Atwan: Saudi-UEA Tidak Dapat Menaklukan Houthi di Hodeida

Atwan: Saudi-UEA Tidak Dapat Menaklukan Houthi di Hodeida

YAMAN – Perang di Yaman sudah mencapai tahap yang menentukan, dimana milisi pro eks presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung oleh gabungan Saudi-UAE dan pasukan yang setia terhadap Jenderal Tareq Ali Abdallah Saleh, sudah melancarkan serbuan besar-besaran ke Hodeidah.

Keputusan demi menyerbu Hodeida dan penempatan ribuan pasukan, diikuti ultimatum yang diberikan oleh UEA terhadap gerakan Houthi Ansarallah pada minggu lalu demi mundur sepenuhnya dari kota atau berhadapan dengan serbuan darat, udara dan laut yang menghancur-leburkan. Hal ini melumpuhkan negosiasi utusan PBB Martin Griffith dengan Houthi.

Maksud utama serbuan ini – di mana harian Prancis Le Figarore mengungkapkan bahwa pasukan Prancis mengambil bagian dalam operasi tersebut – ialah demi mengusir Houthi dari pelabuhan besar terakhir mereka di pantai barat Yaman, di mana 70% dari impor negara itu melaluinya.

BacaAtwan: Arab Saudi Tidak Bakal Pernah Menang dalam Perang Yaman.

Saudi dan Emirat mengakui pelabuhan itu dipakai demi menyelundupkan rudal buatan Iran yang mengancam keamanan mereka dan memperpanjang perang di Yaman. Pejuang Houthi menyangkalnya dan menjelaskan misil-misil ini, kisaran 120 yang sudah mereka tembakkan ke instalasi angkatan bersenjata Saudi dan kota-kota semenjak perang diawali tahun lalu, ialah Scud yang dimodifikasi secara lokal dari inventaris prajurit Yaman.

Gabungan yang dipimpin Saudi dan UAE percaya bahwa penangkapan Hodeida bakal memberinya kendali full atas seluruh pantai barat dan memberikan pukulan angkatan bersenjata dan moral yang besar kepada Houthis, yang dapat memaksa mereka demi datang ke meja perundingan dan tunduk pada ketentuan. Kalau ndak, serbuan bakal diluncurkan demi mengambil Sanaa selaku langkah berikutnya.

Tetapi hal itu sudah ditunjukkan oleh perang selama 3 tahun terakhir – serta enam perang yang jalani Houthi sebelumnya kepada power eks presiden Ali Abdallah Saleh – bahwa kata ‘menyerah’ ndak ada dalam kamus Houthis. Mereka mungkin menarik diri dari satu kota atau yang lain, tetapi bakal meneruskan pertempuran di front lain. Menaruh tangan mereka ndak mungkin, setidaknya dalam situasi ketika ini.

BacaCatherine Shakdam: Adu Domba Asing dan Kelicikan Saudi Diantara Perlawanan Bangsa Yaman.

Lebih dari 22 juta masyarakat Yaman bergantung pada sokongan kemanusiaan yang datang melalui Hodeida. Kalau perang berlanjut dan pelabuhan ditutup atau fasilitasnya rusak, bencana kemanusiaan bakal mengakibatkan delapan juta orang berhadapan dengan kelaparan.

Laporan kabar soal jalannya pertempuran di kisaran Hodeida ndak dapat dipercaya sepenuhnya sebab seluruhnya berasal dari sumber yang sama, yaitu gabungan dan korporasi media dan saluran televisi, sementara media Houthi lemah. Yang terang, bandara Hodeidah ndak jatuh dan mengendalikannya bukan artinya bahwa kota bakal jatuh atau perang di dalamnya bakal berakhir.

Sumber-sumber diplomatik menjelaskan pertempuran Hodeida dapat berlarut-larut meski ada pemboman berat di setia[ posisi angkatan bersenjata Houthi, baik udara, laut dan darat, serta terlepas dari power Partai Islah di kota yang berkoalisi dengan gabungan. Pemimpin partai yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin itu mengeluarkan pengumuman terbuka yang mendesak para pengikutnya demi bangkit melawan Houthi dan memberikan sambutan pahlawan terhadap prajurit dan pasukan sekutu.

BacaCatherine Shakdam: PBB Terlibat Kejahatan Perang Kotor Saudi di Yaman.

Sumber-sumber ini mempertunjukkan bahwa Houthi secara besar-besaran mengerahkan pasukan melawan gabungan dan pasukan sekutu, kerugian numerik mereka diimbangi oleh fakta bahwa mereka berada dalam posisi defensif (menurut banyak ahli teori angkatan bersenjata, pasukan penyerbu perlu melebihi hitungan total pejuang Houthi 5 banding 1 demi menghabisi atau menangkap mereka dalam kondisi seperti itu). Sebuah perang panjang sanggup menyebabkan kemunduran, sanggup artinya peningkatan korban sampai 600.000 warga sipil kota dan di antara para pejuang, terutama pasukan penyerbu.

Kami ndak tahu apakah Hodeida bakal jatuh atau berapa lama waktu yang dibutuhkan demi mencapai maksud itu, atau bagaimana komunitas internasional bakal bereaksi kepada meningkatnya korban dan kesengsaraan masyarakat sipil. Tetapi kita tahu bahwa itu sulit, memang ndak mungkin, sebab Houthi ndak mudah menerima kekalahan. Mereka bakal terus berjuang, dan perang sanggup bergerak ke medan yang lebih sulit, ke pegunungan di mana kaum Houthi menikmati dua keuntungan besar: pengalaman perang dan basis besar sokongan rakyat.

BacaLe Monde; Pasukan Saudi Terperosok di Rawa Yaman.

Kaum Houthis ditarik keluar dari ibu kota selatan Aden saat mereka menyadari bahwa mereka ndak dapat mempertahankan kota, dan mungkin mundur dari Hodeida demi alasan yang sama, walaupun ada alasan demi meragukannya. Tetapi mereka bakal melakukannya sesudah melancarkan peperangan kota yang sengit, di mana mereka ialah pihak yang lebih terlatih dan berpengetahuan, dan demi jangka waktu yang panjang bahwa Hodeida ialah garis pertahanan terkuat di Sanaa. [ARN]



Source by Muhammad Zuhdi

You might like

About the Author: Muhammad Zuhdi

KOLOM KOMENTAR ANDA :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.