Astaghfirullah! Di Tengah Suasana Gempa di Palu, Mereka Masih Deklarasi Ganti Presiden

Astaghfirullah! Sungguh Tak Punya Hati, Di Tengah Suasana Gempa Palu, Gerombolan Ini Masih Deklarasi Ganti Presiden

Astaghfirullah! Sungguh Tidak Punya Hati, Di Tengah Suasana Gempa Palu, Gerombolan Ini Masih Deklarasi Ganti Presiden

Gempa sesuatu yang sulit diprediksi, dan saya percaya gempa yang terjadi baru-baru ini di negeri ini ialah cobaan atau ujian, mungkin saja 1 daerah yang tengah melihat terjadinya gempa di daerah lain, masih mampu beraktifitas seperti biasanya, tapi begitu kena giliran, akan merasakan bagaimana kesengsaraan yang dialami dalam suasana seperti itu.

Dan tiap-tiap terjadi gempa, di sosial media ada-ada saja pernyataan yang janggal, atau pernyataan yang tidak berdasar akal sehat, cuma asumsi dan tudingan sebab kebencian. Misalnya gempa yang terjadi di Lombok, ada-ada saja orang bahlul yang mengaitkannya dengan sikap politik TGB, katanya ini gara-gara TGB menyokong Joko Widodo. Sungguh-sungguh tidak masuk akal.

Namun bagi mereka masuk akal ialah haram hukumnya, mereka lebih suka masuk ke comberan. Dan apa yang terjadi menimpa sulawesi tengah, ada-ada saja sekelompok orang yang mengaitkannya bahwa ini sebab Sugi Nur si pengujar kebencian jadi tersangka. Coba, betapa piciknya cara berpikir seperti itu.

Bencana yang terjadi semestinya makin membikin manusia itu tersungkur dan full ingin serta berdoa terus menerus, bahwa apa yang ada di bumi ini hanyalah sementara, Tuhan mampu saja berkehendak mengambil semuanya, kita tidak mampu apa-apa lagi, disinilah kelelamahan manusia di depan pencipta.

Namun bagi pengusung tagar ganti presiden dan segala pendukungnya, kata-kata belasungkawa sesuatu yang langka dan mungkin aneh untuknya, mereka cuma mampu melontarkan kebencian, dan juga sering kali menuding pemerintahan Joko Widodo melaksanakan pencitraan, jadi apa-apa saja yang dilaksanakan pemerintah, mulut oposisi seperti Fadli Zon ini cuma mampu berujar “Pencitraan”.

Dan belum saja duka korban agak reda sedikit, Fadli zon dan para kroni-kroninya seperti si Neno Warisman, masih sempat-sempatnya melaksanakan kampanye tagar ganti presiden. Maka disinilah amat tampak dengan terang, bahwa oposisi ini cuma sibuk dengan ambisinya untuk meraih kekuasaan.

Mereka selalu menanti momen supaya pemerintahan lemah sehingga mampu melaksanakan segala cara atau Peluang mengobok-obok situasi, pemerintahan Joko Widodo dengan sigap Mengawasi situasi di Sulawesi tengah, supaya kondisi di sana mampu cepat pulih dan masarakat yang masih mampu tertolong cepat diberikan penanganan spesial.

Kondisi bencana seperti ini harusnya lebih membikin bangsa ini sibuk urung tangan atau minimal mengirimkan doa-doa yang amat khidmat, Sebab kita yang jauh ini cuma itu yang mampu kita lakukan, sembari mengumpulkan sokongan untuk cepat dikirim di sana.

Fadli Zon dan dedengkotnya mempergunakan momen ini berkampanye di Padang Sumatra Barat. bertempat di hotel Imelda Kota Padang. artinya kalau Dilakukan di gedung hotel, itu artinya gerakan ini bukan gerakan merakyat, tapi gerakan kaum elit yang punya agenda untuk menggulingkan pemerintahan yang sah,

Dulu mereka telah mencobanya, tapi ternyata gagal, lalu mencak-mencak menuding Joko Widodo anti ulama, menuding Joko Widodo menangkap figur publik tanpa argumentasi yang pasti, dan bermacam-macam tudingan yang sesungguhnya ini telah terang bahwa mereka cuma ingin meraih puncak kekuasaan.

Acara Deklarasi Ganti Presiden di hotel-hotel tentu wajib bayar

Untuk membikin acara di hotel-hotel, tentu saja wajib bayar, dan gerakan tagar itu pastilah ada donaturnya. Sehingga tidak murni ialah gerakan dari rakyat, tapi gerakan yang dideklarasikan oleh orang-orang yang terganggu kepentingannya dari kalangan elit yang tidak suka Joko Widodo.

Mereka mungkin telah tidak leluasa bermain-main anggaran, atau misalnya salah satunya, dikabarkan bahwa ketua GNPF Ulama, Yusuf Martak yang juga amat tidak menyukai Joko Widodo, ternyata dia tercatat selaku Vice Presiden PT Energi Mega Persada yang juga pemilik saham terbesar PT Lapindo Brantas Inc pada kisaran tahun 2007.

Dalam catatan Kantor Berita Antara, nama Yusuf Martak disebut selaku Direktur PT Wahana Artha Raya. Jadi terang kan bahwa para pembenci Joko Widodo dari kalangan elit ialah orang-orang yang terganggu kepentingannya. dan rakyat jelata cuma ikut-ikutan, itu bagi yang tidak mikir dan mudah di provokasi.

Dan di Padang, gerombolan tagar itu sudah melaksanakan pantauan, sebab itulah mereka mau melaksanakannya di sana sebab telah memperoleh gambaran bahwa di sana masih beberapa yang mampu diprovokasi supaya tidak suka Joko Widodo. Dan ini kembali ke masarakat di sana, apakah mereka akan ikut provokasi ini, atau menyaksikan dengan jelas apa saja daya-kerja Joko Widodo?, yang sudah membuka pembangunan yang merata.

Musuh dalam selimut itu amat berbahaya, disaat kita lengah dan lagi sibuk-sibuknya dalam kegentingan, musuh ini mampu menikam dari dalam, bengis kan?, para deklarator dan pengusung ini cuma menggerogoti pemerintah, bukannya malah ikut belangsungkawa dan melaksanakan sesuatu yang amat berguna, misalnya biaya kampanye untuk tagar itu dialihkan untuk para korban di Sulewesi Tengah.

Mereka berkampanye di waktu negeri ini tertimpa musibah, dan ini amat jauh beda dengan para pemimpin dunia seperti Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in serta sekretaris jendral Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres, semuanya ini mengucapkan rasa keprihatinannya, sementara para pengusung tagar ganti presiden cuma terus mencari Peluang supaya mampu berkuasa.

Terkutuklah segala ambisi-ambisi yang rakus itu, yang cuma mengingingkan kekuasaan sementara, Allah tidak akan pernah lengah dengan apa yang Anda semua perbuat. !!! (Seword/redaksiindonesia)


Suara Islam by Ahmad Zaini

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.