AS Minta PBB Hapus Rusia dari Keangggotaan Dewan Keamanan


Selasa, 27 September 2016

NEW YORK, ARRAHMAHNEWS.COM – Duta Besar AS untuk PBB meminta badan dunia itu untuk mengeluarkan Rusia dari keanggotaan Dewan Keamanan dengan mengakui bahwa Rusia bertanggung jawab atas kengerian yang terjadi di Suriah, tapi Dubes AS itu sama sekali enggak menyinggung diputusnya aliran air untuk 1,5 juta masyarakat sipil oleh pemberontak yang didukung negaranya.

Sputnik mengabarkan pada Senin (26/09) bahwa Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Samantha Power menyalahkan Rusia atas serangkaian aksi anarkis di Suriah sesudah gagalnya perjanjian gencatan senjata pada pekan lalu, menyusul serbuan udara yang dipimpin AS di Deir Ez-Zor yang mematikan 90 prajurit Suriah dan mengakibatkan sejumlah lainnya cedera.

Rusia sendiri sudah menulis ada lebih dari 300 pelanggaran gencatan senjata dilaksanakan kelompok-kelompok pemberontak Suriah yang didukung AS dalam beberapa hari pertama gencatan senjata. Selain itu, kelompok-kelompok yang disebut selaku ‘oposisi moderat’ ini juga menolak untuk mentaati syarat perjanjian gencatan senjata yang mewajibkan mereka untuk memisahkan diri dari kubu front al-Nusra, yang merupakan cabang kubu Al-Qaeda di Suriah.

Atas kejadian itu, Dewan Keamanan PBB menyelenggarakan perjumpaan pada Minggu (25/09) atas permintaan AS, Inggris, dan Prancis untuk membicarakan situasi yang memburuk di kota Aleppo sebab pemerintahan Assad mereka tuduh sudah meningkatkan serbuan udara untuk memperketat pengepungan dan memecahkan kebuntuan dengan kubu oposisi.

Pada Kamis (22/09), para pemberontak menuduh bahwa Angkatan Udara Suriah sudah menyerbu fasilitas pasokan air bagi 250 ribu warga di wilayah yang dikuasai kubu pemberontak di Aleppo timur.

Secara mengejutkan, kelompok-kelompok pemberontak ini malah melaksanakan balasan dengan sengaja mematikan pasokan air bagi 1,5 juta warga di wilayah yang dikendalikan pemerintah Suriah di Aleppo barat. UNICEF mengingatkan bahaya kematian bocah-bocah kalau keluarga-keluarga di wilayah itu terpaksa meminum air yang terkontaminasi.

Samantha Power dalam pernyataannya menuduh bahwa Rusialah yang sudah melaksanakan aksi Barbarisme di Suriah.

“Ini saatnya untuk menjelaskan siapa yang melaksanakan serbuan udara dan siapa yang menghabisi masyarakat sipil,” tambah Power. “Rusia mempunyai kursi permanen di Dewan Keamanan PBB. Ini merupakan suatu kehormatan dan itu ialah sebuah tanggung jawab. Tetapi, di Suriah dan di Aleppo, Rusia menyalahgunakan hak istimewa ini.”

Senada dengan Power, Duta Besar Inggris untuk PBB Matthew Rycroft menjelaskan bahwa Rusia akan dikeluarkan dalam proses perdamaian Suriah sebab meningkatnya aksi anarkis di Suriah.

“Tawaran Rusia untuk membawa perdamaian ke Suriah hampir berakhir, dan Dewan Keamanan mesti siap untuk memenuhi tanggung jawab kami,” kata Rycroft. “Rezim (Assad) dan Rusia sudah menciptakan neraka baru di Aleppo. Rusia bermitra dengan rezim Suriah untuk melaksanakan peperangan.”

Kenyataannya, fakta di lapangan jauh lebih kompleks sebab gabungan Barat bersekutu dengan kubu pemberontak yang sudah berkoalisi dengan organisasi teroris yang berafiliasi dengan Al-Qaeda di bawah payung pasukan Penakluk (Jaish al-Fatah). Kubu inilah yang bertanggung jawab atas tindakan teror dengan mematikan pasokan air bagi 1,5 juta masyarakat sipil.

Diplomat Rusia Vitaly Churkin menerangkan bahwa tercapainya perdamaian sesudah runtuhnya gencatan senjata dinilai hampir “mustahil”.

“Di Suriah terdapat ratusan kubu bersenjata. Berbagai wilayah di negara itu juga dibom tanpa pandang bulu dan Saat ini mustahil untuk membawa perdamaian di Suriah,” kata Churkin.

Utusan Spesial PBB untuk Suriah Staffan de Mistura berusaha untuk menggalang suara untuk tercapainya perdamaian di tengah keputusasaan Dewan Keamanan PBB dalam menemukan cara untuk menegakkan gencatan senjata di Suriah.

“Saya masih percaya bahwa kita dapat mengubah jalannya kejadian ini. Kami sudah membuktikan ini lebih dari sekali. Kami tak akan meninggalkan Suriah, begitupula dengan yang lain”, tutupnya sambil menambahkan bahwa ia tak akan pernah berhenti bekerja untuk membawa perdamaian di Suriah.

Kisruh yang terjadi di DK PBB itu juga sudah membikin Menteri Luar Negeri Iran untuk mengeluarkan pernyataan bahwa menolong Suriah butuh aksi nyata dan bukan cuma omongan semata.

“Bicara itu mudah di DK PBB (DK PBB),” sedemikian twit Zarif yang diposting di akun Twitter-nya, Senin (26/09).

Ia menambahkan bahwa “gencatan senjata, sokongan dan penyelesaian politik inklusif” ialah satu-satunya cara untuk menuntaskan krisis Yaman dan Suriah. (ARN)



Source link

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :