Home / Inspirasional / Artis Jadi Ustadz, Surat Al Fatihah Manjadi Aneh dan Asing

Artis Jadi Ustadz, Surat Al Fatihah Manjadi Aneh dan Asing

Hari-hari belakangan ini, masalah kirim pahala Al Fatihah masih menjadi perbincangan di masyarakat. Sebagian mereka mengatakan bahwa kirim al Fatihah itu diharamkan (bid’ah), jadi kirim al Fathah itu perbuatan dosa menurut mereka. Lebih-lebih setelah ada seorang artis mengatakan hal bid’ahnya kirim surat Al Fatihah, pengiriman al Fatihah menjadi aneh dan asing, padahal hal ini sudah diajarkan dan dipraktekkan turun temurun di kalangan umat Islam di seluruh dunia.

Terkait dengan pergeseran fungsi artis tanpa latar pengetahuan agama yang memadai tapi mendadak jadi ustadz telah mempengaruhi penonton dengan pendapatnya, sehingga hal ini membuat resah Shuniyya Ruhama, seorang pengajar Pondok Pesantren Al Istiqomah Weleri – Kendal.

Yuk, kita simak keresahan hatinya tersebut secara lengkap berikut ini….

 

 

Ketika Artis Berubah Menjadi Ustadz, Islam Manjadi Aneh Dan Asing

Jakarta – Sahabat-sahabat, tulisan ini sama sekali tidak hendak membandingkan antara Syaikhona KH Hamim Jazuli – Ploso (Gus Miek) dengan Tengku Wisnu. Sama sekali tidak. Sebab, dalam diri dan keyakinan Shuniyya, keduanya sama sekali tidak sebanding keilmuanya.

Adapun Gus Miek, telah terbukti kontribusinya dalam dakwah bil makruf, merangkul semua golongan, dari mulai ulama besar hingga kaum bromocorah dan para penghuni lembah hitam atau dunia kemaksiatan. Masterpiece Yang Mulia Mbah Yai Miek antara lain Majlis Dzikrul Ghofilin dan Jantiko Mantab.

Majlis dzikir dan semaan Al Quran yang sebelumnya tidak terbayang oleh siapapun. Bahkan hingga kini, Dzikrul Ghofilin dan Jantiko Mantab semakin banyak yang mempelajari dan mengaguminya.

Di kisahkan, Yang Mulia Mbah Yai Miek, setiap akan mengisi materi pengajian di Ploso sejak masa remajanya, selalu dimulai dengan mengirimkan Al Fatihah kepada para wali sejagad. Sehingga “hanya” untuk membaca serangkaian Al Fatihah beliau merelakan waktu sampai 2 jam lamanya. Berkirim Al Fatihah. Subhanallah. Itu perilaku orang yang telah jelas dakwahnya. Jelas kontribusinya bagi Islam rahmat bagi alam semesta.

Lalu muncullah generasi baru, generasi layar kaca, menjadikan artis mendadak ustadz, yang salah satunya bernama Tengku Wisnu. Dalam sebuah acara TV swasta, dengan entengnya pernah menyatakan Surat Al Fatihah bukan surat untuk kirim-kiriman

Sebenarnya, bagi kita yang faham, kita biarkan saja. Ibarat kata, jika ada anjing menggonggong, kafilah berlalu. Bukan malah kafilahnya ikut menggonggong.

Permasalahan yang harus diperhatikan ialah, saat orang awam yang sama sekali tidak fahamnya dengan Tengku Wisnu itu terpengaruh dan lebih berkiblat pada publik figur yang sempat menjadi idola remaja di eranya, ketimbang percaya dengan para Kyai yang jelas mumpuni ilmunya dan hanya mengabdikan hidupnya demi menegakkan ajaran Islam.

Sudah saatnya, kita “turun gunung” untuk memberantas virus-virus kebencian terhadap amaliyah Aswaja, untuk generasi Isalam mendatang lebih ramah dan bijak. Tidak asal menghakimi dan mensesat-sesatkan orang lain.

Pilihan kita hanya satu: Apakah generasi penerus kita mendatang adalah Generasi Gus Miek, atau kita ingin anak cucu kita menjadi Generasi Tengku Wisnu dalam pemahaman agamanya? Jika ingin anak-anak kita menjadi seperti yang pertama, ayo kita pondokkan anak-anak kita ke Pesantren-pesantren di bawah asuhan para Kiyai. Aku menanti aksi nyata untuk anak-anakmu…

 

Oleh: Shuniyya Ruhama

(Pengajar Pondok Pesantren Al Istiqomah Weleri-Kendal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Para Penentang Pancasila Agar Tinggalkan Indonesia

KH Said Aqil Siradj minta para Penentang Pancasila agar tinggalkan Indonesia. Ketua Umum Pengurus Besar ...