Arab Saudi: Panggilan Ahmad dan Muhammad VS Abdul Aziz

Website Islam Institute

Di Arab Saudi: Panggilan Ahmad dan Muhammad VS Abdul Aziz. Fenomena panggilan Ahmad dan Muhammad dengan intonasi yg membentak. Panggilan Ahmad dan Muhammad ini dimaksudkan untuk merendahkan orang yg dipanggilnya.

Semenjak ke-1 kali menginjakkan kaki di Arab Saudi tahun 2010 lalu, sebetulnya ada beberapa hal yg kurang nyaman dan janggal. Salah satunya ialah pemanfaatan panggilan “Ahmad” atau “Muhammad” ke orang lain atau orang asing yg ‘derajatnya’ dinilai lebih rendah.

Di hotel, seorang supervisor yg Saudi acapkali memanggil petugas Room Service anak buahnya, yg kebetulan non-Saudi dengan panggilan Ahmad atau Muhammad dengan intonasi yg membentak. Di restoran-restoran juga seperti ini. Orang-orang Saudi acapkali memanggil pelayan reatoran dengan panggilan Ahmad atau Muhammad, pun juga dengan intonasi yg kurang nyaman terdengar. Membentak dan lainnya.

Bukan cuma di 2 bagian tadi. Pemanfaatan panggilan yg (bagi saya) tidak sopan ini, merebak di segala bagian.

Kenapa tidak mempergunakan kata Akhi, Shadiqi, atau apalah sapaan dan oanggilan lain selain mempergunakan nama Baginda Sayyidina Rasulullah Muhammad saw? Pertanyaan ini yg kadang seperti bom waktu yg ingin sekali diledakkan di depan orang-orang Saudi. Padahal, sebagian dari pemuja Saudi di Indonesia bahkan meributkan apabila mecatat saya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan singkatan saw. Tidak menghormati Baginda Rasul katanya. Ya salaam…

1 waktu, terjadilah itu. Waktu itu saya mengajak rekan saya makan di salah restoran makanan khas Timur Tengah. Di sebelah saya, ada 4 orang Saudi yg nyaris bersamaan datangnya.

Mereka lalu memanggil pelayan restoran duluan untuk memesan makanan. “Ya Muhammad! Ta’al! Wahai Muhammad, sini!”, kata salah seorang di antara mereka dengan intonasi yg keras. Pelayan yg dari wajahnya diketahui ialah orang Bangladesh, mendekati dengan mimik datar. Mungkin dalam benaknya telah biasa dia dibentak-bentak.

Mereka memesan 2 porsi makanan yg 1 porsinya cukup untuk makan 2 orang Saudi atau 4 orang Indonesia seperti saya.

“Nah, saatnya meledakkan bom waktu”, gumam saya.

Saya pun lalu memanggil pelayan. Saya tidak mempergunakan panggilan biasa, apalagi panggilan seperti orang-orang Saudi.

Loading...
loading...

“Ya Abdalaziz! Ta’al!” Hai Abdul Aziz, sini!”, teriak saya. Sontak si pelayan kaget tapi raut mukanya tersenyum seraya mendekati saya dan rekan saya.

Ternyata 4 orang Saudi di samping saya tadi berdiri juga mendekati. Mereka lebih dahulu membombardir saya dengan pertanyaan dan pernyataan ketidaksukaan.

“Kenapa engkau panggil dia (pelayan ini) dengan panggilan Abdulaziz? Abdulaziz ialah kakek kami yg melahirkan kerajaan yg diberkahi Allah ini! Kau su\’ul adab orang Indonesia!”, hardik dia seraya menggerakkan tangan khas orang Saudi kalau berbicara.

Panggilan Ahmad dan Muhammad di Arab Saudi

Saya menjawab mereka, “Lalu kenapa engkau memanggil dia (pelayan ini) dengan panggilan Muhammad? Muhammad ialah Nabi dan Rasul yg mulia. Ia bukan cuma mengajarkan orang Arab mengenai hal indahnya ber-Islam dengan keagungan akhlaknya pada sesama! Melainka ia mengajarkan dan mendakwahkan Islam bagi semua ummat manusia. Sehingga kami yg jauh dari kota lahirnya Rasulullah yg diberkahi ini dapat keluar dari zaman kegelapan ke cahaya Islam! Lebih su\’ul adab siapa?”

Mereka masih misuh-misuh tapi intonasinya telah mulai datar. Saya tidak memperdulikan, saya memesan makan saja ke pelayan ini. Dia tersenyum lebar.

Selesai makan, kami (saya dan rekan serta 4 orang Saudi tadi) nyaris bersamaan keluar dari restoran. Mereka masih misuh-misuh. Sayup terdengar salah seorang mereka berkata, “Sudahlah mereka orang miskin yg mencari hidup di Saudi.”

Saya tidak melayaninya, saya tekan remote kunci mobil saja. Saya dan rekan saya naik. Saya buka kaca jendelanya seraya memasang kaca mata hitam. Saya lambaikan tangan ke mereka seraya berkata, “Assalamu’alaikum. Semoga Allah memberikan rezeki padamu untuk berbelanja mobil baru”.
Dari kaca spion saya menyaksikan mereka terpana.

***

Mungkin mereka baru tahu ada orang asing sombong yg punya nyali menyombongi mereka di sana.
Mungkin juga, seperti biasanya, kalau saya menceritakan mengenai hal Arab Saudi dari sisi lainnya, ada yg menyimpulkan bahwa saya ialah pembenci Saudi. Padahal, ah sudahlah. Saya telah tahu kadar ‘kelelakian’ mereka.

*Mobil yg saya naiki Chevrolet Suburban pabrikan General Motors versi teranyar waktu itu. Sementara mobil mereka sedan buatan Jepang dengan produksi tahun 7 tahun ke belakang.

Loading...

Azzam Mujahid Izzulhaq, Panggilan Ahmad dan Muhammad di Arab Saudi.

loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :