Inspirasi Islam

BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW BERTULISKAN KALIMAT TAUHID, BENARKAH?

“Barangsiapa yang berkata atas namaku sesuatu yang TIDAK pernah aku katakan, maka siapkan tempatnya di neraka”. [HR al-Bukhori: 109 dan Ahmad: II/ 501 dari Abu Hurairah. Mukhtasor Shahih al-Bukhori : 74

BENARKAH BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW BERTULISKAN KALIMAT TAUHID :
لا إله الا الله محمد رسول الله . Tulisan ini hanya untuk meluruskan wacana yang diframing sedemikian rupa oleh oknum-oknum tertentu. Sehingga seolah klaim bendera dan panji Rasulullah itu benar seratus persen. Bahkan dengan bahasa-bahasa maut framing tersebut mampu menjerat siapa pun yang menentangnya. (lihat potongan video ILC)

Terkait bendera dan panji Rasulullah, Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah telah mengeluarkan dari Ibn Abbas, ia berkata:

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

“Rayah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih.”

Imam An-Nasai di Sunan al-Kubra, dan at-Tirmidzi telah mengeluarkan dari Jabir:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke Mekah dan Liwa’ beliau berwarna putih.”

Ibn Abi Syaibah di Mushannaf-nya mengeluarkan dari ‘Amrah ia berkata:

كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ

“Liwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna putih.”

Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi panglima militer di Khaibar, beliau bersabda:

لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ أَوْلَيَأْخُذَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَوْ قَالَ يُحِبُّ الله َوَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ فَإِذَا نَحْنُ بِعَلِيٍّ وَمَا نَرْجُوهُ فَقَالُوا هَذَا عَلِيٌّ فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّايَةَ فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ

“‘Sungguh besok aku akan menyerahkan ar-râyah atau ar-râyah itu akan diterima oleh seorang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya atau seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mengalahkan (musuh) dengan dia.’. Tiba-tiba kami melihat Ali, sementara kami semua mengharapkan dia. Mereka berkata, ‘Ini Ali.’. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ar-rayah itu kepada Ali. Kemudian Allah mengalahkan (musuh) dengan dia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan berita duka atas gugurnya Zaid, Ja‘far, dan Abdullah bin Rawahah, sebelum berita itu sampai kepada beliau, dengan bersabda:

أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا عَبْدُاللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ

“Ar-Râyah dipegang oleh Zaid, lalu ia gugur; kemudian diambil oleh Ja‘far, lalu ia pun gugur; kemudian diambil oleh Ibn Rawahah, dan ia pun gugur.” (HR. Bukhari)

Dari Ibn Abbas –radhiyaLlâhu ’anhu-:

«كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ»

“Panjinya (râyah) Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam– berwarna hitam, dan benderanya (liwâ’) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh”.” (HR. Al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath (219).

Mari kita kaji dengan teliti riwayat-riwayat terkait bendera dan panji Rasulullah secara terbuka. Untuk mendekatkan pemahaman kita simak definisi masing-masing rooyah dan liwaa’.

*Ar-Rooyah* adalah bendera yang ada di tangan pimpinan-pimpinan devisi perang, karenanya jumlahnya banyak saat peperangan berkecamuk.

*Al-Liwa’* adalah bendera penanda keberadaan pimpinan perang tertinggi yang mengatur seluruh devisi perang. Bendera ini diikat di tombak.

Dalam hal ini Imam Ibrahim Al-Harbi dalam kitab Ghorib al-Hadits menyatakan,

الرّاية : وهي أعلام لكلّ فريق، واللواء: للأمير الأعظم وقد يُسمَّى اللواء راية.

“Ar-Royah adalah panji-panji untuk masing-masing devisi perang. Sementara Al-Liwaa’ adalah bendera untuk pimpinan tinggi. Tapi terkadang Liwaa’ juga dinamai Ar-Rooyah.”

Berikut ini 10 riwayat hadits tentang bendera dan panji Rasulullah Saw: Al-Liwaa’ dan Ar-Rooyah:

BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW, HADITS KE-1

عن جابر رضي الله عنه قال: كان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض ، و رايته سوداء ” .
أخرجه الترمذي والحاكم وابن ماجة والخطيب في التاريخ.

“Dari Jabir ra. Dia berkata, “Liwaa’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwarna putih dan rooyah-nya berwarna hitam”. (HR. AT-Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Majah dan Al-Khothib dalam kitab At-Tarikh)

Penilaian Muhaddits: At-Tirmidzi menilai hadits ini sebagai Hasan Ghorib.

Riwayat Pendukung:

” أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل مكة يوم الفتح ولواؤه أبيض “. أخرجه أبو داود و النسائي وابن ماجة و الترمذي وابن حبان في صحيحه والبيهقي والحاكم وقال : صحيح على شرط مسلم

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam masuk kota Mekah pada saat pembebasan benderanya berwarna putih”. (HR. Abu dawud, an-Nasa’i, ibnu Majah, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi dan Al-Hakim.

Al-Hakim menilai hadits ini sebagai hadits shahih sesuai standar periwayatan Imam Muslim)

BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW, HADITS KE-2

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ : كَانَتْ رَايَاتُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ. (أخرجه أحمد في المسند والترمذي وابن ماجة والبيهقي في السنن الكبرى وأبو يعلى في المسند وأبو نعيم في الحلية) ، ومثله عند الطبراني من حديث بريدة.

“Dari Ibnu Abbas ra. Bahwa dia berkata, “Rooyah-rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwarna hitam dan Liwaa’ beliau berwarna putih” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Abu Ya’la dan Abu Nu’aim).

Riwayat-Riwayat lain dari Ibnu Abbas:

1 – ومثله عند الطبراني من حديث بريدة.

1 – Hadits serupa diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabarani dari Buraidah.

2 – وأخرجه ابن عدي والطبراني وابو الشيخ من طريق حيان بن عبيد الله وهو مضطرب الحديث،كان قد اختلط، وصعفه ابن عدي في الكامل، ويزيد أحيانا في هذا الحديث: ” ولواؤه أبيض مكتوب فيه لا اله الا الله محمد رسول الله ” وهو قد اضطرب في هذه الزيادة فتارة يذكرها وتارة يحذفها، وتارة يرويه عن ابن عباس وتارة يرويه عن بريدة ولذلك قال الحافظ:إسنادها واه. أي شديد الضعف.

2 – Hadits di atas juga ditakhrij oleh Ibnu Ady, Ath-Thabarani, Abu Asy-Syaikh dari jalur Hayyan bin Abdullah, seorang yang haditsnya tidak konsisten (mudthorib), hafalannya lemah dan di-lemahkan oleh Ibnu Ady dalam kitab Al-Kamil. Bahkan terkadang menambah redaksi hadits ini *“LIWAA’ BELIAU BERWARNA PUTIH DAN TERTULIS ‘LAA ILAAHA ILLAALLOOH MUHAMMADUR ROSULULLOH”.*

Tambahan konten hadits ini tidak konsisten karena terkadang menyebutkannya dan terkadang membuangnya. Bahkan terkadang meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan lain kali meriwayatkannya dari Buraidah. Karenanya, Al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan, ‘Sanadnya waahin (sangat-sangat lemah)

3 – وأخرجه أبو الشيخ من حديث أبي هريرة من طريق محمد بن أبي حميد ، عن الزهري ، عن سعيد بن المسيب ، عن أبي هريرة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم ، مثله.
وهذا منكر جدا ولا أصل له من حديث الزهري ولا سعيد ابن المسيب، وآفته محمد بن أبي حميد تفرد به عن إمام يجمع حديثه بسند مشرق، وهو مع ذلك فقد قال البزار فيه: أحاديثه لا يتابع عليها، ولا أحسب ذلك من تعمده ، ولكن من سوء حفظه ، فقد روي عنه أهل العلم. وقال الهيثمي: قد أجمعوا على ضعفه، وهو ضعيف جدا. وقال البخاري: وهو ضعيف ذاهب الحديث لا أروي عنه شيئا. وقال أبو حاتم: هو منكر الحديث.

3 – Hadits serupa ditakhrij oleh Abu Asy-syeikh dari hadits Abu Hurairah dari jalur Muhammad bin Abi Humaid, dari Az-Zuhri, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dari nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan redaksi yang sama.

Penilaian Riwayat ini dinila sebagai MUNKAR JIDDAN (sangat-sangat buruk) dan tak berdasar sama sekali
Cacat hadits ini ada pada perawi yang bernama Muhammad bin Abu Humaid.

Al-Bazzar berkata, Hadits-haditsnya tidak bisa dikuatkan dg riwayat lain. Itu bukan karena faktor kesengajaannya, tetapi lebih karena faktor hafalannya yang tidak tajam. Namun banyak ulama meriwayatkan darinya.

Al-Haitsami berkata, Muhadditsun bersepakat ttg lemahnya Muhammad bin Abu Humaid ini. Dia sangat lemah sekali.

Imam Al-Bukhori berkata, *“Dia lemah dan hilang haditsnya. Tak satupun aku meriwayatkan darinya”.*

Abu Hatim berkata, “Dia haditsnya MUNKAR”.

4 – وأخرج العقيلي في الضعفاء عن يزيد بن بلال، وكان من أصحاب علي رضي الله عنه ، قال: ” رأيت راية علي حمراء مكتوب فيها محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم “. إسناده ضعيف جدا

4 – Al-Uqaili Yazid bin Bilal mentyakhrij dalam kitab Adh-Dhu’afa dari Yazid bin Bilal (pengikut Ali bin Abi Thalib). Dia berkata, *“SAYA MENYAKSIKAN ROOYAH ALI BERWARNA MERAH DAN TERTULIS ‘MUHAMMAD RASULULLAH”.* (Sanadnya sangat-sangat lemah sekali)

BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW, HADITS KE-3

عن أبي هريرة قال: “كانت راية النبي صلى الله عليه وسلم قطعة قطيفة سوداء كانت لعائشة وكان لواؤه أبيض، وكان يحملها سعد بن عبادة ثم يركزها في الأنصار في بني عبد الأشهل وهي الراية التي دخل بها خالد بن الوليد ثنية دمشق وكان اسم الراية العقاب فسمت ثنية العقاب”. أخرجه ابن عدي في الكامل وابن عساكر في تاريخه ، وإسناده ضعيف.

“Dari Abu Hurairah ra. “Rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berupa qith’ah qothifah (sepotong kain mantel) warna hitam yang miliki Aisyah ra. Dan Liwaa’ beliau berwarna putih. Mulanya Rooyah itu dibawa oleh Sa’d bin Ubadah, lalu ditancapkan di kalangan Anshor Bani Asyhal; itulah rooyah yang dibawa masuk Kholid bin Al-Walid ke dataran Damaskus. Rooyah tersebut diberi nama Al-Iqaab. Sehingga dataran Damaskus dinamai sebagai Tsaniyah Al-Iqaab”. (HR. Ibnu Ady dalam Al-Kamil dan Ibnu Asakir dalam kitab At-Tarikh. Sanadnya lemah)

BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW, HADITS KE-4

عن عمرة بنت عبد الرحمن ، قالت : “كان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض ، وكانت رايته سوداء من مِرطٍ لعائشة مُرَحّل ” أخرجه أبو يوسف في الخراج وابن أبي شيبة في المصنف وأبو الشيخ في أخلاق النبي والبغوي

“Dari Amrah bin Abdurrohman, dia berkata, “Liwaa’ Rsulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwarna putih dan Rooyahnya berwarna hitam yang terbuat dari kain selimut milik Aisyah ra. bergambar rohl (dudukan penunggang onta)”. (Ditakhrij oleh Abu Yusuf dalam kitab Al-Khorooj, Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf, Abu Asy-Syeikh dalam kitab Akhlaq an-Nabi dan Al-Baghawi).

Penilaian Muhadditsin: Sanad hadits ini lemah karena menggunakan model periwayatan ‘an’anah Ibnu Ishaq yang terkenal sebagai mudallis (tukang memelintir sanad). Namun hadits ini bisa naik kelas menjadi Hasan lighoirihi (baik karena didukung riwayat lain)

Riwayat Penguat:

عن ابن أبي جرير: ” أنّ راية النبي صلى الله عليه وسلم كانت قطعة من مرط كان لعائشة ” ( أخرجه أبو الشيخ في أخلاق النبي )

“Dari Ibnu Abi Jarir, ‘Sesungguhnya Rooyah nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah sepotong kain dari selimut milik Aisyah ra.”. (Ditakhrij oleh Abi Asy-Syeikh dalam kitab Akhlaq An-Nabi)

BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW. HADITS KE-5

عن يونس بن عبيد مولى محمد بن القاسم قال: بعثني محمد بن القاسم إلى البراء بن عازب يسأله عن راية رسول الله صلى الله عليه و سلم ما كانت؟ فقال: كانت سوداء مُرَبّعَة من نَمِرَة. (أخرج البخاري في التاريخ وأحمد في المسند والترمذي وأبو داود والنسائي في الكبرى وأبو يعلى والروياني في مسنديهما) ، وقال البخاري في علل الترمذي: هو حديث حسن.

“Dari Yunus bin Ubaid, budak Muhammad bin Al-Qasim. Dia berkata, Muhamamad bin Al-Qasim mengutusku kepada Al-Barra` bin Azib guna menanyakan tentang Rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam; bagaimana bentuknya?. Al-Barra` menjawab, ‘Rooyah beliau berwarna hitam persegi dari namirah (selimut wol belang belang-belang seperti kulit macan)”. (Ditakhrij oleh Al-Bukhari dalam kitab At-tarikh, imam Ahmad dalam Al-Musnad, At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa`i, Abu Ya’la dan Ar-Rouyani dalam musnadnya).

*(FAEDAH)*

Terkait bendera dan panji Rasulullah “Rooyah namirah” ini banyak ulama (Imam Al-Farra`, Imam Tsa’lab, Al-Hafidz Ibnu Hajar) memberikan gambaran yang semuanya mengarah bahwa Rooyah Namirah ini tidak murni berwarna hitam pekat, tetapi ada garis-garis putih tipis sehingga nampak dari kejauhan berwarna hitam.

BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW, HADITS KE-6

عَنْ الْحَارِثِ بْنِ حَسَّانَ قَالَ: قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا عَلَى الْمِنْبَرِ وَبِلَالٌ قَائِمٌ بَيْنَ يَدَيْهِ مُتَقَلِّدٌ سَيْفًا وَإِذَا رَايَةٌ سَوْدَاءُ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا هَذَا عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ قَدِمَ مِنْ غَزَاةٍ . (أخرج ابن ماجة في سننه وأحمد في المسند وابن أبي شيبة في المسند ) حسن .

“Dari Al-Harits bin Hassan, dia berkata, “Aku datang ke Madinah, lalu aku menyaksikan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar, sementara Bilal berdiri di depan beliau sambil menghunus pedang. Tiba-tiba nampak bendera hitam. Maka aku bertanya, ‘Siapa orang ini?’. Mereka menjawab, ‘Ini adalah Amr bin Al-Ash ra. baru datang dari perang”. (Ditakhrij oleh Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Ibnu Abi syaibah). Hadits ini bernilai HASAN

BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW, HADITS KE-7

عن أنس قال : استخلف رسول الله صلى الله عليه و سلم بن أم مكتوم مرتين على المدينة ولقد رأيته يوم القادسية معه راية سوداء. (أخرج أحمد في المسند) حسن

“Dari Anas, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai penggantinya di Madinah sebanyak dua kali. Aku melihatnya pada perang Qadisiyah membawa rooyah hitam”. (Ditakhrij oleh Imam Ahmad). Hadits ini bernilai HASAN.

BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW, HADITS KE-8

عن أبي بكر بن عياش قال : قدم علينا شعيب بن شعيب بن محمد بن عبد الله بن عمرو بن العاص ، فكان الذي بيني وبينه ، فقال يا أبا بكر : « ألا أخرج لك مصحف عبد الله بن عمرو بن العاص ؟ فأخرج حروفا تخالف حروفنا ، فقال : وأخرج راية سوداء من ثوب خشن ، فيه زران وعروة ، فقال : هذه راية رسول الله صلى الله عليه وسلم التي كانت مع عمرو ». أخرج ابن أبي داود في المصاحف وابن أبي الدنيا ، إسناده لا بأس به

Dari Abu Bakar bin Ayyasy, dia berkata, “Datang kepadaku syu’aib bin Syu’aib bin Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Antara dia dan aku terjalin pertemanan. Dia berkata, ‘Wahai Abu Bakar, maukah engkau aku tunjukkan mushaf milik Abdullah bin Amr bin Al-Ash?’. Lalu dia mengeluarkan mushaf yang berisi tulisan yang berbeda dengan mushaf kami. Lalu dia mengeluarkan lagi Rooyah berwarna hitam dari dalam kantung kain kasar yang ada dua kancing dan tali. Kemudia dia berkata, ‘Ini adalah Rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang disimpan Amr bin Al-Ash”. (Ditakhrij oleh Ibnu Abi Dawud dalam kitab Al-Mashahif dan Ibnu Abi ad-Dunya). Sanad riwayat ini tidak bermasalah.

BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW, HADITS KE-9

عن يزيد بن أبي حبيب قال: كانت رايات رسول الله صلى الله عليه وسلم سوداً . أخرج ابن أبي داود في المصاحف وابن أبي الدنيا ، مرسل.

“Dari Yazid bin Abi Habib, dia berkata, “Rooyah-rooyah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwarna hitam”. (Ditakhrij oleh Ibnu Abi Dawud dalam kitab Al-Mashahif dan Ibnu Abi ad-Dunya). Hadits ini MURSAL

BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW, HADITS KE-10

عن ابن عمر ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا عقد لواء عقده أبيض ، وكان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض . أخرج أبو الشيخ في أخلاق النبي ، إسناده ضعيف

“Dari Ibnu Umar, Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika memasang Liwaa’ maka Liwaa’ itu berwarna putih. Dan memang Liwaa’ Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwarna putih”. (Ditakhrij oleh Abu Asy-Syaikh dalam Akhlaq An-Nabi). Sanadnya lemah.

KESIMPULAN: TIDAK BENAR BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW BERTULISKAN KALIMAT TAUHID

Setelah kita kaji dari 10 hadits Rasulullah Saw di atas, maka tidak benar bendera dan panji Rasulullah Saw bertuliskan kalimat tauhid.

1. Liwaa’ yang digunakan rosululloh Shallallahu alaihi wa sallam berwarna PUTIH dari potongan selimut Aisyah ra. bergambar rohl (kursi dudukan pengendara onta)

2. Rooyah-rooyah beliau berwarna HITAM bergaris-garis putih tipis berbentuk persegi

3. Liwaa’ dan Rooyah tidak ada sama sekali tulisan kalimat LAA ILAAHA ILLAALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH.

4. BARANGSIAPA YANG MASIH MENGKLAIM DAN MENGAMPANYEKAN ADANYA KALIMAT TAUHID PADA BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW, MAKA DIA BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH).

Simaklah perkataan Abu Syamah rahimahullah (lihat Tamam al-Minnah halaman 32), “Perbuatan para ulama yang membawakan hadits-hadits dla’if ini, menurut para muhaqqiq (ahli) hadits, ulama ushul dan pakar Fikih adalah SUATU KEKELIRUAN. Bahkan mereka wajib menjelaskan perkara tersebut jika mampu. Jika tidak, mereka akan terkena ancaman Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits berikut….

عن سمرة قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ حَدَّثَ عَنىِّ بِحَدِيْثٍ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ اْلكَاذِبِيْنَ

1). Dari Samurah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku padahal ia mengetahui bahwasanya ia berdusta maka dia adalah salah seorang pendusta”. [HR Muslim, at-Turmudzi: 2664 dan Ahmad: V/ 19. Shahih Muslim: 1863].

عن سلمة بن الأكوع قال: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَاَ لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

2). Dari Salamah bin al-Akwa’ radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berkata atas namaku sesuatu yang TIDAK pernah aku katakan, maka siapkan tempatnya di neraka”. [HR al-Bukhori: 109 dan Ahmad: II/ 501 dari Abu Hurairah. Mukhtasor Shahih al-Bukhori : 74]

Demikian Asimun Ibnu Mas’ud menyampaikan kajian soal bendera dan panji Rasulullah Saw, semoga bermanfa’at. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

*BENARKAH BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW BERTULISKAN لا إله الا الله محمد رسول الله*Tulisan ini hanya untuk…

Dikirim oleh Asimun Ibnu Mas'ud pada 7 Desember 2017

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close