Amien Rais, Nasehat Denny Siregar Untuk Amien Rais

Website Islam Institute
Loading...

Surat Terbuka Denny Siregar Untuk Amien Rais Terkait Planning Pengangkatan Gus Dur Jadi Pahlawan nasional. Candaan Gus Dur @Foto_Infozaman. Apa isi surat Denny Siregar untuk Amien Rais? Yuk, baca terus nanti akan tahu.

Berawal dari planning pemerintah akan mengangkat Gus Dur jadi Pahlawan Nasional hari ini, 10 November 2015. Deny Siregar Mendadak jadi ingat Amien Rais. Sosok Amien Rais bagi Deny Siregar sejatinya telah terlupakan. Namun jadi ingat kembali nama Amien Rais begitu planning pengangkatan Gus Dur jadi Pahkawan nasional tersebar. Ada apa sejatinya Amien Rais kok sepertinya terkait erat dengan nama Gus Dur?

Saya sudahi dulu ya pak, semoga bapak sanggup merenung di hari tua dan berfikir, “apa yang sanggup kulakukan buat bangsa ini supaya namaku harum dikenang ?” Semoga ada, supaya di hari tua tidak jumpalitan terus. Capek kan, pak….

 

Walaupun hari ini ternyata nama Gus Dur tidak jadi masuk dalam daftar yang dirilis jadi pahlawan Nasional, bukan artinya Gus Dur gagal jadi Pahlawan.

Menhan Ryamizard Ryacudu menjelaskan, pemberian status pahlawan nasional untuk Presiden RI ke-4, KH. Abdurrahman Wahid, masih diproses. Tetapi menurutnya, ada pihak-pihak tidak berharap jikalau Gus Dus, sapaan Abdurrahman wahid, diangkat jadi pahlawan nasional.

“Bukan kita lambat-lambatkan. Sebab kita ini kan pengennya masuk seluruh, tapi kan ada orang-orang tidak suka. Ya kita hindari lah.” Kata Ryamizard Ryacudu bakda diangkat selaku Masyarakat Kehormatan Korps prajurit Khas (Kopaskhas) TNI AU, di Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Senin (9/11/15), sebagaimana laporan berita Merdeka.com.

Bagaimana dengan nasehat Deny Siregar untuk Amien Rais? Ayo kita simak selengkapnya berikut ini ….

Apa berita, pak Amien Rais ? Sehat-sehat saja, kan pak, semoga begitu adanya.

Tatkala membaca Gus Dur diberi penghargaan selaku pahlawan nasional, tiba2 teringat bapak. Saya dulu sempat mengagumi bapak, apalagi pasca reformasi di mana sedikit figur publik yang bersuara frontal menembus kebekuan suasana feodal yg di wariskan pak Harto.

Saya ingat sekali waktu saya sering ke Gramedia, kebiasaan baca komik gratis sampe rela berdiri berjam-jam, saya menyaksikan ada komik berkelir dengan judul “Amien Rais, sang lokomotif reformasi”. Gambarnya, jikalau gak salah, pak amien berdiri di depan lokomotif. Itu mungkin komik politik ke-1 yg saya baca.

Pendidikan bapak yang sampai meraih gelar doktor di Amerika, makin menambah kekaguman saya. “Ini orang pintar” begitu kekaguman saya seraya tersenyum untuk seorang spg gramedia yang melirik judes sebab sering menyaksikan saya baca buku di sana tanpa pernah berbelanja apa-apa.

Saya dulu berfikir bapak yang akan jadi Presiden negeri ini, sesudah pak Habibie tidak lagi menjabat. Namun nyatanya bapak mundur tidak ikut pemilihan presiden yang waktu itu pemilihannya masih melalui dewan. Ah, ternyata sebab kursi PAN waktu itu amat sedikit, sehingga bapak tidak bernyali mencalonkan diri.

Amien Rais Sukses Membikin Gus Dur Jadi Presiden

Kerasnya pertarungan di dewan yang kursinya di monopoli PDI-P waktu itu, membikin pak Amien seperti striker yg bergerak kesana kemari mencoba menggagalkan Megawati jadi Presiden, dan bapak sukses, Gus Dur yang jadi Presiden. Saya jadi inget guyonan Gus Dur problem ini, “saya tidak pernah mengeluarkan uang milyaran untuk jadi Presiden, saya modal dengkul. Itupun dengkul Amien Rais..”

loading...

Namun alih2 menyokong orang yang bapak pilih, bapak pula yang menjatuhkannya dengan gaya yg sama waktu menjegal Mega. Di sini saya mulai curiga, bahwa bapak “ada apanya”. Apa bapak tidak tahu bahwa itu situasi yg amat berbahaya untuk NKRI ini ? Bapak membawa negeri ini pada stuasi yg lebih menakutkan drpd jatuhnya Soeharto, yaitu perang saudara. Beberapa penyokong Gus Dur yg tidak terima dgn cara bapak, sehingga menganggap Muhammadiyah ialah musuh besar. Di daerah2 begitu terasa ketegangannya, sampai mereka bertekad utk menyerbu Jakarta.

Beruntung Gus Dur legawa, sehingga ia mesti turun untuk menyelamatkan situasi ini. Seandainya Gus Dur bersikeras entah apa yg terjadi, apalagi kepolisian telah terpecah 2. Sanggup pecah negeri ini atas nama konstitusi.

Apa itu yang bapak mau ? Memecah Indonesia sehingga negeri ini bukan lagi jadi Republik tetapi Serikat, seperti negara dimana bapak menghabiskan beberapa waktunya disana ? Apa harga itu patut dengan kemungkinan jatuhnya korban jiwa dimana2 akibat perang saudara yg tidak berkesudahan ? Betapa beraninya bapak mengambil tanggung-jawab besar seperti itu.

Namun untunglah seluruh itu tidak terjadi sebab Gus Dur menahan tangannya, sesuatu yg mungkin bapak tidak Perkiraan. Indonesia selamat sebab beliau tidak rakus jabatan.

Mungkin buat bapak, “Its just politic, nothing personal.” Tetapi di tangan bapak, politik jadi sungguh menakutkan dan membawa negara ini di ujung tanduk keruntuhan. Dan pada akhirnya di tahun 2004, bapak mencalonkan diri jadi Presiden waktu pemilihan langsung, sungguh saya termasuk yg memeletkan lidah dengan suka waktu bapak cuma memperoleh 14 % suara. Pencitraan bapak dengan langkah2 mengangkat dan menjatuhkan, ternyata tidak memperoleh apresiasi yang positif, malah bapak memperoleh julukan Sengkuni, si penikam dari belakang.

Semoga Amien Rais sanggup merenung di hari tua

Mungkin jikalau tidak ada penganugerahan pahlawan nasional untuk Gus dur, saya tidak ingat bapak. Saya bahkan tidak menyaksikan sediktpun hal positif yg bapak lakukan, selain jumpalitan dalam sirkus politik seperti halnya para senator di negara paman Sam.

Orang yang bapak coba hancurkan, telah pernah jadi Presiden dan sekarang memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Adapun bapak masih asik jumpalitan seperti pemain trampoline mencari panggung yang cocok dan tempat di mana bapak ingin mencatatkan diri dalam sejarah kebangsaan. Ingat waktu pilpres 2014 bapak bilang bahwa pertarungan Joko Widodo dan Prabowo ialah perang badar? Bapak kembali memanas-manasi situasi supaya terjadi bentrokan, dan untung Tuhan kembali menyelamatkan negeri tercinta ini dari orang-orang seperti bapak.

Saya sudahi dulu ya pak, semoga bapak sanggup merenung di hari tua dan berfikir, “apa yang sanggup kulakukan buat bangsa ini supaya namaku harum dikenang ?” Semoga ada, supaya di hari tua tidak jumpalitan terus. Capek kan, pak….

loading...

Saya jadi ketawa sendiri membayangkan almarhum Gus Dur terkekeh-kekeh di surga menyaksikan gerak gerik bapak, guyonan dengan malaikat seraya menuding ke bumi, “Sonnn… Gagal maning, gagal maning son….”

(AL/ARN/MM/Denny Siregar)

Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :