Banser di Tengah Pusaran Peperangan Shiffin

Banser di Tengah Pusaran Pertempuran Shiffin

Banser di Tengah Pusaran Peperangan Shiffin

Kaum pemberontak yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan tidak menyangka kalau Tentara Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib dengan mudah bisa menghancurkannya.

Di tengah situasi terdesak itu, Muawiyah menyuruh semua pasukannya untuk menancapkan mushaf al-Quran di ujung tombak dan pedang-pedang mereka.

Kondisi itu membikin Tentara Ali jadi gamang dan ragu. Sebagian menghendaki Peperangan yang telah Ada di ujung kemenangan dilanjutkan sampai akhir. Akan tetapi sebagian yang lain menyerukan ke Ali untuk menghentikan Peperangan.

Ali memahami siasat busuk dan licik kelompok Muawiyah, yang mempergunakan al-Quran selaku tipu daya dan topeng politik. Ali cepat berteriak ke pasukannya, “Mereka mengangkat al-Qurann, tapi tdk untuk mengamalkannya. Itu cuma tipu daya mereka, dan sekaligus perangkap untuk Anda semua. Pinjamilah saya tangan-tangan dan kepala-kepala Anda semua sebentar saja, niscaya kebenaran akan mencapai sasarannya, dan orang-orang dzalim ini akan cepat saya musnahkan..!”

Pertanyaannya, apakah sikap Amirul Mukmini Ali r.a ini sanggup dinilai selaku sikap melawan al-Quran? Bahkan, andai Ali meneruskan Peperangan dan menebas pedang-pedang dan tombak-tombak musuh yang di ujungnya tertancap mushaf sanggup dipandang selaku penghinaan kepada al-Quran?

Jawabannya ialah tegas: Tidak..!
Dan saat Ali menuruti keinginan mereka untuk menghentikan Peperangan dan menerima tahkim (perundingan), kubu ini malah memusuhi Ali dan menumpahkan segala kekalahan dlm tahkim di pundak Ali.

Loading...
loading...

Inilah kaum Khawarij yang ekstrem dan biadab itu. Bahkan mereka tidak segan-segan mempergunakan simbol agama dan himbauan “La Hukma Illallah” untuk menyerbu Ali. Tetapi dengan pas Ali menyanggahnya, “Sungguh itu ialah kalimat yang haq, tapi sayang dipakai untuk maksud yang batil”.

Sejarah di atas ialah sebuah ilustrasi yang terlalu baik utk menggambarkan situasi yang dihadapi Banser dalam menumpas gerakan bughat seperti HTI.

HTI andaikan Tentara Muawiyah dalam Peperangan Shiffin, dan merepresentasikan karakter Khawarij dalam mempergunakan simbol-simbol suci agama selaku kedok dalam gerakan politik.

Bagi Banser yang telah terlalu paham dengan sejarah Perang Shiffin, mereka tidak mau menyaksikan negara ini terkecoh dan kalah oleh aktifitas kaum bughat. Banser terlalu menyadari, bahwa yang dikerjakan HTI tidak tak sama dengan gerakan kaum Muawiyah dan Khawarij.

HTI melaksanakan gerakan politik dengan berlindung di balik simbol kalimat tauhid. Kita tidak boleh terkecoh dengan aktifitas mereka.

Dengan menaruh mushaf al-Quran di ujung tombak-tombok mereka, Muawiyah berhasil mengacak-ngacak ummat Islam yang lurus dalam Tentara Ali. Dan hal yang serupa, HTI dengan mengibarkan bendera kalimat tauhid, mereka sudah sukses mengadu domba ummat Islam di Indonesia.

Akan tetapi apapun yang terjadi, antusias Ansor-Banser tidak pernah surut ke belakang. Ansor maju 1 barisan, seribu rintangan patah seluruh.

Sekali layar terkembang, pantang biduk kembali ke dermaga.

Wallahu A’lam..

FB: Abimanyu Abimanyu

(suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :