Aswaja: Ahlussunnah Wal jema’ah, Siapa Mereka?

Aswaja – Ahlussunnah Wal jema’ah, siapakah mereka? Berikut ini ialah terjemah dari Sambutan Maulana Ali Jumah pada Pembukaan Muktamar: “Siapa Ahlussunnah Wal jema’ah”. Yang berlansung di Chechnya 25 Agustus 2016.

Para hadirin sekalian, di depan Grand Shaikh Al-Azhar, Imam Ahlussunnah Wal jema’ah. Saya berkata kpd kalian seluruh:

Assalāmu’alaikum Wr. Wb.

Ahlussunnah Wal jema’ah (Aswaja) membedakan antara teks wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah), penafsiran dan penerapannya. Dalam usaha melaksanakan tahqīq manāth (memastikan kecocokan karena hukum pada kejadian) dan takhrīj manāth (memahami karena hukum). Metodologi inilah yang melahirkan Aswaja.

 

 

Aswaja ialah kebanyakan ummat Islam sejauh masa dan zaman. Sehingga golongan lain menyebut mereka dengan sebutan: “Al-‘Āmmah (orang-orang umum) atau Al-Jumhūr”, sebab lebih dari 90% ummat Islam ialah Aswaja.

Mereka mentransmisikan teks wahyu dengan amat baik. Mereka menafsirkannya, menjabarkan yang mujmal (global), lalu memanifestasikannya dalam kehidupan dunia ini. Sehingga mereka memakmurkan bumi dan seluruh yang berada di atasnya.

Aswaja ialah golongan yang menjadikan hadis Jibrīl yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahīh-nya. Selaku dalil pembagian pilar (rukun) agama jadi 3: Iman, Islam dan Ihsan. Untuk lalu membagikan ilmu kpd 3 ilmu utama. Yaitu: akidah, fikih dan suluk (tasawuf). Saban imam dari para imam Aswaja sudah melakukan tugas sesuai bakat yang Allah berikan.

Mereka bukan cuma memahami teks wahyu saja. Tetapi mereka juga menekankan perlunya memahami realitas kehidupan. Al-Qarafī dalam kitab Tamyīz al-Ahkām menerangkan: Kita mesti memahami realitas kehidupan kita. Sebab kalau kita mengambil hukum yang ada di dalam kitab-kitab dan serta-merta menerapkannya kpd realitas apapun. Tanpa kita pastikan kesesuaian antara karena hukum dan realitas kejadian, maka kita sudah menyesatkan manusia.

Di samping memahami teks wahyu dan memahami realitas, Aswaja juga menambahkan unsur penting ketiga. Yaitu tata cara memanifestasikan atau menerapkan teks wahyu yang absolut kpd realitas kejadian yang bersifat relatif. Seluruh ini ditulis dengan terang oleh mereka (Aswaja). Dan ini juga yang dijalankan sampai waktu ini. Segala puji cuma bagi Allah yang sebab anugerah-Nya seluruh hal baik jadi sempurna.

Inilah yang nggak dipunyai oleh kelompok-kelompak radikal. Mereka nggak memahami teks wahyu. Mereka meyakini bahwa seluruh yang terlintas di benak mereka ialah kebenaran yang wajib mereka ikuti dengan patuh. Mereka nggak memahami realitas kehidupan. Mereka juga nggak mempunyai metode dalam menerapkan teks wahyu pada tataran realitas. Sebab itu mereka sesat dan menyesatkan, seperti yang Imam Al-Qarāfī jelaskan.

Aswaja nggak mengkafirkan

Aswaja nggak mengkafirkan siapapun, kecuali orang yang mengakui bahwa ia sudah keluar dari Islam. Juga orang yang keluar dari barisan ummat Islam. Aswaja nggak pernah mengkafirkan orang yang salat menghadap kiblat. Aswaja nggak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan nggak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram).

Aswaja menerima perbedaan dan menerangkan dalil-dalil tiap-tiap permasalahan. Serta menerima kemajemukan dan keragaman dalam akidah, atau fikih, atau tasawuf.

(mengutip 3 bait dari Al-Burdah):

“Para nabi seluruh meminta dari dirinya.
Seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya.
Para nabi sama berdiri di puncak mereka.
Mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya.
Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya.
Terpilih selaku kekasih Allah Pencipta manusia.”

Aswaja berada di jalan cahaya jelas yang malamnya seterang siangnya, orang yang keluar dari jalan itu pasti celaka. Aswaja menyerukan pada kebajikan, dan mencegah kemungkaran. Mereka juga waspada dalam menjalankan agama. Mereka nggak pernah menjadikan aksi anarkis selaku jalan.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa al-Asy’arī, bahwa Nabi Saw. bersabda. “…sampai seseorang menghabisi tetangganya, saudaranya, pamannya dan sepupunya”. Para sahabat tercengang: “Subhānallah, apakah waktu itu mereka punya akal yang waras?” Rasulullah menjawab. “Ndak. Allah sudah mencabut akal orang-orang yang hidup pada masa itu. Sehingga mereka merasa benar, padahal mereka tidaklah dalam kebenaran.”

Rasulullah juga bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari barisan umatku. Menikam (menghabisi) orang saleh dan orang jahatnya. Ia nggak peduli pada orang mukmin juga nggak menghormati orang yang melaksanakan perjanjian damai (ahlu dzimmah). Sungguh dia bukanlah bagian dari saya, dan saya bukanlah bagian dari dia.”

Aswaja memahami agama secara benar

Aswaja memahami syariat dari awalnya. Mereka memahami “Bismillāhirrahmānirrahīm” (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allah Menyebutkan dua nama-Nya, yaitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah nggak menjelaskan: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Membalas dan Maha Kuat”. Bahkan Allah menyampaikan pesan keindahan dalam keindahan (melalui Al-Rahmān dan Al-Rahīm). Allah nggak mengenalkan diri-Nya dengan keagungan-Nya SWT.

Kami belajar “Bismillāhirrahmānirrahīm” di Al-Azhar. Para ulama Al-Azhar waktu menafsirkannya menerangkan dengan beberapa ilmu. Mereka menerangkan “Bismillāhirrahmānirrahīm” dari beberapa perspektif ilmu: fikih, mantiq (logika), akidah, suluk dan balaghah. Mereka sabar duduk menjelaskannya dengan begitu lama dan panjang. Sampai kita menyangka bahwa penjelasan mereka nggak ada ujungnya.

Lalu, sesudah musibah (teror golongan radikal) ini menimpa, kita baru memahami bahwa metode mengajar ulama Al-Azhar itu merupakan kebenaran. Mereka membangun piramida (ilmu kita) sesuai cara yang benar: membangun pondasi piramida dari bawah. Sampai sampai pada ujung lancipnya yang berada di atas. Sementara kubu radikal membalik cara membangun piramida (ilmu mereka, ujungnya di bawah, dan pondasinya di atas). Sampai piramida itu runtuh mengenai kepala mereka sendiri.

Aswaja nggak memungkiri peran akal, bahkan mereka sanggup mensinergikan akal dan teks wahyu. Serta sanggup hidup damai berbarengan golongan lain.

Aswaja nggak pernah membikin opini umum palsu (memprovokasi). Mereka nggak pernah bertabrakan (melaksanakan aksi anarkis) dengan siapapun di alam raya. Aswaja bahkan membuka hati dan jiwa mereka untuk seluruh orang. Sampai mereka berbondong-bondong masuk Islam.

Para ulama Aswaja sudah melakukan apa yang mesti mereka lakukan pada zaman mereka. Sebab itu kita juga mesti melakukan kewajiban kita di zaman ini dengan baik. Kita wajib memahami teks wahyu, memahami realitas dan mempelajari metode penerapan teks wahyu pada realitas.

Aswaja dan Al-Azhar

Aswaja memperhatikan dengan cermat 4 faktor perubahan, yaitu: waktu, tempat, individu dan kondisi. Al-Qarāfī mecatat kitab luar biasa yang bernama al-Furūq untuk membangun naluri ilmiah (malakah) sampai kita sanggup menyaksikan perbedaan detail.

Awal yang benar akan menghantar pada akhir yang benar juga. Sebab itu, barangsiapa yang mempelajari alfabet ilmu (pondasi awal ilmu) dengan salah. Maka ia akan membaca dengan salah juga. Lalu memahami dengan salah. Lalu menerapkan dengan salah, sampai ia menghalangi manusia dari jalan Allah tanpa ia sadari. Inilah yang terjadi (dan yang membedakan) antara orang yang belajar ilmu berguna, terutama Al-Azhar selaku pemimpin lembaga-lembaga keilmuan. Dan antara orang yang mengikuti hawa nafsunya, merusak dunia dan menjelekkan citra Islam serta kaum muslimin.

Pesan saya kpd ummat Islam dan dunia luar: Ketahuilah bahwa Al-Azhar ialah pembina Aswaja. Sungguh oknum-oknum (yang membencinya) sudah menyebar berita keji, dusta dan palsu bahwa Al-Azhar sudah mengalami penetrasi (dan lumpuh). Mereka ingin membikin ummat manusia meragukan Al-Azhar selaku otoritas yang dipercaya. Sampai mereka nggak mau kembali lagi kpd Al-Azhar selaku tempat rujukan dan penjagaan.

Al-Azhar tetap berdiri dengan pertolongan Allah SWT, di bawah pimpinan grand syaikhnya. Saban hari Al-Azhar berusaha untuk mencapai tujuan-tujuan mulianya. Juga membuka mata seluruh dunia, menyelamatkan mereka dari musibah (radikalisme) yang menimpa.

Aswaja menyebarkan ajaran Islam yang benar

Al-Azhar nggak disusupi dan enggak akan lumpuh selamanya sampai hari akhir, sebab Allah Yang membangunnya dan melindunginya. Allah juga Yang mentakdirkan orang-orang pilihan-Nya untuk mejalankan manhaj Aswaja di Al-Azhar. walaupun orang fasik nggak menyukainya.

Doakanlah untuk kami, semoga Allah memberi kami tuntunan taufīq supaya kami mampu melaksanakan hal yang digandrungi dan diridhai-Nya.
Doakan supaya kami sanggup menyebar luaskan agama yang benar ini. Dengan pemahaman dan praktek yang benar juga. Dan semoga kami sanggup menerangkan jalan yang full cahaya ini kpd ummat manusia, sesuai ajaran Rasulullah.

Doakan kami semoga Allah membimbing kita seluruh di muktamar ini, dan pasca muktamar. Semoga muktamar ini mampu jadi awal perbaikan citra Islam di kalangan korban Islamophobia, baik muslim maupun non-muslim.

Diterjemahkan oleh Ahbab Maulana Syaikh Ali Jum’ah – Ahlussunnah wal jema’ah / Aswaja.

Simpan

Simpan

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :