Fikih Islam

Benarkah Semua yang Tidak Dilakukan Nabi Itu Bidah Sesat?

Menjawab Statemen Semua yang Tidak Pernah Dilakukan Nabi adalah Bidah Sesat. Ada rumus di kalangan sebagian muslim bahwa semua hal yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah bidah sesat. Rumus ini sering digunakan oleh kaum Wahabi untuk menyerang berbagai amaliah umat Islam di Nusantara.

Bahkan ironisnya, hanya dengan asumsi semacam itu mereka serampangan menyesatkan, mengkafirkan dan memusyrikkan para pelaku tradisi khas Nusantara. Seperti pujian menjelang shalat fardhu di masjid dan musalla, maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam, istighatsah, menabuh rebana di masjid, dzikir jama’ah dengan suara keras dan lain-lainnya. Benarkah anggapan Wahabi yang demikian itu?

Padahal sebenarnya sutau larangan agama tidaklah cukup didasarkan pada asumsi seperti itu, tetapi harus berlandaskan nash al-Quran maupun Hadits atau dalil yang jelas.

Bukankah kodifikasi (pembukuan) al-Quran tidak dilakukan bahkan tidak diperintahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Begitu pula pemberian titik dan syakal atau harakat pada al -Quran tidak dilakukan oleh Nabi Saw maupun para sahabatnya.

Penggolongan ilmu tajwid, ilmu fikih, ilmu tauhid, ilmu hadits, ilmu tafsir dan ilmu lainya menjadi disiplin ilmu tersendiri juga belum dilakukan di masa Nabi Muhammad maupun di zaman Sahabat. Sungguh ironis bila hal ini dikatakan sebagai bidah sesat atau tindakan mengada-ada dalam agama dan pelakunya divonis sesat dan masuk neraka. Naudzu billah tsumma naudzu billahi min dzaalik.

Mushaf Al Quran

Tidakah mereka membaca firman Allahsubhanahu wa taala:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah amat keras hukumannya.” (QS: Al Hasyr :7).

Tidakkah mereka tidak menyimak penegasan Nabi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa apa yang didiamkan syariat, tidak diperintahkan maupun tidak dilarang oleh syariat merupakan bagian dispensasi syariat yang dimaafkan Allah subhanahu wa taala:

“Apa saja yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya adalah halal; apa saja yang diharamkan-Nya adalah haram; dan apa yang didiamkan-Nya maka merupakan ampunan, karenanya terimalah ampunan dari Allah. Sungguh Allah tidak melupakan sesuatu pun.” (HR. al-Bazzar, at-Thabarani, al-Baihaqi dan al-Hakim. Al-Haitsami berkata: Sanadnya hasan dan para perawinya adalah perawi yang terpercaya).

Benarkah Semua yang Tidak Dilakukan Nabi Itu Bidah Sesat

Enam (6) Alasan Nabi Meninggalkan Berbagai Perbuatan

Lalu apa saja alasan-alasan itu hingga Nabishallallahu alaihi wa sallammeninggalkan berbagai perbuatan? Berikut ini penjelasannya:

Tradisi

Ya, tradisi menjadi alasan Nabishallallahu alaihi wa sallammeninggalkan suatu perbuatan. Seperti ketika beliau enggan memakan dagingdhab(semacam biyawak tapi pemakan rumput) ketika dihidangkan kepadanya saat bertamu di luar daerah. Beliau tidak memakannya karena mengharamkannya, tapi karena tidak terbiasa memakannya, seiring riwayat:

Diriwayatkan Khalid bin Walid, sungguh ia bersama Rasulullah Saw pernah masuk ke rumah Maimunah dan dihidangidagingdhab,lalu beliau meraihnya dengan tangannya. Salah seorang istri beliau berkata:Kabarkan pada Rasulullah Saw daging yang akan dimakannya. Para sahabat pun berkata: Itu dagingdhab wahai Rasulullah.Lalu beliau menarik tangannya, sehingga aku tanyakan: Apakah dagingdhabhukumnya haram wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Tidak haram, tetapi daging itu tidak ada di daerah kaumku, sehingga aku tidak menyukainya. Khalid melanjutkan: Lalu aku mengambil dan memakannya, sementara beliau hanya melihatnya. (HR. al-Bukhari).
bid’ah sesat
Hewan Dhab

Lupa

Seperti ketika beliau lupa bilangan rakaat shalat sebagaimana riwayat hadits shahih:

Diriwayatkan dari Alqamah, ia berkata: Abdullh berkata: NabiSaw melaksanakan shalat. Ibrahim berkata:

Saya tidak tahu, apakah beliau menambah atau mengurangi (rakaat shalat). Lalu ketika salam ditanyakan kepada beliau: Ya Rasulullah, apakan terjadi sesuatu dalam shalat? Nabi bertanya: Terjadi apa? Para sahabat menajwab: Engkau shalat seperti demikian demikian. Lalu Rasulullah Saw melipat kedua kakinya, menghadap kiblat, sujud dua kali, lalu salam. Kemudian ketika menghadap kepada kami dengan wajahnya, beliau bersabda: Sungguh jika terjadi sesuatu di dalam shalat niscaya aku kabarkan kepada kalian, tetapi aku adalah manusia sepertimu. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Karenanya, ketika aku lupa maka ingatkanlah; jika salah seorang darimu raguragu dalam shalatnya, carilah yang benar, sempurnakan, salam, kemudian sujud (sahwi) dua kali. (HR. al-Bukhari)

Khawatir Menjadi Kewajiban bagi Umatnya

Sebagaimana riwayat Aisyahradhiyallahu anha:

Sungguh Rasulullah Saw niscaya meninggalkan suatu amal padahal beliau sangat menyukainya, karena khawatir diamalkan oleh para sahabat lalu diwajibkan kepada mereka. (Muttafaq Alaih)
Seperti ketika Rasulullahshallallahu alaihi wa sallammelaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah dengan para sahabat hanya tiga malam, lalu ditinggalkannya. (Muttafaq Alaih)

Belum Terpikirkan

Sebagaimanasebelum terpikir memakai mimbar yang cukup tinggi, beliau berkhotbah dengan hanya bersandar pada pelepah kurma:

Diriwayatkan dari Ubay bin Kaab, ia berkata: Rasulullah SAW biasanya shalat menghadap batang pohon kurma ketika masjid telah teratapi dan khotbah bersandar padanya. Lalu salah seorang sahabatnya berkata: Apakah berkenan jika engkau gunakan papan yang digunakan untuk berdiri di atasnya pada hari Jumat, sehingga orang-orang dapat melihat Anda dan Anda dapat memperdengarkan khotbah? Nabi menjawab: Ya. Lalu dibuatkanlah tiga tingkat anak tangga untuk beliau, yaitu anak tangga yang ada di mimbar (HR. as- Syafii, Ahmad dan Ibn Majah. Ibn al-Malaqqin berkata: Shahih.)

Masuk dalam Petunjuk Ayat Secara Umum

Nabishallallahu alaihi wa sallammeninggalkan sesuatu karena telah masuk dalam keumuman ayat-ayat al-Quran atau al-Hadits. Seperti halnya beliau meninggalkan shalat Dhuha dan sebagian besar amal-amal sunnah, karena telah terakomodir dalam firman Allah:

Dan lakukanlah kebaikan, supaya kalian beruntung. (QS. al-Hajj: 77)

Menjaga perasaan

Seperti Nabishallallahu alaihi wa sallammengurungkan niatnya merenovasi Kabah, seiring hadits riwayat Aisyahradhiyallahu anha:

Sungguh Rasulullah Saw bersabda: Tidakkah kau lihat bahwa ketika membangun Kabah kaummu meninggalkan pondasi Nabi Ibrahim As? Aisyah berkata: Aku berkata: Ya Rasulullah, tidakkah engkau mengembalikannya (menjadi lebih lebar sebagaimana aslinya) di atas pondasi Ibrahim? Rasulullah Saw menjawab: Seandainya tidak karena kaummu belum lama meninggalkan kekufuran, niscaya akan aku lakukan. (Muttafaq Alaih)

Tidak semua yang belum ada di masa Nabi adalah bidah sesat
Enam (6) alasan tersebut membuktikan, bahwa tidak semua yang belum ada atau belum pernah dilakukan pada masaNabiadalah bidah sesat sebagaimana asumsi Wahabi.

Sebenarnya, masih banyak lagi alasan kenapa Nabishallallahu alaihi wa sallamtidak melakukan (meninggalkan) suatu perbuatan, namun enam (6) hal itu sudah cukup sebagai dalil runtuhnya asumsi Wahabi, bahwa apa yang tidak dilakukan oleh Nabi pasti bidah sesat dan dilarang agama.

Berkaitan konteks ini, pakar hadits kontemporer al-Hafizh al-Ghummari dalam karyanya:Husnat-Tafahhum wa ad Dark li Masalati at-Tark((Pemahaman Ideal Seputar Hal-Hal yang Ditinggalkan Nabi) (141)) menjelaskan:

Meninggalkan sesuatu perbuatan saja, jika tidak diiringi dalil nash yang menunjukan bahwa perbuatan yang ditinggalkan adalah terlarang, maka tidak bisa menjadi dalil atas keharamannya. Bahkan paling jauh hal itu hanya memberi pemahaman bahwa meninggalkan perbuatan tersebut adalah disyariatkan (tidak sampai haram bila dilakukan). Adapun suatu perbuatan yang ditinggalkan menjadi terlarang, maka tidak bisa dipahami hanya sematamata karena ditinggalkan, namun harus dipahami dari dalil (khusus) yang menunjukan atas keharamannya.

Dalam bahasa yang lebih lugas al-Hafizh al-Ghumari menyatakan (Husnat-Tafahhum139-141:
.
Jika Nabishallallahu alaihi wa sallammeninggalkan sesuatu, maka memungkinkan beberapa alasan selain mengharamkannya.

Kesimpulan

Jadi sangat jelas kan, tidak semua hal yang tidak ada atau tidak dilakukan di masa Nabi Muhammad, apalagi di masa sahabat, otomatis merupakan bidah sesat dan pelakunya masuk neraka sebagaimana asumsi kaum Wahabi. Wallahu alam.

Oleh:K. M. Luqmanul Hakim (PP al-Inabah Surabaya)

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker