Benarkah Sudah Terjadi Kebangkitan Islam? Mari Lihat Faktanya!

Benarkah Telah Terjadi Kebangkitan Islam? Mari Lihat Faktanya!

Benarkah Sudah Terjadi Kebangkitan Islam? Mari Lihat Faktanya!


Apa dampak paling menyebalkan dari berkembangnya Islam yang dihayati sebatas identitas dan simbol-simbol?

Sekelompok orang yang merasa paling saleh dan ahli surga.

Beberapa tahun terakhir warga Indonesia tampak bergairah dalam memahami dan mengekspresikan agamanya. Sebagian orang tidak canggung menggunakan busana ala warga desa di pelosok Afghanistan dan beralasan bahwa itu ialah sunnah.

Sebagian yang lain mencoba peruntungan dengan mendirikan usaha berbasis syariah, seperti agen travel, event organizer, katering, sampai kolam renang. Ada juga sekelompok orang yang menuding pemerintah waktu ini gagal menyejahterakan ummat, dan selaku jalan keluar, khilafah tidak dapat lagi ditawar-tawar.

Berawal dari Kemalasan

Kesadaran warga untuk memahami ajaran agamanya tentu baik, tapi hal itu akan makin baik kalau info yang mereka dapatkan dari ceramah ustadz-ustadz di Youtube, pesan berantai di messanger, atau status dan twit teman-teman mereka mengenai hal Islam dicek dan ricek  terlebih dahulu kebenarannya.

Di zaman serba online seperti sekarang, seluruh orang dapat membikin konten keislaman yang menarik untuk disebarkan. Kemalasan mencari info pembanding akan membikin kita mudah salah paham.

1 di antara kesalahpahaman yang rawan menjangkiti teman-teman kita yang belajar Islam secara mandiri (instan) ialah perasaan bahwa dirinya yang paling benar, sementara yang lain salah.

Cuma sebab pergaulan mereka di dunia maya sebatas kuota internetnya, mereka melihat rendah orang lain di dunia nyata yang punya pandangan tak sama, menganggap sesat dan dengan nyinyir mengharapkan hidayah Allah untuk mereka, atau mencurigai mereka selaku antek asing yang mempunyai misi menghancur-leburkan Islam dari dalam.

Mempelajari Islam secara instan tidak cuma dapat dilaksanakan di dunia maya. Datang dalam pengajian-pengajian juga dapat dikategorikan belajar instan, kalau pengetahuan yang kita dapatkan baru sebatas menambah wawasan, bukan menghadirkan perspektif atau sudut pandang yang sejiwa dengan prinsip-prinsip agama. meskipun lamanya belajar tidak memberi jaminan, mereka yang bertahun-tahun menekuni cabang-cabang ilmu agama umumnya lebih berpeluang mempunyai perspektif yang sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut.

Disalahpahami, Lalu Diperalat

Waktu ini, Islam tidak ubahnya magnet yang punya pesona kuat di nyaris seluruh lini kehidupan. Kita menyaksikan pernak-pernik ala Islam bertebaran di media, entah dalam bentuk iklan, film, sampai musik.

Loading...
loading...

Sayangnya, Islam di sini tidak lebih sekadar nama, cap, atau status, bukan substansi. Sebagian orang menyebut fenomena tersebut selaku tanda-tanda kebangkitan Islam. Nyatanya, itu hanyalah gejala laten yang berulang terjadi dalam sejarah ummat Islam di mana pun, ialah Islam yang dipaksa jadi ‘penyedap’.

Untuk apa? Tentu saja untuk menarik perhatian, supaya kepentingan kubu tertentu tercapai. Bukan rahasia jika sejumlah oknum, mulai toko online sampai buzzer politisi, kerap membagi konten keislaman untuk menjaga engagement atau menggiring opini follower-nya.

Penutup tulisan seperti “Sebarkan kalau Anda sungguh orang Islam!” atau “Bagikan kalau Anda tidak ingin memperoleh musibah!” ialah contoh paling banal dari hal itu. Mereka yang telah mencegah tudingan ini dengan enteng menjawab, “Ini, kan, bagian dari dakwah juga.”

Maka, yang tampak di permukaan ialah kehidupan ala Islam yang semarak, meriah, dan ‘kaffah’. Orang-orang bertutur dalam bahasa Arab seadanya: Akhi, ukhti, afwan, manhaj; kampanye tutup aurat dengan menjelaskan bahwa “perempuan yang mengumbar auratnya sama dengan makanan yang tidak ditutup rapat sehingga dikerubuti lalat”; bocah kecil TK yang diperintahkan menggunakan kostum hitam-hitam dan menenteng senapan laras panjang; atau berita hoax yang ditambahi caption berupa kalimat thayyibah, supaya terkesan sahih.

Siapa yang bertanggung jawab sekaligus berperan serta dalam menyebarkan model penghayatan Islam seperti ini? Tentu saja bukan kyai pesantren atau santri-santrinya tapi mereka yang pernah belajar alif-ba’-ta’ tapi sering bolos sebab padatnya jadwal ekskul dan les, lalu waktu kuliah berkoalisi dengan organisasi-organisasi Islam yang menggunakan militansi masa muda mereka, mencekoki mereka dengan doktrin-doktrin keagamaan yang membungkam, sebelum menerjunkan mereka di jalan-jalan untuk berdemo menuntut formalisasi syariah.

Orang-orang inilah, yang mengira Islam tidak ubahnya kunci respon bagi seluruh teka-teki dari zaman Adam sampai kiamat, yang mempunyai kecenderungan jadi ‘wakil Tuhan’ di bumi.

Di benak mereka, Islam ialah satu-satunya yang benar. Sebab satu-satunya yang benar itu ialah apa yang sejalan dengan perspektifnya, maka Islam ialah apa yang cocok dengan isi kepalanya. Tatkala mereka menyaksikan ekspresi Islam yang tak sama, telunjuk mereka pun teracung dan mulut-mulut mereka mengumpat, “Bid’ah!” “Sesat!” “Kafir!”

Wallahu A’lam.

Loading...

Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :