Belajar Tafsir Kata “Dhallan fa Hada” dari 11 Kitab Tafsir Ternama (Bag. 1)

Loading...

Belajar Tafsir Kata “Dhallan fa Hada” dari 11 Kitab Tafsir Ternama (Bag. 1)


Imam Syafii mengumumkan, bahwa disunnahkan membaca takbir di akhir surat al-Dhuha dan surat-surat setelahnya. Ini sebab Rasulullah, sesudah beberapa waktu tidak menerima wahyu dan lantas turun surat al Dhuha ini, maka beliau bertakbir sebab gembiranya.

Seperti ini menyebut al Syaikh Wahbah al Zuhailiy dalam tafsirnya. Lebih detail, Syaikh Wahbah mengumumkan bahwa kalimat, “wa wajadaka dlalaan fa hada”, kata “dlalaan” nggak mungkin diartikan sebagaimana antonim atau lawan kata dari “huda” atau petunjuk. Sebab para nabi ialah ma’shum, terpelihara dari kesesatan. Makna yang paling mendekati ialah ketidaktahuan akan hukum-hukum syariat. Seperti juga disebutkan dalam surat al Syura ayat 52. Hal senada kita temui dalam Tafsir Jalalain, karya Imam Jalaluddin al Mahaliy dan muridnya Imam Jalaluddin al Suyuthi.

Dalam Shafwah al Tafasir, karya Syaikh Ali al Shabuniy pun mengupas kata “dlalaan” dengan keterangan yang sama, tapi ada penambahan. Dalam sebuah riwayat Abdullah bin Abbas dijelaskan, bahwa nabi pernah tersesat dan hilang dari pamandanya Abu Thalib.

Nah, cerita ini didukung juga keterangan yang lebih panjang dalam kitab tafsir karya Syaikh Nawawi al Bantaniy, berjudul Marah Labid. Dalam keterangannya, Syaikh Nawawi menerangkan keterangan itu, bahwa nabi sempat terpisah dari Abdul  Muthalib  sampai kelaparan dan mengumumkan bahwa yang menemukan dan mengantarkan kpd Abdul Muthalib ialah Abu Jahal. Orang yang kelak jadi musuhnya. Ini, menurut kita tersebut, hampir sama dengan cerita Musa. Ditemukan oleh musuhnya, Fir’aun kemudian dikembalikan pada ibundanya.

loading...

Keterangan ini juga dapat ditemukan dalam tafsir Anwar al Tanzil wa Asrar al Ta’wil karangan Imam Nashiruddin al Baidhawi. Beliau menambahkan, bahwa “dlalaan”, juga artinya saat Halimah menyapihnya dan mengembalikannya kpd kakeknya.

Dalam tafsir Lubab al Ta’wil fii Ma’ani al Tanzil karya Imam ‘Alauddin ‘Ali bin Muhammad al Khazin atau karib disebut Tafsir al Khazin, menerangkan bahwa yang dimaksud “dlalaan fa hada” ialah kondisi tanpa nubuwah dan hukum syariah.

Dalam tafsir ini diceritakan pula bahwa suatu saat, Rasulullah bersama-sama pamandanya Abu Thalib berangkat dalam sebuah kafilah Maysarah, orang kepercayaan Khadijah dengan mengendarai unta pada suatu malam yang gelap.

Pada waktu itu, Iblis mengambil tali kekang unta Rasulullah dan hendak menyesatkannya. Maka, datanglah Jibril yang meniup Iblis dengan tiupan keras, sampai terpelanting ke Habasyah. Serta mengembalikan Rasulullah kembali dalam kafilah. Riwayat ini diambil dari Sa’id bin Musayyab.

Dalam Tafsir al Jami’ li Ahkam al Qur’an, Imam Qurthubiy mengumumkan begitu beberapa makna kalimat, “dlalaan fa hada”. Bagian makna yang dikemukakan oleh Imam Qurthubi ialah bahwa Rasulullah “lupa” akan perkara nubuwwah sampai lantas turun wahyu. Hal ini juga dapat dirujuk dalam Tafsir al Jailaniy atau al Quthb al Ghauts.

Dalam tafsir tersebut, Sulthan al Awliya’ Syaikh Abdul Qadir al Jailaniy menjelaskan bahwa, semenjak awal nur Muhammad yang bersemayam dalam jasad Rasulullah sudahlah terisi kenabian. Tetapi sebab “menduduki” jasad maka jadi lupa. Sampai akhirnya memperoleh wahyu dan diingatkan, diaktifkan.

Bersambung ke tulisan berikutnya

loading...

Source by Ahmad Naufal

Loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :