Belajar Tafsir Kata “Dhallan fa Hada” dari 11 Kitab Tafsir Ternama (Bag. 2 Habis)

Mengenal Fungsi Al-Quran dan Hadis

Belajar Tafsir Kata “Dhallan fa Hada” dari 11 Kitab Tafsir Ternama (Bag. 2 Habis)


Berikutnya, Imam al Qurthubiy menyebutkan bahwa “dlalaan” ialah nggak mengetahui al Quran dan syariat. Disebutkan pula makna, “dlalaan” artinya Rasulullah berada dalam lingkungan kaum yang tersesat, maka diberilah hidayah.

Adapula yang menyebutkan bahwa Rasulullah mencari kiblat, maka lantas ditunjukkan kiblat. Nah, mencari itulah yang dimaksud dengan tersesat, “dlalaal”. Sebab orang yang sesat, pasti dalam pencarian. Imam Qurthubiy juga menceritakan soal hilangnya nabi dari kakeknya, dari riwayat Ibnu Abbas. Adapula riwayat yang mirip dengan riwayat Sa’id bin Musayyab tetapi Imam Qurthubiy menceritakan itu melalui jalur Said bin Jubair.

Secara menarik, al Qurtubiy menceritakan detail hilangnya Rasulullah dari kakeknya dan ibu yang menyusui beliau Halimah. Cerita yang juga diceritakan panjang lebar dari Ibnu ‘Asyakir dari Abdullah bin Abbas.

sesudah selesai masa persusuan di desa Bani Sa’diyah, menurut Ka’ab yang dirujuk oleh Imam al Qurthubiy, Halimah datang bersama-sama Rasulullah ke Mekah untuk diberikan kpd kakeknya, Abdul Muthalib. Maka saya (Halimah al Sa’diyah) menguping suara di pintu Mekah, “Bergembiralah wahai tanah Mekah, hari ini sudah dikembalikan padamu cahaya, petunjuk, keagungan dan keelokan.”

Maka, saya menaruh Rasulullah untuk membenarkan letak bajuku. Tiba-tiba saya menguping sebuah suara barang jatuh yang keras dan saya menoleh. Maka, saya tidak menyaksikan Rasulullah lagi. Saya berteriak pada orang-orang, “Dimana anakku?.” Mereka menjawab, “Kami tidak menyaksikan apapun.” Tiba-tiba ada kakek tua, yang memegang tongkatnya. Yang lantas thawaf mengelilingi sebuah berhala besar sambil berdoa supaya mengembalikan anakku.

Kaum Quraisy pun menemui Abdul Muthalib dan mencari Rasulullah ke segala penjuru Mekah. Tetapi nggak jua ketemu. Sampai Abdul Muthalib berthawaf di Ka’bah tujuh kali. Sembari berdoa kpd Allah dengan syairnya. Maka terdengarlah suara dari langit, “Wahai manusia, sesungguhnya Muhammad mempunyai Tuhan yang takkan pernah mengecewakan dan menyia-nyiakannya. Muhammad berada di lembah Tihamah, di bawah sebuah pohon. Abdul Muthalib kemudian ditemani Waraqah bin Naufal ke Tihamah dan menemukan Rasulullah sedang berdiri di bawah sebuah pohon sambil bermain dedaunan.

Loading...
loading...

Masih menurut al Qurthubiy, menyitir Basaam bin Abdullah, bahwa makna “dlalaan” ialah nggak mengetahui siapa dirinya, lantas Allah memberi petunjuk. Sedang menurut Junaid, maknanya ialah tatkala Rasulullah bingung dengan suatu makna dari ayat al Quran, maka Allah menerangkan. Sedangkan riwayat yang memaknai kata, “dlaalan” sebagaimana zahirnya, diriwayatkan dari al Kalabiy dan al Sadiy yang dinukil Imam al Razi.

Dalam tafsir Bahr al Muhith karya Abu Hayyan al Andalusiy, ulama Spanyol ini berpendapat, bahwa nggak mungkin Rasulullah tersesat dan nggak memperoleh petunjuk. Beliau juga menjelaskan, bahwa bagi sebagian mufasir ada beberapa perkataan yang nggak boleh dinisbatkan kpd para nabi, di antaranya ialah nabi sesat, dan lain sebagainya.

Dalam Tafsir al Wasith, karya al Wahidiy, dijelaskan bahwa kebanyakan ulama tafsir tatkala menafsirkan kata “dlaalan” memilih untuk mengumumkan bahwa Rasulullah tidak mengetahui isi Al-Qur’an dan syariat Islam maka diberilah wahyu atau hidayah. Atau tatkala Rasulullah lupa akan tugas nubuwah yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Hal ini seperti dinyatakan dalam surat Yusuf ayat 3. Sedangkan Imam al-Thabari dalam tafsirnya mengumumkan bahwa kalimat, “dlaalan fa hada”, ialah kondisi antara sebelum dan sesudah turunnya wahyu.

Para ulama berselisih soal sabab nuzul surat ini. Pertama, dari Jundub bin Sufyan al Bajaliy, bahwa lama tidak turun wahyu sampai Rasulullah “sakit”. Pada waktu itu ada seorang perempuan yang mengolok Rasulullah dan menganggap Rasulullah sudah ditinggalkan, sehingga turunlah surat ini.

Kedua, dari beberapa mufassir. Bahwa surat ini turun tatkala Rasulullah ditanya oleh kaum Yahudi soal ruh, Dzulqarnain dan Ashabul Kahfi. Waktu Rasulullah menjawab bahwa ia akan menerangkan besok, tanpa mengucap Insya Allah, tetapi wahyu nggak juga turun, sehingga Rasulullah galau. Maka turunlah ayat yang menegur Rasulullah supaya mengucap Insya Allah tatkala berkata dan turunlah surat ini.

Selain itu, para ulama juga tak sama pandangan terkait berapa lama wahyu tidak turun, ada yang menjelaskan 12 hari, tetapi Abdullah bin Abbas menjelaskan 15 hari.  Saat Jibril turun, Rasulullah menjelaskan kpd Jibril, “Wahai Jibril saya merindukanmu.” Jibril menjawab, “Sesungguhnya saya terlalu merindukanmu. Tetapi apalah, saya cuma seorang utusan.”

Wallahu A’lam.

Baca Tulisan sebelum ini di sini.

Loading...

Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *