Arab Saudi Provokasi Iran dengan Eksekusi Sheikh Nimr al-Nimr

Website Islam Institute

Arab Saudi Provokasi Iran dengan Eksekusi Sheikh Nimr al-Nimr

WASHINGTON – Mengungkap misteri di balik eksekusi Sheikh Nimr al-Nimr oleh Rezim Diktator Saudi. Lalu siapakah sesungguhnya Blcak and White Daesh itu? Anda akan tahu sesudah membaca artikel berikut ini.

 Berikut ini ialah artikel yang ditulis oleh *Shireen T. Hunter seorang professor peneliti di Georgetown University’s School of Foreign Service. Penulis ini mencoba menggali hal-hal misteri di balik eksekusi Sheikh Nimr al-Nimr oleh Arab saudi. Tulisan ini semoga dapat menambah wawasan pengetahuan kita soal kemelut hubungan antara Arab Saudi dan Iran. Selamat mengikuti….

***

Misteri Eksekusi Sheikh Nimr Oleh Rezim Diktator Saudi

Arab Saudi pada akhirnya mengeksekusi seorang ulama ternama, Sheikh Nimr Baqir al-Nimr, walaupun beberapa pemimpin agama baik dari muslim dan lainnya bahkan PBB serta sejumlah pemimpin politik sudah mendesak (setidaknya secara pribadi) Arab Saudi untuk membatalkan hukuman mati tersebut.

Dilihat dari sudut pandang logika, eksekusi ini bukan termasuk dalam kepentingan jangka pendek dan jangka panjang Arab Saudi. Tapi eksekusi dapat dipahami selaku strategi (Saudi) untuk memprovokasi Iran supaya nantinya (tanggapan Iran) dapat jadi pembenaran bagi Saudi untuk secara angkatan bersenjata melaksanakan penyerbuan ke negara tersebut.

Terang, Arab Saudi nggak percaya bahwa kerajaan itu dapat memenangkan perang kepada Iran, setidaknya nggak mudah dan tentu saja nggak dapat sendirian. Tetapi Arab Saudi mungkin dapat mengandalkan sejumlah negara Arab dan non-Arab untuk berkoalisi dalam usaha (menyerbu Iran) ini. Beberapa negara-negara Arab, terutama Uni Emirat Arab, tentu saja akan terlalu suka untuk melakukannya. Lainnya, seperti Qatar dan Kuwait dapat diintimidasi atau disuap supaya mau berpartisipasi.

Sedang Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, akan terlalu tergoda untuk ikut melompat naik kereta musik itu. Bagaimanpun juga, Erdogan menyaksikan Iran selaku pewaris kekaisaran Shafawi, yang jadi hambatan nyata untuk mencapai mimpinya menciptakan lagi Kekaisaran Ottoman. Dieksekuniya Sheikh Nimr enggak lama sesudah perjumpaan Erdogan dengan Raja Salman ialah terlalu terkait dalam hal ini. Pakistan mungkin saja ikut berkoalisi, ini terkait komitmennya untuk membela Britania kepada ancaman eksternal.

Blcak and White Daesh

Tapi, usaha Arab Saudi untuk memprovokasi Iran supaya terpancing reaksi aksi anarkis dan dengan sedemikian sungguh-sungguh memulai perang dalam harapan bahwa tindakan aksi anarkis Iran ini akan menciptakan keributan di lingkaran politik Washington, terutama di Kongres, ialah supaya nantinya Amerika Serikat terpaksa (punya alasan-red) untuk campur tangan dalam konflik dengan cara turut menyerbu Iran. Dengan intervensi AS kepada Iran, Saudi menginginkan, akan sukses menyingkirkan Iran sekaligus seluruh problem kerajaan itu kepada Iran.

Tetapi ini cuma spekulasi (Saudi) belaka. Arab Saudi selama beberapa waktu sudah mencoba untuk memprovokasi Iran. Pertama pada intervensi angkatan bersenjata Saudi di Bahrain, lantas pada usaha Saudi untuk menggulingkan rezim Assad kemudian diikuti oleh pemboman Kedutaan Besar Iran di Beirut pada tahun 2013, dimana hal itu mematikan sejumlah penduduk Lebanon serta atase kebudayaan Iran.

Baru-baru ini, selama upacara haji, pemerintah Saudi menghina dua pemuda Iran dan mematikan sejumlah besar peziarah Iran. Pemerintah Saudi, lantas, sengaja menciptakan beberapa kerepotan bagi para pejabat Iran yang berusaha untuk menemukan, mengidentifikasi, dan mengembalikan jasad para korban ke Iran. Provokasi lain, tentu saja, perang skala full yang dilancarkan Arab Saudi ke Yaman kepada apa yang diklaim kerajaan itu selaku pemberontak sokongan Iran.

Provokasi lain yang masih hangat, terjadi bulan lalu saat pihak berwenang Nigeria menangkap pemimpin Syiah di negara itu, Sheikh Ibrahim Zakzaki. Prajurit Nigeria juga mematikan hampir seribu orang-orang Syiah untuk sebuah alasan palsu dan mengada-ada.

Loading...
loading...

Menyusul penangkapan Sheikh Zakzaki ini, Raja Salman Saudi diadukan sudah mengucapkan selamat kpd presiden Nigeria atas”penanganan efektif” kepada terorisme (definisi raja ini kepada terorisme tampaknya meluas sampai meliputi ketaatan dalam menjalankan ritual keagamaan secara damai).

Sementara itu, penindasan kepada orang-orang Syiah di negara-negara lain, terutama Azerbaijan, terus ditunaikan sebagaimana tindakan mematikan tanpa pandang bulu yang ditunaikan kepada mereka oleh kelompok-kelompok anggota milisi yang dipengaruhi Saudi di Pakistan dan Afghanistan, hal ini dapat dilihat dalam pemenggalan seorang gadis Hazara berumur 9 tahun, pada bulan November lalu, di Afghanistan.

Iran nggak akan mungkin mau meladeni provokasi terbaru Arab Saudi ini, sebagaimana negara itu menolak provokasi yang semacam itu sebelumnya. Misalnya, Iran nggak membalas intervensi angkatan bersenjata Saudi dengan mengirimkan pasukan ke Bahrain untuk membela nggak cuma orang Syiah Bahrain tetapi juga anak cucu Iran di Bahrain. Negara itu juga nggak secara langsung ikut campur di Yaman, dan keterlibatannya di Suriah tetap terbatas. Negara tersebut nggak bereaksi keterlaluan kepada pemboman kedutaan besarnya di Beirut atau kepada penganiayaan penduduk dan jemaah negaranya selama haji kemarin. Tapi bagaimanapun juga, senantiasa ada risiko bahwa emosi rakyat dapat terpicu dan bahwa kubu garis keras Iran, untuk target pribadi mereka sendiri, dapat (menunggangi hal itu) dan menekan pemerintah untuk merespon lebih kuat.

Dalam kondisi ini, terlalu penting untuk nggak meremehkan risiko konflik yang dapat berakhir dengan melibatkan Amerika Serikat dalam perang Timur Tengah lain yang nggak diinginkan. Arab Saudi waktu ini terlalu mirip binatang liar yang cedera dan marah, sebab beberapa rencananya untuk menggapai hegemoni regional jadi kacau balau, belum lagi hal itu sudah membebani kerajaan dengan beban finansial yang besar.

Dan yang paling penting, mereka masih mendidih dengan kemarahan atas berhasilnya perjanjian nuklir antara Iran dan P5 +1. Tidak mau (instrospeksi) dengan menyaksikan bagaimana nggak masuk akalnya ambisi mereka selama ini dan percaya bahwa mereka dapat menyuap atau mengintimidasi seluruh pihak untuk melaksanakan keinginannya, Saudi menyalahkan Iran atas kandasnya ambisi kerajaan.

Barat dalam hal ini sudah terlalu membantu untuk memelihara delusi (khayalan) Arab Saudi itu dengan melalaikan pelanggaran menakutkan kepada hak Syiah di negara itu dan di tempat lain serta dengan keterlaluan mengutuk Iran. Tapi pada waktu yang sensitif ini, terlalu penting bagi power Barat untuk nggak ikut campur pada permainan berlebihan terang Arab Saudi ini.

Memanasnya konflik sektarian di Timur Tengah nggak cuma akan merugikan Iran. Ini akan menyebar ke Kaukasus dan Asia Selatan. Dengan Iran diserang, seluruh Syiah akan merasa berisiko jadi korban genosida habis-habisan. Terakhir, perang Timur Tengah baru kepada Iran akan hampir pasti melibatkan Cina-Rusia dan dengan sedemikian akan berkemungkinan besar memerlukan risiko konflik power besar. Rusia dan Cina nggak akan mungkin tetap pasif seperti yang mereka lakukan pada tahun 2001 dan 2003.

Dalam kondisi ini, kekuatan-kekuatan besar, terutama negara-negara Barat, mesti menahan Saudi serta melarang sekutu Timur Tengah dan Asia Selatan mereka supaya enggak ikut terseret ke dalam dendam Saudi kepada Iran. Yang paling penting, mereka seluruh akhirnya mesti menanyakan pada diri sendiri apakah Arab Saudi sungguh-sungguh berharga (bagi Barat) sesudah seluruh sakit kepala yang disebabkannya?. (AL/ARN)

Professor Shireen T. Hunter* Shireen T. Hunter ialah seorang proffessor peneliti di Georgetown University’s School of Foreign Service. Ia juga seorang cendekiawan terkemuka CSIS dimana ia memimpin Program Islam mulai dari tahun 1998-2005. Ia sudah mecatat 7 buku dan 3 monograf serta merupakan editor dan kontributor dari ketujuh buku serta ketiga monografnya. Ia juga berkontribusi selaku editor untuk 35 buku dan mecatat 40 artikel jurnal.
loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :