus Masjid Ridwan Pamekasan, Hanif Thalib, mengklaim tetap akan menggelar acara dakwah di masjidnya, misalnya mengundang pembicara dari luar Pamekasan. Akan tetapi, dengan menyaksikan pengalaman dan situasi, Hanif akan lebih hati-hati tatkala menyangkut khilafiyah.

“Ya urusan orang nggak suka, kita masak tanya satu-satu, ‘kan ndak mungkin,” katanya ke awak media BBC. Hanif meneruskan, “Jadi kita (tetap) berdakwah apa yang menurut kita baik buat warga, problem akhlak, problem kesyirikan…”

Akan tetapi sedemikian, apabila materi dakwahnya menyinggung soal khilafiyah akan dihelat tertutup atau untuk kalangan internal. “Misalnya dihelat di dalam masjid Ridwan, itu ‘kan untuk internal,” katanya.

Source: www.islamindonesia.id

Follow @MusliModerat

Bagikan kalau berguna



Source link

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :