Jasa Web Alhadiy
Berita Indonesia

ANNAS Bogor Catut NU, Ketua ANNAS Dinasehati NU Jabar

ANNAS Bogor Catut Logo NU, Ketua ANNAS Dinasehati NU Jabar

 

Tokoh NU Jabar yang biasa dipanggil Pak Deden tersebut berpesan kepada panitia acara Pelantiakn Penguru ANNAS Bogor, terutama kepada Ketua ANNAS KH. Athian Ali agar tidak mengklaim organisasi NU untuk kepentingan gerakannya. Apalagi gerakan intoleran itu tidak sejalan dengan PBNU.

 

Islam-Institute, Bogor Jawa Barat – Acara Pengukuhan dan Pelatihan Pengurus Aliansi Nasional Anti-Syiah (ANNAS) yang akan digelar pada Ahad, 22 November 2015, di Aula KONI Gelanggang Olahraga Kota Bogor sedang panen masalah. Sebab di dalam undangan tersebut mereka mencantumkan logo NU,  organisasi Islam terbesar  di Indonesia. Membaca berita tersebut, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat (PWNU-Jabar) H. Kiagus Zaenal Mubarok langsung angkat bicara.

“Saya melihat pada brosur yang beredar di media online itu tercantum logo Nahdlatul Ulama tanpa menyertakan nama daerah tertentu. Ini bisa menjadi masalah karena dengan begitu muncul seakan-akan itu organisasi NU secara nasional. Kedua, PCNU setempat (Kota Bogor-Red) juga tidak mengetahui apalagi terlibat dalam acara tersebut,” ujarnya kepada Katakini.com, Jumat 20/11/2015.

Tokoh NU Jabar yang biasa dipanggil Pak Deden tersebut berpesan kepada panitia acara Pelantiakn Penguru ANNAS Bogor, terutama kepada Ketua ANNAS KH. Athian Ali agar tidak mengklaim organisasi NU untuk kepentingan gerakannya. Apalagi gerakan intoleran itu tidak sejalan dengan PBNU.

Pengajar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran itu memberi pandangan, untuk menjadi besar dan mendapat tempat di masyarakat NU dan Muhammadiyah itu tidak sebatas memakai acara gelar deklarasi dan penggalangan seperti acara politik melainkan tumbuh berkembang dari rahim pendidikan, sosial dan kultural.

“Besarnya NU selain karena para aktivisnya, para kiai-kiai itu mendidik masyarakat dari pesantren dan madrasah. Selain itu NU juga lekat dengan kegiatan sosial dan gerakan kultural. Dan lebih penting lagi Pak Kiai Athian Ali harus paham, NU besar karena sikap sabar, bukan karena sikap emosional apalagi memakai tindakan barbar seperti teror dan kekerasan.

Deden menambahkan, Organisasi NU juga tidak besar karena sering publikasi di media apalagi hanya publikasi aliansi dengan deklarasi. Menurutnya, Bangsa Indonesia itu terwujud dan besar bukan karena acara proklamasi 17 agustusnya, melainkan perjuangannya pemimpin dan rakyatnya dalam masa panjang melalui dan yang lebih penting lagi adalah kontribusi kepada bangsa dan negara.

“Itulah mengapa NU tetap menarik masyarakat karena NU dengan Islam-Nusantaranya lebih menekankan pentingnya Islam yang partisipatif ketimbang Islam yang aspiratif. Islam partisipatif itu memberi, sedangkan Islam aspiratif itu meminta atau menuntut. Apakah kita orang Islam itu kerjaannya hanya meminta dan menutut saja tanpa mau memberi?,” terangnya memberikan masukan kepada kelompok yang oleh Kiagus disebut sebagai kelompok Islam skriptual dan simplistis itu.

Kepada kelompok ANNAS pipmpinan KH. Athian Ali itu Kiagus berharap agar mereka segera melakukan klarifikasi secara terbuka. “Jika tidak, itu berarti memang ada kesengajaan untuk memanfaatkan NU. Dan itu akan menjadi masalah besar di masyarakat,” pungkasnya.  (Al/Katakini)

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker