Benarkah Dosa Riba Lebih Berat dari Berzina?

Benarkah Dosa Riba Lebih Berat dari Berzina?

Benarkah Dosa Riba Lebih Berat dari Berzina?


Keharaman riba sudah disepakati oleh para ulama. Tetapi apakah bunga bank itu termasuk riba? Para ulama tak sama pandangan. MUI menjelaskan: Iya, termasuk riba. Tetapi para ulama Mesir yang tergabung dalam Majma’ al-Buhuts Islamiyah (MBI) menjelaskan ndak.

Mufti Taqi Usmani dari Pakistan menjelaskan Iya. Tetapi Mufti Nasr Farid Wasil dari Mesir menjelaskan Ndak. Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan Iya. Sayyid Thantawi (Grand Syekh al-Azhar) menjelaskan Ndak.

Jadi, buat ulama yang menganggap bunga bank termasuk riba, maka hukumnya haram, dengan segala konsekuensinya termasuk bekerja di bank konvensional. Sementara buat ulama yang menganggap bunga bank bukan termasuk riba maka hukumnya boleh, termasuk boleh bekerja di bank konvensional. Ini merupakan perkara khilafiyah.

Tetapi belakangan ini beredar meme/gambar sampai baliho/spanduk yang mengutip hadits Nabi yang menjelaskan 1 dirham riba lebih besar salahnya dari perbuatan zina sebanyak 36 kali. Bahkan ada hadis yang lebih serem lagi: Riba mempunyai 72 pintu. Yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandung.

Mari kita bahas sanad dan matan kedua hadits di atas. Sahihkah hadisnya?

Hadis dengan redaksi yang mirip tidak sedikit diriwayatkan melalui berbagai jalur periwayatan Abu Hurairah, Ibn Mas’ud, dan Siti Aisyah. Para ulama telah membahasnya dan mereka berselisih mengenai sahih atau tidaknya hadis-hadis tersebut. Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak menjelaskan bahwa hadisnya sahih sesuai kriteria Bukhari-Muslim. Tetapi ulama lain menjelaskan ndak sahih.

Hasil pelacakan saya, hadis seputar dosa riba yang melebihi dosa perbuatan zina itu sanadnya lemah dan matannya mungkar. Ini alasannya:

1. Ibn al-Jauzi menerangkan kedhaifan riwayat-riwayat hadis semacam ini dalam kitabnya al-Maudhu’at (juz 2, halaman 247):

ليس في هذه الاحاديث شئ صحيح

Ndak ada satupun yang sahih dalam kumpulan hadits seputar problem ini.’

Ibn Al-Jauzi mengutip Imam Bukhari yang mengomentari sejumlah perawi hadis yang bermasalah. Seperti Abu Mujahid yang disebut bahwa hadisnya munkar, serta Thalhah bin Zaid dengan sebutan munkar.

Jadi bagaimana mungkin dikatakan hadisnya sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim?

Loading...
loading...

2. Syaikh Abdur Rahman al-Mu’alimi al-Yamani saat mentahqiq kitab al-Fawa’id al-Majmu’ah fi al-Hadits al-Maudhu’ah (juz 1, halaman 150) mecatat:

‎والذي يظهر لي أن الخبر لا يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم البتة

“Yang terang tampak bagiku bahwa khabar (seputar topik ini) ndak benar sama sekali berasal dari Nabi SAW.”

3. Ahli hadits lainnya Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab Ghauts al-Makdud bi Takhrij al-Muntaqa Libnil Jarud membikin kesimpulan:

‎أن الحديث لا يمكن نسبته إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، لا تصحيحاً ولا تحسيناً ، وأحسن أحواله أن يكون ضعيفا ، وعندي أنه باطل ، وفي متنه اضطراب كثير

Hadits semacam ini ndak mungkin dinisbatkan terhadap Nabi Muhammad SAW, statusnya ndak sahih dan juga ndak hasan. Paling banter dikatakan dha’if. Namun buat saya haditsnya batil, dan di matan (teks)nya terdapat perbedaan redaksi yang tidak sedikit (mudtarib).”

4. Terakhir, Syekh ‘Ali as-Shayyah, guru besar ilmu hadits di Universitas King Saud, Riyadh, Saudi Arabia melaksanakan riset soal hadits seputar ini. Beliau menyimpulkan:

‎لم يصح شيء مرفوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم في تَعْظيمِ الرّبَا على الزنا

Ndak satupun hadits yang marfu’ bersambung terhadap Nabi dalam topik lebih besarnya dosa riba daripada perbuatan zina”.

Jadi, dari segi sanad, hadits seputar topik ini dinilai lemah, batil, dan ndak sampai ke Nabi, oleh para ulama hadits di atas.

Dari sisi teks atau matan, hadits seputar ini juga bermasalah. Perbuatan zina itu termasuk dalam hal jinayat (pidana Islam). Sedangkan riba itu ndak termasuk dalam jinayat. Bagaimana mungkin dosa riba melebihi dosa perbuatan zina, apalagi dikaitkan dengan melebihi dosa menzinahi ibu kandung. 36 kali salahnya lebih besar. Jadi bagaimana hukuman cambuknya? 36 dikali 100 cambuk? Ndak masuk akal.

Sebab itu kesimpulan saya hadits-hadits seputar problem ini ndak sanggup dijadikan pegangan kita.

Waallahu a’lam

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Loading...

Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *