Ancaman Musuh dalam Selimut Prabowo

Ancaman Musuh dalam Selimut Prabowo
Loading...

Ancaman Musuh dalam Selimut Prabowo

Tidak sedikit yang tak menyadari berita buruk di balik pembukaan file rahasia Amerika. Sesungguhnya, itu juga manuver politik dengan skala yang luas. Amerika sedang memainkan peran penting yang seakan enggak terbaca di permukaan. Nantinya, hal itu akan memicu reaksi berantai yang enggak disadari.

Amerika mempunyai keputusan strategi, saban file rahasia yang berumur 25 tahun lebih, akan dibuka ke publik. Istilahnya deklasifikasi. Tujuannya, supaya alur sejarah mampu direkonstruksi. Sebab biasanya, sejarah cuma ditulis oleh para pemenang. Dengan syarat, data rahasia itu tak membahayakan bagi keamanan Amerika.

Di Indonesia, pemenang tulisan sejarah itu ialah Soeharto. Jadi, sejarah yang dipaksakan ke rakyatnya selama ini ialah versi Soeharto. Orde Baru merekayasa hampir seluruh alur sejarah. Dokumen rahasia Amerika itu akan tidak banyak meluruskan alur bengkok yang sudah memonumenkan Soeharto selama 32 tahun lebih.

Jutaan data mengenai hal genosida 1965 yang dimotori angkatan bersenjata Indonesia, tahun kemarin telah mulai dibuka. Di sana PKI yang jadi kambing hitam. Soeharto, dengan dukungan Amerika sukses menggulingkan Soekarno. Ia yang awalnya tak diunggulkan, sukses meroket dengan cepat seusai atasan-atasannya terbunuh dan dimasukkan ke Lubang Buaya.

Tradisi membuka file rahasia Amerika itu tidak sedikit ditunggu publik. Komnas HAM dan KontraS yang paling getol memintanya. Dengan terbukanya dokumen rahasia itu, mungkin sekali untuk ditunaikan rekonsiliasi. Sebab hakikatnya, pelaku dan korban genosida di tahun 1965 itu ialah korban yang sama.

Mereka dimanfaatkan oleh power yang jauh lebih besar. Mereka saling bunuh, saling menyalahkan, lantas menyesalinya.

Baru saja, Amerika melaksanakan hal yang sama. Data-data soal kejadian 1998, yang menyebabkan Soeharto lengser mulai dibuka. Di sana dengan gampang dijumpai narasi, Prabowo ialah pemberi perintah pelaku penculikan para aktivis waktu itu. Dalam sebuah komunikasi dengan pihak Amerika juga diketahui, Prabowo secara tak langsung menghendaki penggantian Soeharto. Sebab menilainya telah enggak sanggup lagi.

Persoalannya ialah, dokumen 1998 itu baru berumur 20 tahun. Lalu, kenapa momen menjelang Pemilihan presiden ini dipilih oleh Amerika untuk deklasifikasi? Bukankah itu mampu ditunaikan setahun sebelumnya, atau setahun sesudah Pemilihan presiden?

Tak mungkin hal itu tanpa karena. Saban gerak-gerik Amerika telah pasti memperhitungkan kemungkinan terkecil. Satu hal yang pasti, mereka terang berkeinginan ada keuntungan politik.

Misalnya, kenapa mereka berdamai dengan Korut? Sebab Amerika terlibat ketegangan dengan Cina. Langkah itu ditempuh untuk meminimalisir hitungan total gabungan lawan Amerika. Begitu juga waktu Trump mati-matian membela Putin, yang mengakibatkan dirinya dikecam.

Deklasifikasi dokumen Amerika itu bagian tujuannya ialah ingin memperlihatkan superioritas AS di perpolitikan dunia. Bahwa di pelosok manapun, Amerika senantiasa mempunyai peran penting di masa lalu. Kalau dalam dunia seni, para kreator dibujuk secara halus untuk membaguskan citra Amerika, seperti dalam film dan sastra. Dalam politik hal itu ditunaikan dengan deklasifikasi.

Sedangkan target utamanya ialah untuk membuka peluang bagi sosok lain yang digadang-gadangnya. Hujaman tepat ke dada Prabowo ini terang mengindikasikan satu hal, Amerika kelihatan ingin menyingkirkan Prabowo, untuk menaikkan bonekanya yang lain. Prabowo terang pro Amerika. Ia sengaja disisihkan sebab dinilai telah enggak bernilai jual tinggi.

Di saban intrik politik, Amerika tak pernah memasang satu kaki. Di timur Tengah misalnya, Amerika dikabarkan menyuplai senjata untuk para teroris, tapi di sisi lain menampakkan citra sedang memeranginya. Adakah yang curiga, kenapa teroris itu kendaraan dan senjata perangnya produksi Amerika?

Dalam perhelatan Pemilihan presiden 2019 nanti, agaknya boneka Amerika lain yang memperoleh restu. Siapa dia? Siapa lagi jikalau bukan tokoh yang dibocorkan kedekatannya dengan Amerika, oleh Wikileaks tempo hari. Ia yang menunggangi politik dengan isu SARA untuk naik selaku gubernur.

Mestinya memang masih ada kadidat lain, yang kemarin sowan ke Trump Tower. Akan tetapi pilihan sosok angkatan bersenjata lebih berisiko ketika ini. Apalagi presiden dari angkatan bersenjata sebelumnya juga enggak mampu bekerja. Joko Widodo perlu lawan baru yang segar. Yang pandai menipu khalayak dengan topeng suci dan smart. Prabowo dinilai kartu mati. Telah enggak mampu dimainkan lagi.

Ini ialah sinyal tanda bahaya untuk Prabowo. Pria yang sering dikhianati itu akan kembali ditelikung. Untuk itu, ia mestinya sadar dan cepat mengambil langkah realistis menggandeng mayor karbitan itu. Atau siapapun, asal dia mampu maju jadi lawan Joko Widodo sekali lagi.

Hitung-hitungannya memang enggak berlebihan baik, tapi juga enggak berlebihan berantakan. Kalau Prabowo enggak maju kali ini, partainya akan hancur.

Kesempatan untuk maju cuma sekali ini lagi. Selepas 2019, *the rising star* baru bermunculan. Nama Prabowo terang enggak lagi menjual ketika itu. Kecuali kalau ia cuma meneruskan periode seterusnya, seperti Joko Widodo. Ia punya bukti kerja untuk ditunjukkan.

Bau pengkhianatan ini mulai tercium kuat, seusai berita pembukaan file rahasia Amerika ditunaikan. Patronase politik luar negerinya sepertinya mulai ogah merangkulnya. Mereka pastinya juga berhitung secara logis. Apalagi waktu PKS, kawan setianya, dengan manuver dewa mabuknya makin kelihatan menjauh. Kalau enggak cepat diatasi, ini akan jadi akhir yang mengenaskan untuk Prabowo.

Keberadaan musuh dalam selimut Prabowo sudah terbaca semenjak ia memilihnya sendiri. Akan tetapi ia terlena dengan kemenangan kecil di Jakarta. Secara enggak sadar, Prabowo tengah membesarkan ular berbisa di bawah ranjang tidurnya. Sosok yang rela menghalalkan segala cara untuk target politik. Oportunis, kejam, tebal muka, dan raja tega.

Musuh itu sedang mengendap-endap, pelan dan siap menikam.

Kajitow Elkayeni

(seword/ suaraislam)


Source by Ahmad Zaini

Loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :