Banser VS HTI

Banser VS HTI

Banser VS HTI

Saat bagian oknum personel banser yang membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid, pada warning Hari Santri di Limbangan, Garut jadi bumerang.

Menurut Banser mereka tidak berniat membakar kalimat tauhidnya, melainkan membakar bendera simbol Hizbut Tahrir Indonesia. Tetapi malah dengan kejadian itu oleh HTI dijadikan alat untuk memberondong banser selaku usaha balas dendam.

Seluruh orang telah tahu, bahwa cuma Banserlah yang selama ini paling getol menggelar “perlawanan” kepada aksi-aksi HTI. Selama ini yang ingin merubah NKRI jadi Khilafah, cuma Banserlah yang paling depan memotivasi pemerintah untuk membubarkan HTI dan mencapnya selaku organisasi terlarang.

Maka tidaklah mengherankan HTI mempunyai dendam untuk Banser dan Joko Widodo selaku Presiden yang sudah mengeluarkan Perpu pembubaran HTI, merilis Perppu Nomor 2 Tahun 2017 yang merubah UU Nomor 17 Tahun 2013 mengenai hal Ormas.

Bubarnya Hizbut Tahrir Indonesia, bukannya mereka bubar berantakan tidak berdaya semuanya, malah mereka masih ada dan eksis dalam melaksanakan aksinya dengan cara mendompleng aksi-aksi ummat Islam lainnya, seraya mengibarkan bendera simbol mereka. Bahkan mereka sekarang sulit dikendalikan dan dilacak dan menyusup di pemerintahan, kampus dan organisasi keagamaan.

Hizbut Tahrir Indonesia itu sungguh terlalu cerdik dan ahli siasat, mereka mengakui bahwa bendera yang dijadikan simbol berkelir hitam dan berkelir putih dengan tulisan kalimat tauhid ialah bendera Rasulullah Saw, hal ini sebetulnya juga sama dikerjakan oleh kelompok-kelompok teroris yang sudah membikin kehancuran di negara Irak dan Suriah dengan berusaha mendirikan Khilafah Islamiyah.

Maka terlalu mustahil bagi Banser dengan sengaja membakar kalimat tauhid yang selama ini dituduhkan dan membikin marah orang beberapa. Sebab Banser, selaku anak kandung NU, mereka ialah ahli tauhid dalam saban dzikir, istighosah senantiasa dilantunkan, apalagi saban tahlil kematian, mereka membaca tahlil yaitu kalimat tauhid dengan kompak dan ghirah.

Bagi orang NU, kalimat Tauhid itu tidak wajib ditulis di bendera untuk aksi demonstrasi, melainkan ditancapkan di dalam hati dan dijadikan dzikir untuk penguat iman. Tak sama dengan kubu HTI, kalimat tauhid dijadikan simbol dan lambang bendera mereka beranggapan dengan mengibarkan bendera dalam aksi-aksi tertentu ialah bagian bentuk dakwah syiar mereka, anehnya mereka menganggap tradisi tahlil ialah bid’ah yang sesat.

Maka tatkala ada oknum Banser yang membakar simbol bendera HTI, waktu itulah Peluang para member HTI langsung menembakkan peluru tajamnya dengan menggoreng dan mempelintir isu pembakaran kalimat tauhid melalui media sosial dan jaringannya yang dikuasainya. Saat disebarkan secara berantai dengan bumbu-bumbu yang pedas, maka membikin para pembaca, hati dan bibirnya ikut pedas juga.

Loading...
loading...

“Saya menyesalkan atas apa yang dikerjakan teman-teman Banser di Garut. Protap (Prosedur Tetap) di kami tidak begitu. Protap yang telah kami instruksikan, jikalau menjumpai lambang atau simbol apapun yang diidentikkan dengan HTI, supaya didokumentasikan lalu diberikan ke kepolisian, bukan dibakar sendiri,” Kata Ketum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, untuk detikcom, Selasa (23/10/2018).

Tetapi nasi telah jadi bubur dan Banser kecolongan, sehingga terjadi insiden pembakaran bendera bertuliskan tauhid. Lalu dengan mudahnya eks ketua HTI memberikan komentar, “Penting saya tegaskan di sini bahwa yang dibakar itu bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia. Hizbut Tahrir Indonesia tidak punya bendera,” Kata Ismail dalam video yang dia unggah lewat akun Twitter-nya, @ismail_yusanto, Selasa (23/10/2018).

Dendam Hizbut Tahrir Indonesia terbalaskan, akhirnya Banser dikecam dimana-mana, khususnya di media sosial, bahkan ada sekelompok yang ingin membubarkan Banser, sebagian lain menghujat. Hizbut Tahrir Indonesia sudah sukses membakar akar rumput ummat Islam untuk bersama-sama menghujjat Banser.

Inilah permainan politik kelas tinggi dengan dibungkus dan diberi atribut simbol-simbol agama, membikin orang awam buta dan tidak faham apa yang dilihatnya, ikut terseret dan terbakar hatinya, sehingga terjadilah adu debat dan argumentasi.

Serbuan HTI ke Banser terus akan dilontarkan dengan gorengan dan pelintiran penistaan agama, sehingga ummat Islam yang awam akhirnya tidak suka Banser dan NU. dengan begitu pertahanan NKRI jadi rapuh dan mudah untuk disusupi dan dihancurkan. Sebab selama ini NU /Banser bagian ormas yang paling setia dan punya nyali menjadikan tameng dalam mempertahankan NKRI.

Andaikan main karambol serbuan yang ditujukan untuk Banser itu nanti akan berimbas untuk Joko Widodo, sebab beliaulah yang sudah membubarkan ormas HTI. jadi sekali tembak 2 sasaran terkena, maka jangan heran nantinya issu ini berkembang liar dan tidak terkendali, selaku bahan dan bumbu kampanye Calon presiden 2019.

Untuk itu Banser wajib berhati-hati dalam bersikap dan berhadapan dengan HTI. sebab mereka terlalu licin dan pintar menggunakan simbol-simbol agama. Banser wajib sanggup mengendalikan anak buahnya dan memberikan bekal pemahaman yang cukup, sehingga tidak terjadi lagi insiden yang sanggup merugikan nama baik NU dan Banser.

Memberikan penilaian itu wajib adil, kalau hati kita marah sebab bendera bertuliskan kalimat tauhid dibakar, maka kita juga wajib marah kalau bendera yang bertuliskan kalimat tauhid itu dibawa untuk menghabisi orang-orang Islam yang tidak berdosa, memperkosa perempuan muslimah, membakar dan mengebom rumah-rumah penduduk sipil, dan mengebom serta merusak masjid di Irak dan Suriah.

Kalau bendera bertuliskan kalimat tauhid dibakar membikin kita terlalu marah, maka kita wajib marah untuk orang yang mengumumkan di depan orang Islam, bahwa kitab suci itu ialah fiksi, sebab tulisan kalimat tauhid itu di dalam kitab suci.

Sayangnya kita tidak adil…….

Banser sekarang dicaci dan dimaki, tetapi nanti Anda semua akan menyadari dan berterimakasih untuk Banser, sebab sudah menjaga NKRI. tidak hancur berantakan seperti Irak dan Suriah, akibat ulah para pendiri Khilafah.

Sumber: FB Cahaya Gusti

(suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *