Home / Berita Indonesia / Benarkah Ketika Dolar Naik, Lalu Ekonomi Indonesia Akan Runtuh?

Benarkah Ketika Dolar Naik, Lalu Ekonomi Indonesia Akan Runtuh?

Naiknya Dolar Adalah Musibah Ekonomi Global yang Menular ke Ekonomi Indonesia

Lalu kalau presiden Jokowi turun, siapa penggantinya? Siapa dia? Apakah dia bisa memaksa AS untuk tidak menguatkan dolarnya? Apakah dia bisa menekan China supaya tidak melemahkan mata uangnya?

Islam-institute.com, JAKARTA – Bukan cuma kurs rupiah yang tengah dilanda kemerosotan tajam, nyaris semua nilai tukar mata uang di negara Asia juga mengalami nasib yang sama. Seperti kita tahu, nilai tukar dolar AS juga menguat atas rupee India, bahkan nilai tukar peso Filipina mencapai angka terlemah tahun ini terhadap dolar yang dipicu merosotnya data ekonomi China.

Merosotnya nilai tukar mata uang Asia adalah akibat dari adanya kekhawatiran penarikan kembali program pembelian obligasi oleh bank sentral Amerika (The Fed) dan menitik-beratkan pada perdagangan mata uang di kawasannya. Resiko rugi perdagangan mata uang meningkat kerena pertumbuhan ekonomi China diprediksi akan merosot lebih jauh di kuartal II menyusul lesunya ekpsor bulan Mei dan sulitnya kegiatan ekonomi domestik.

Sampai di sini, masih saja ada yang belum mengerti apa yang terjadi pada situasi ekonomi dunia saat ini. Padahal sudah begitu banyak media memberitakannya, baik dengan bahasa keuangan yang multi kompleks maupun dengan bahasa laporan sederhana supaya awam mampu memahaminya. Paham sederhanya adalah bahwa situasi ini terjadi karena adanya perang mata uang dunia, antara Amerika yang memperkuat nilai dolarnya dan China yang memperlemah mata uangnya.

Perang mata uang dua negara dengan cadangan mata uang yang sangat kuat ini, jelas berpengaruh terhadap situasi ekonomi dunia saat ini. Pergerakan ekonomi dunia melambat. Karena lambat, ekspor-pun berkurang. Karena kurang, pabrik pun macet produksi. Karena macet produksi, banyak PHK. Dimana-mana di seluruh dunia, termasuk di AS dan China juga. Apalagi di Indonesia, PHK tampaknya telah menjadi keniscayaan.

Sungguh mudah cara memahaminya, akan tetapi masih saja ada yang menyalahkan presiden Jokowi dalam situasi ini. Presiden Jokowi memang banyak menentukan target-target pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Jokowi optimis bahwa September tahun ini ekonomi kita akan melaju berdasarkan APBN yang belum terserap banyak. Tapi itu sebelum China menurunkan mata uangnya bukan? Lalu siapa yang tahu China akan menurunkan nilai mata uangnya?

Siapapun tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi di depan. Rencana di tentukan, tapi situasi global mengubahnya. Seluruh kepala negara di seluruh dunia panik, itu adalah akibat yang lumrah dalam situasi seperti ini.

Dan ironisnya, disebabkan tidak mampu memahami situasi ekonomi dunia, ada beberapa yang menyuarakan untuk menurunkan presiden Jokowi. Mereka ini sepertinya ingin bernostalgia dengan apa yang terjadi pada era presiden Soeharto di tahun 98, tapi tampaknya salah kaprah. Turunnya Pak Harto karena masyarakat bosan dipimpin dia lagi- dia lagi saja selama 30 tahun lebih. Resesi ekonomi hanyalah salah satu pemicu saja, tapi bukan faktor terbesar yang membuat rakyat kompak menurunkan pak Harto..

Lalu kalau presiden Jokowi turun, siapa penggantinya? Siapa dia? Apakah dia bisa memaksa AS untuk tidak menguatkan dolarnya? Apakah dia bisa menekan China supaya tidak melemahkan mata uangnya? Hebat nian dia kalau bisa menentukan arah kebijakan kedua negara super power itu.

Situasi seperti ini seharusnya membuat kita mulai belajar mengenal ekonomi dunia. Tidak perlu pintar seperti ekonom atau ahli keuangan, tapi minimal faham. Belajar membaca peta ekonomi dunia supaya bisa cepat faham. Jangan gagal faham memlulu, akibatnya kalau bicara bisa menimbulkan hal-hal yang sifatnya provokatif yang merugikan kita semua.

Teriak-teriak tanpa tahu duduk persoalan yang sebenarnya menunjukkan kualitas berfikir yang ngawur. Jika tidak paham jangan bicara, diam itu lebih baik dan jauh lebih bijaksana, setidaknya kita akan tetap tampak pintar di mata dunia.

Pilpres sudah setahun lebih berlalu, tapi di antara kita masih terus terkungkung dengan situasi panasnya pilpres. Kita jadi seperti semut yang terperangkap dalam etalase kaca. Masih mampu melihat apa yang terjadi di luar, tapi sulit memahami apa yang terjadi pada dirinya sampai akhirnya tak ketemu jalan keluar sampai mati.

Teriakan tentang dolar naik dan ekonomi Indonesia akan runtuh adalah teriakan kejahatan kepada rakyat Indonesia. Sealai itu adalah teriakan-teriakn itu bisa menimbulkan pembodohan, ketika rakyat resah dan gelisah maka itu suatu bentuk penjajahan opini yang jahat. Terkait masalah naiknya nilai kurs dolar, itu adalah efek perekonomian global bukan efek lokal dari kepemimpinan presiden Jokowi. Pahamilah akan hal ini.

Dulu, di masa krisis ekonomi 1998-1999 pernah terjadi nilai satu Dolar sama dengan 17 ribu Rupiah. Anda masih ingat? Apakah ketika itu Indonesia menjadi runtuh? Tidak, Indonesia masih berdiri sampai hari ini. Jadi… janganlah terus berbicara yang tiada arti.  (sumber: BerbagaiMedia)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

1000 Banser Datang di Balai Sudirman, Kelompok Khilafah Ust Arifin Ilham Bubar

1000 Banser Datang di Balai Sudirman, Kelompok Khilafah Ust Arifin Ilham Bubar. Pasukan Banser dan ...