Angkatan bersenjata AS Jatuhkan Bom 500 Pon ke Masyarakat Sipil Suriah

SURIAH – Militer AS menjatuhkan bom seberat 500 Pon ke penduduk sipil Suriah. Laporan terbaru menyebutkan bahwa angkatan bersenjata AS menghujani sebuah desa di Suriah. Serbuan terjadi pada bulan lalu dengan bom seberat 500-pon (226,796 kg). Sehingga menyebabkan kematian puluhan wanita dan bocah-bocah bukan teroris ISIS. Sedemikian sebuah laporan menjelaskan.

Pada tanggal 19 Juli, pesawat A-10 dan B-52 milik angkatan bersenjata AS menjatuhkan bom seberat 500-pon di desa Tokhar. Di pedesaan di Aleppo. Setidaknya 95 orang mati akibat bom tersebut, Washington Post memberitahukan pada hari Jumat.

Beberapa kubu hak asasi menyebutkan korban mati mencapai 200 orang. Hitungan total ini diketahui sesudah orang-orang yang cedera meninggal sebab luka-luka mereka.

Sementara pejabat angkatan bersenjata AS mengakui serbuan tersebut mematikan sekelompok besar teroris ISIS. Aktivis Suriah menjelaskan korban dalam serbuan di desa Tokhar sebagian besar ialah perempuan dan bocah-bocah. Mereka sedang mencari penjagaan dari perang, kata laporan Washington Post.

 

 

Serbuan Angkatan bersenjata AS Tewaskan 203 Masyarakat Sipil Suriah

Menurut laporan yang disusun oleh Airwars, kubu yang berbasis di Inggris yang melacak korban sipil, menyebutkan 203 penduduk sipil mati. Sebanyak 70 dan 80 di antaranya teridentifikasi identitasnya, termasuk 11 bocah-bocah. Di antara para korban ialah seorang lelaki bernama Suleiman al Dhaher. Dia mati bersama-sama lima anak dan cucunya, termasuk dua bayi, menurut laporan itu.Beberapa laporan menjelaskan wilayah yang terkena serbuan udara AS ialah sekolah yang ditempati oleh pengungsi Suriah.

“Para korban pembunuhan masal serbuan angkatan bersenjata AS ialah penduduk sipil. Bukan anggota ISIS (Daesh)”. Washington Post mengutip pernyataan Abu Abdullah, eks warga desa Tokhar yang sekarang tinggal di luar Suriah.

Para pejabat angkatan bersenjata AS, bagaimanapun, menjelaskan bahwa orang-orang yang berkumpul di Tokhar di malam hari serbuan, bukan penduduk sipil. Sebaliknya, mereka teroris yang mempersiapkan serbuan balik ke kota terdekat dari Manbij. Di mana pertempuran yang intens sedang berlangsung, menurut mereka.

Chris Woods, direktur Airwars menjelaskan bahwa dalam konflik seperti ISIS sengaja mempergunakan tameng manusia. ”Hal itu enggak terelakkan bahwa penduduk sipil akan mati.”

“Dimana kita suci tegang dengan [pejabat militer AS] yang cenderung menggambarkan pelaporan korban sipil murni selaku propaganda,” kata Woods. “kita berlebihan sering menyaksikan gabungan meremehkan laporan kredibel kubu HAM, aktivis atau organisasi kemanusiaan lainnya.”

Angkatan bersenjata AS meremehkan hitungan total korban penduduk sipil

The Washington Post menjelaskan Komando Sentral AS (CENTCOM) secara dramatis meremehkan hitungan total korban penduduk sipil. Dan bahkan menghindari penyelidikan insiden, dengan mengakui “info yang diverifikasi telah cukup.”

Menurut laporan itu, bahkan pada kasus yang jarang terjadi, seperti insiden di desa Tokhar, CENTCOM sudah ditekan untuk menyelidiki. Akan tetapi proses dapat berlangsung berbulan-bulan. Akhirnya, para pejabat angkatan bersenjata akan pasti mengakui korban mati jauh lebih rendah dari hitungan total yang diadukan. Bahkan ditampilkan dalam gambar sesudah insiden itu.

Direktur Amnesty International, Neil Simmonds, menjelaskan bahwa “kita seluruh tahu bahwa hal itu terlalu meremehkan dan menakutkan.”

“Ini sungguh-sungguh berbahaya. Kalau Anda menjelaskan sudah melaksanakan (ribuan serbuan pemboman), sementara Anda cuma menjelaskan mematikan 55 penduduk sipil,” kata Simmonds. Dia mengacu pada laporan hitungan total penduduk sipil akibat serbuan angkatan bersenjata AS. Serbuan pemboman yang sudah dikonfirmasi lebih dari 11.000 serbuan udara yang dilaksanakan di Irak dan Suriah semenjak 2014.

“Lalu Anda mungkin berpikir Anda melaksanakan pekerjaan yang brilian,” tambahnya.

Lebih dari 500 penduduk sipil sudah mati cuma antara 13 Agustus dan 19 Agustus di kota-kota Suriah. Dari Aleppo, Idlib, Damaskus, dan Hama. Setidaknya 96 bocah-bocah dan 73 perempuan termasuk di antara korban. Ini menurut angka yang diumumkan oleh Komite Lokal Koordinasi (Local Coordination Committees/LCC), sebuah jaringan aktivis di Suriah.

Pada bulan September 2014, militer AS dan beberapa sekutunya mulai melaksanakan serbuan udara di dalam wilayah Suriah. Serbuan tersebut diklaim dilaksanakan kepada teroris ISIS. Yang mana beberapa dari anggota ISIS awalnya dilatih oleh CIA untuk melawan pemerintah Suriah.

Namun, seperti yang sudah-sudah, mana ada lembaga atau megara yang berani menuntut ke pengadialan internasiona kepada angkatan bersenjata AS?

 

Simpan

Simpan

Simpan

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :