ANTARA IBADAH HAJI BERULANG DAN KEPEDULIAN SOSIAL

Loading...

Bila seseorang melaksanakan ibadah haji berulang kali kemudian meninggal dunia. Tak ada lagi nilai tambah atau pahala bagi ibadahnya. Hukum mengulang ibadah haji mampu bergeser jadi makruh, bahkan haram sebagaimana akan dijelaskan nanti.

Suatu hari, dalam perjalanan haji ke Tanah Suci, Abdullah bin Mubarak singgah di Kufah. Tanpa sengaja, Mubarak menyaksikan perempuan sedang memungut bangkai ayam di tempat sampah.

“Telah 3 hari ini, saya dan anak-anakku ndak makan,” cerita wanita itu sedih. Menguping cerita itu, Mubarak mengambil perbekalannya dan memberikan pada wanita itu. “Jangan kamu makan bangkai yang diharamkan itu,” katanya.

Perempuan itu cuma mampu termangu, ndak percaya. Padahal barang yang diberikan Mubarak itu ialah bekal untuk beribadah haji. Akhirnya perempuan itu menerima sedekah Mubarak dengan full rasa syukur.
Sebab bekal hajinya telah enggak mencukupi, Mubarak mengambil keputusan tinggal di kota itu. Ia baru pulang ke tanah kelahirannya waktu para jemaah haji pulang ke negeri masing-masing.

Tidak dinyana sampai di kampungnya, keluarga dan tetangga memberikan selamat padanya. Tak kecuali mereka yang menunaikan ibadah haji pada waktu itu. Sebagian orang malah menjelaskan, “Bukankah engkau membawa titipan uangku dan saya ambil kembali tatkala kita berjumpa di Arafah?” Seperti ini pula yang lain meneruskan. “Engkau juga memberi minum saya sewaktu kita berjumpa di Mekkah?” yang lain memberikan pengakuan.

Mubarak bingung. Beberapa kali Mubarak menolak jikalau dirinya berangkat haji, tetapi orang lain terutama yang berangkat haji malah mengisahkan kebersamaan mereka dengannya di Tanah Suci. Tapi lambat laun kebingungan Mubarak terjawab tatkala suatu malam ia bermimpi. “Hai Mubarak, Allah swt. menerima sedekahmu. Lalu Dia menyuruh seorang Malaikat menyerupainya untuk menggantikanmu melakukan ibadah haji.”

Subhanallah… Cerita tersebut selayaknya jadi renungan bareng. Seorang Ibnu Mubarak yang ingin sekali menunaikan ibadah haji, tetapi sebab nuraninya untuk membantu perempuan miskin yang sekarat kelaparan lebih mendesak. Ia mesti merelakan ndak mampu menunaikan ibadah haji di tahun itu.

Sekarang kita lihat fenomena yang ada. Tiap-tiap tahun, jutaan ummat Islam berhaji. Di antara mereka, ndak tidak banyak jemaah yang telah pernah menunaikan ibadah haji. Mereka rela menggelontorkan uangnya untuk menunaikan ibadah haji beberapa kali terlepas dari niat mereka. Apakah murni untuk keutamaan ibadah ataukah sekedar prestise di depan warga. Malahan mereka yang berkantong tebal, pun enggak malu-malu mengajak anak-anaknya yang masih kecil.

Padahal di sekeliling, begitu beberapa orang miskin yang menggelepar kelaparan. Beberapa pula orang tua yang telah lama antri untuk memperoleh jatah berangkat haji. Seandainya dana-dana haji dari orang-orang yang telah pernah menunaikan ibadah haji tetapi ingin berhaji kembali, dipakai untuk membantu orang-orang miskin. Tentu lebih bermakna. Entah itu diberikan dalam bentuk cash money selaku modal bekerja. Atau dimanfaatkan untuk memberdayakan mereka dengan memberikan bekal ketrampilan.

Oleh sebab itu betapa ironisnya tatkala beberapa orang susah mencari sesuap nasi dan  pengangguran merajalela. Tapi sebagian orang yang diberi kelimpahan rizki melakukan ibadah haji beberapa kali dan masa bodoh kepada keberadaan mereka.

ANTARA IBADAH HAJI BERULANG DAN KEPEDULIAN SOSIAL

Anatara Ibadah Haji Berulang dan Membantu Orang Miskin

“…Mengerjakan haji ialah kewajiban manusia kepada Allah, yaitu bagi orang yang sanggup menggelar perjalanan ke Baitullah..” (QS. 3: 97). Inilah dasar perintah kewajiban berhaji sekali dalam seumur hidup. Sedangkan penetapan hukum sunnahnya didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad. “Sesiapa saja ingin menambah atau mengulangi ibadah haji itu hukumnya sunnah.”

Mengacu dasar teologis di atas, kewajiban haji sesungguhnya sudah gugur kalau orang telah menjalankan sekali saja dalam hidupnya. Tetapi seringkali kita menyaksikan orang yang berduit biasa menjalankan ibadah haji beberapa kali. Motivasi untuk beberapa kali ibadah haji ini, menurut Dra. Erna Karim, M.Si, staf pengajar sosiologi UI. Sebab haji itu masih didominasi oleh nilai yang mengumumkan bahwa haji ialah suatu eskalasi untuk naik ke jenjang sosial yang lebih tinggi. Haji punya makna derajat sosial supaya memperoleh pengakuan sosial dari warga di mana dia berada. Haji dinilai mempunyai status yang tinggi di warga Islam. Sebab itu enggak mengherankan, orang kadang rela menjual tanahnya atau habis-habisan berjuang supaya mampu berangkat haji.

Permasalahannya, cuma sebab ghirah ingin meningkatkan spiritualnya dengan berangkat haji kedua kali atau ketiga kali dan seterusnya. Terkadang orang lupa dengan keadaan orang-orang di sekitarnya. Sikap cuek dan enggak acuh ndak jarang dipertontonkan. Egoisme spiritual jadi lebih dominan daripada berpikir untuk kemaslahatan ummat. Dalam konteks inilah, bila kepergiannya menafikan orang-orang miskin yang ada di sekitarnya. Sesungguhnya sama saja sengaja menciptakan jurang kesenjangan bertambah lebar.

loading...

Padahal Rasulullah saw. menjelaskan bahwa sesama muslim ialah saudara. Artinya, kalau salah seorang menderita, sesama Muslim seyogyanya turut merasakan kesengsaraan yang dialaminya dengan cara membantunya. Tak malah menjaga jarak cuma gara-gara faktor ekonomi yang tak sama.

Dalam hadits lain, Rasulullah Saw juga mengingatkan dengan keras bahwa siapa saja yang ndak mau memperhatikan urusan kaum Muslim. Maka ia ndak termasuk kubu Nabi Muhammad Saw. Beliau juga memberikan sinyalemen, ndak beriman orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya menggelepar kelaparan (padahal ia mengetahui keadaan tetangganya itu).

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengkritisi bahwa orang-orang yang lebih antusias menjalankan haji sunnah berulang-ulang dearipada memberi sedekah kpd para tetangganya yang kelaparan dan hidup dalam kesengsaraan selaku orang yang terpedaya (ghurur) sebab melalaikan prioritas dalam beribadah. Masih menurut Imam al-Ghazali, ibadah haji yang kedua kali dan seterusnya sesungguhnya hanyalah sunnah. Sementara peduli pada orang miskin ialah hal yang mesti didahulukan.

Sebab itu, selaras dengan pandangan agama, orang wajib menyaksikan sekelilingnya terlebih dahulu. Masih adakah di daerah tersebut orang-orang miskin atau ndak. Sebelum mengambil keputusan berangkat haji untuk yang kedua kali, ketiga dan seterusnya. Kepergian seseorang untuk mengulang hajinya mesti mempertimbangkan keadaan sosial warga di sekitarnya sebab dalam beragama, kesalahen individu ndak mampu menafikan kesalehan sosial.

Tentu ndak patut, berangkat haji berulang bila di sekelilingnya masih beberapa orang yang begitu kerepotan memenuhi kebutuhan pokok sehari-harinya. Bahkan mengalihkan biaya haji ulang untuk kepentingan fakir miskin, anak yatim, atau pun kepentingan sosial lainnya lebih utama. Dan jauh lebih berguna daripada berhaji untuk kedua kalinya dan seterusnya.

Memang ada ketentuan bahwa seseorang dibolehkan melaksanakan ibadah haji lebih dari sekali sebab alasan syar’i. Yaitu ndak terpenuhinya bagian syarat dan rukun haji waktu melakukan haji sehingga wajib mengulang dan untuk menghajikan orang lain (yang telah meninggal) selaku amanat yang wajib ditunaikan.

Selain dua alasan tersebut, hukum mengulang haji terbilang sunnah. Akan tetapi dalam keadaan tertentu, dengan mempertimbangkan etika dan kemaslahatan. Serta adanya perubahan ’illat berupa kebutuhan yang bersifat mendesak di waktu warga dilanda krisis dan kemiskinan. Maka hukum mengulang ibadah haji mampu bergeser jadi makruh, bahkan haram.

Di samping itu, bila seseorang melaksanakan ibadah haji berulang kali kemudian meninggal dunia, ndak ada lagi nilai tambah atau pahala bagi ibadahnya. Tak sama bila cukup berhaji sekali, tetapi biaya yang kedua kalinya, dipergunakan untuk membantu orang-orang miskin (menyekolahkan mereka sampai jenjang yang tinggi misalnya). Atau untuk membekali berbagai ketrampilan dan pengetahuan kpd warga miskin supaya mereka lebih kreatif dan produktif. Maka ada nilai tambah yang mampu didapatinya meski telah meninggal dunia. Bukankah perbuatan tersebut mampu tergolong selaku amal jariyah?

Ibadah Haji Sekali Seumur Hidup Atau Haji Berulang Kali?

Dalam al-Qur’an, beberapa ayat yang menyebutkan bahwa perintah amal sosial senantiasa beriringan dengan amal individual. Seperti perintah shalat sering diiringi dengan penunaian zakat dan amal shaleh. Sebab itu, kewajiban ibadah haji sekali seumur hidup seperti disabdakan Nabi saw. ialah tepat. Dan bagi yang mempunyai biaya lebih, maka alangkah baiknya mengalihkan biaya hajinya untuk kepentingan sosial. Apalagi seringnya berhaji ndak senantiasa berbanding lurus dengan kesalehan itu sendiri, baik pribadi maupun sosial.

Malahan bila direnungkan, ada beberapa hikmah yang mampu didapatkan tatkala orang ndak kemaruk untuk terus mengulang hajinya. Pertama, sarana mengendalikan egoisme spiritual. Ummat Islam diajak untuk ndak memikirkan diri sendiri semata, tetapi berpikir dalam tataran sosial.

Kedua, dengan cukup sekali berhaji artinya memberikan kesempatan kpd orang lain yang belum menunaikan rukun Islam yang kelima. Rasanya ndak etis membiarkan orang-orang yang telah sepuh dan telah lama dalam daftar tunggu (waiting list) terus menanti. Tergeser oleh orang-orang yang telah berhaji tetapi ingin berhaji lagi sebab punya biaya lebih.

Ketiga, kewajiban berhaji sekali mendukung orang untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Sehingga waktu panggilan haji datang sudah siap secara fisik dan mental dan dapat melaksanakannya semaksimal mungkin.

Walhasil, relijiusitas seseorang ndak diukur dari frekwensi dan tekunnya ritual ibadahnya kpd Sang Khaliq belaka. Melainkan juga seberapa pekanya ia kepada orang-orang di sekitarnya. Keshalehan individu mesti berbanding lurus juga dengan keshalehan sosial. Ibadah sesungguhnya ndak cuma komunikasi yang baik seorang hamba kpd Khaliq-nya melainkan juga komunikasi yang baik kpd sesamanya. Wallohu ‘alam….

Save

Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :