Belajar Agama Malah Masuk Neraka

Belajar Agama Malah Masuk Neraka

Belajar Agama Malah Masuk Neraka


Sungguh malang orang yang mempelajari ilmu agama dengan maksud ingin mengungguli para ulama dan memetik pujian dari zu’ama serta orang-orang awam. Kepiawiannya di dalam meracik dan menyajikan argumentasi tidaklah menyelamatkan dirinya dan juga ummat yang memuja dan memujinya. Jangankan menyelamatkan orang lain, menyelamatkan dirinya sendiri saja belum tentu mampu.

Tipe-tipe orang yang belajar demi kelihatan lebih unggul itu, biasanya kelihatan pongah di dalam saban forum. Kata-kata menghina orang lain, senantiasa mudah keluar dari lisannya. Faedah yang mampu diambil dari perkataan orang seperti ini hanyalah ungkapan-ungkapan seperti, “Mereka bodoh di dalam ilmu sunnah, mereka berpegang terhadap cerita para guru mereka, dan mereka tetap setia terhadap taqlid walaupun kebenaran sudah datang di depan mereka.”

Jarang sekali, orang-orang seperti itu mengawali pendapatnya dengan istighfar demi dirinya dan pandangan yang bakal dikritisi. Sungguh, mereka jauh dari sikap seperti yang ditunjukkan Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha, kala mengkritik pandangan Sayyidina Abdullah ibnu Umar. Sayyidah Aisyah mengawali kritiknya dengan ungkapan;

رحم الله ابا عبد الرحمن وغفر الله له

“Semoga Allah melimpahkan rahmat terhadap Abu Abdurrahman (Abdullah bin Umar) dan semoga senantiasa memberinya ampunan…”

Dengan ungkapan itu, Sayyidah Aisyah menyadari bahwa pandangan Sayyidina Abdullah bin Umar walaupun dipandang “salah” tetap berhak memperoleh anugerah rahmat dari Allah. Kekeliruan di dalam berpendapat, tidaklah menyebabkan terputusnya rahmat Allah terhadap seseorang dan ndak pula menyebabkan jatuhnya harga diri seseorang.

Sekarang, di media sosial yang serba sarat dengan fitnah, ummat disajikan dengan perdebatan yang saling menjatuhkan di antara masing-masing afiliasi. Semuanya mengklaim berada pada sikap yang benar dan nyaris ndak ada ruang pengakuan atas kekhilafan yang sudah ditunaikan.

Gelar kesarjanaan dan back-ground institusi sudah mengaburkan kesadaran tidak sedikit orang, kepada makna “inshaf”. Tidak sedikit yang berpikir bahwa mengklaim “salah” bakal berdampak terhadap runtuhnya gengsi organisasi atau gengsi yang lainnya. Padahal, mengakui kekhilafan ialah termasuk dari bagian kecerdasan emosi. Sebab pada dasarnya “no body is perfect” (ndak ada insan yang sempurna).

Kesempurnaan hanyalah milik Allah dan Rasulullah mendapatkannya selaku titipan atas nama Allah. Imam Malik bin Anas rahimahullah sudah dengan bijak memposisikan inshaf itu melalui nasihatnya:

كل يؤخذ ويترك الا صاحب هذا القبر

“Tiap-tiap orang, mampu diambil dan mampu ditinggalkan pendapatnya kecuali penghuni kubur ini (Nabi Muhammad shalla Allahu alayhi wasallam)”

Tapi, ada saja orang yang menyaksikan pandangan Imam Malik ini secara utuh. Mereka malah mempergunakan pandangan Imam Malik ini demi “menghujat” para ulama cuma sebab ndak sejalan dengan selera mereka.

Sungguh malang orang yang belajar ilmu agama demi mengungguli para ulama. Sebab ilmu agama ialah amanah yang pasti bakal Allah minta pertanggungjawabannya. Kalau amanah itu diabaikan, telah pasti siksa neraka yang bakal sebagai hasil panen bagi mereka yang mengabaikannya. Rasulullah bersabda:

من طلب العلم ليجاري به العلماء أو ليماري به السفهاء أو يصرف به وجوه الناس إليه أدخله الله النار

“Siapa yang menuntut ilmu agama, tujuannya supaya melampaui para ulama atau mendebat orang-orang yang bodoh atau supaya orang-orang berpaling kepadanya, pasti Allah masukkan ia ke dalam neraka.” (Riwayat al-Tirmidzi dari Ka’ab bin Malik, hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam al-Musnad).

Maka dari itu, telah semestinya para pelajar ilmu agama, mempersiapkan diri mereka demi siap membawa amanah ilmu, dibandingkan mengurusi pandangan orang lain yang ndak sejalan dengan mereka. Sungguh, para salaf solih lebih sering menghisab diri mereka dibandingkan menghakimi pandangan orang lain.

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :