Bencana Alam dan Dosa Manusia: Tafsir Q.S. al-Isra ayat 59 dan Q.S. Fushshilat ayat 5

Rentetan Gempa NTB: Pidato Rizieq Shihab, Tuan Guru Bajang, dan Tafsir Bumi yang Bergoyang (Bag-1)

Bencana Alam dan Dosa Manusia: Tafsir Q.S. al-Isra ayat 59 dan Q.S. Fushshilat ayat 5

Fenomena bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus dan Tsunami tidak jarang dikait-kaitkan selaku Pembalasan atas dosa warga yang tertimpa musibah bencana tersebut. Bahkan, akhir-akhir ini muncul sebagian pihak yang menghubungkan bencana gempa di Lombok- Nusa Tenggara Barat, dengan sikap politik figur publik tertentu. Muncul sebuah pengakuan bahwa gempa diakibatkan oleh sikap atau sokongan salah seorang figur publik tertentu kepada bagian akan capres Republik Indonesia.

Mereferensi ke ayat-ayat Al-Quran, ternyata sebuah bencana bisa dipahami dengan pemaknaan lain, tidak cuma selaku sebuah azab atau selaku Pembalasan atas dosa atau kekhilafan suatu kaum/ bangsa/ personal.

Sebuah bencana bisa dipahami selaku selaku tanda-tanda kebesaran Allah swt, sesuatu yang menunjukan kuasa dan keagungan Ilahi. Mampu dikatakan, ayat-ayat Al-Quran yang menarasikan soal fenomena alam bisa membawa pesan semacam itu. Pesan seperti ini bisa kita temukan dalam Q.S. al-Isrā/ 17: 59 maupun Q.S. Fushshilat/ 41: 53.

وَ ما مَنَعَنا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآياتِ إِلاَّ أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ وَ آتَيْنا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِها وَ ما نُرْسِلُ بِالْآياتِ إِلاَّ تَخْويفاً (59)“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan sebab tanda-tanda itu sudah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan sudah kami berikan ke Tsamud unta betina itu (selaku mukjizat) yang bisa dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti”. (Q.S. al-Isrā/ 17: 59).

سَنُريهِمْ آياتِنا فِي الْآفاقِ وَ في‏ أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَ وَ لَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلى‏ كُلِّ شَيْ‏ءٍ شَهيدٌ (53)

“Kami akan memperlihatkan ke mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu ialah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi engkau) bahwa sesungguhnya Dia melihat segala sesuatu ?” (Q.S. Fushshilat/ 41: 53).

Q.S. al-Isrā/ 17: 59 menerangkan bahwa begitu beberapa manusia yang sudah mendustai tanda-tanda Allah swt, termasuk di dalamnya ialah mukjizat dan ajaran-ajaran para nabi as. Allah swt sudah menerangkan keberadaan dan eksistensi-Nya melalui bermacam cara, dari yang maknawi sampai pada cara-cara yang bersifat material.

Loading...
loading...

Tanda-tanda kebesaran Allah swt melalui bermacam bencana

Al-Quran Adalah mukjizat Nabi Muhammad saw yang terhitung agak tak sama dengan beberapa mukjizat para nabi sebelumnya yang bersifat temporal, yang cuma dapat disaksikan oleh orang di jamannya seperti keluarnya seekor unta betina dari sebongkah batu gunung (pada masa nabi Sholih as). Jadi, tak sama dengan mukjizat para nabi sebelumnya, Al-Quran senantiasa sinergis secara sempurna bagi kehidupan saban manusia. Ia senantiasa mengajak berdialog akal dan hati manusia pada tiap generasinya.

Lantas, ayat ini menerangkan bahwa Allah swt juga menunjukan tanda-tanda kebesaran Allah swt melalui bermacam bencana yang menimpa ummat terdahulu seperti kaum Tsamud (ummat Nabi Sholih as) yang ditimpa gempa dahsyat. Beberapa ummat lainnya yang senasib dengan ummat Tsamud- yang disebutkan oleh beberapa ayat di tempat lainnya- ialah kaum Syu’aib dan ‘Ād. Karun yang ditelan bumi. Sedemikian juga Fir’aun, Haman dan kaumnya yang ditenggelamkan dalam laut Merah. Bermacam bencana tersebut selaku tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan Allah swt, yang jadi warning manusia setelahnya supaya takut dan ingat akan azab ilahi, baik di dunia maupun akhirat.

Adapun Q.S. Fushshilat/ 41: 53 menerangkan bahwa Allah swt senantiasa dan tiada henti nenampakan ayat-ayat dan kuasa Ilahi-Nya dalam semua ufuk alam semesta. Tercakup di dalamnya, Ia sudah menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Sedemikian juga, Allah swt sudah mengaturnya dengan hukum-hukum dan sunnah Ilahi tertentu sesuai dengan kadarnya. Misalnya, Matahari, Bulan dan bintang-bintang beredar pada porosnya. Gunung dan lempeng-lempeng bumi senantiasa bergerak pada tempatnya. Melalui pemahaman kepada kandungan Q.S. Fushshilat/ 41: 53 maka gempa bumi bisa dipahami selaku sebuah sebuah fenomena alam sebab terjadinya pergeseran lempeng plat tektonik. Fenomena-fenomena tersebut Adalah tanda-tanda/ ayat-ayat Allah swt.

Jadi, melalui tadabbur beberapa ayat Al-Quran di atas, ternyata bencana dan fenomena alam bisa dipahami dalam bermacam sudut pandang dan perspektif. Bencana tidak senantiasa cuma dikaitkan cuma selaku Pembalasan kepada sebuah dosa atau kekhilafan suatu kaum/ bangsa/ personal.  Akan tetapi, dapat dipahami dalam sudut pandang lainnya, yaitu selaku selaku tanda-tanda kuasa dan keagungan Allah swt.

Kerwanto, Penikmat Kajian Tafsir.

 

Loading...

Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :