Amerika Tinjauan dari Dalam 31 Juli 2018

Amerika Tinjauan dari Dalam 31 Juli 2018
Loading...

Amerika Tinjauan dari Dalam 31 Juli 2018

Sejumlah tema yang diulas dalam acara Amerika Tinjauan dari Dalam kali ini ialah Ahli Hukum AS Serukan Pemakzulan Trump, Petinggi Senat AS Protes Retorika Anti-Iran Donald Trump, Senator AS: Enggak Ada Negara yang Dukung Sanksi Iran, Hakim AS Perintahkan Penyelidikan Keadaan Anak Imigran Tidak resmi.

Gelombang seruan pemakzulan Donald Trump semenjak ia dilantik selaku Presiden Amerika 1,5 tahun yang lalu sampai sekarang terus mengalir deras dan memenuhi halaman depan surat berita dan laporan televisi di dalam dan luar negeri AS.

Ahli hukum konstitusi AS, Profesor Laurence Tribe menjelaskan telah tiba saatnya Kongres AS melancarkan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Trump.

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat

Waktu Trump mencopot Direktur Dinas Penyidikan Federal Amerika (FBI), James Comey tahun lalu, Professor Tribe menjelaskan Trump sudah melaksanakan apa yang disebutnya selaku tindakan menghalangi penyelidikan untuk keadilan.

Menurut ahli hukum tata negara AS ini, tindakan Trump tersebut termasuk kategori kejahatan besar dan kejahatan ringan yang sanggup dipakai selaku alasan pemakzulan, seperti yang disebutkan dalam UUD AS.

Tribe menerangkan bahwa impeachment atau pemakzulan ialah suatu proses luar biasa yang diatur dalam undang-undang. Walaupun seperti ini, proses pemakzulan seperti itu ndak boleh ditunaikan semena-mena, seperti mengembalikan barang yang dibeli di toko cuma sebab kita ndak puas akan kualitas barang itu.

dikatakan dengan tegas, pemakzulan cuma sanggup ditunaikan apabila ada konsensus luas antara kedua partai yang berkuasa, yang menjelaskan ndak sanggup menanti hasil pemilihan presiden seterusnya. Itu cuma sanggup terjadi apabila presiden melaksanakan pengkhianatan, penyuapan atau kejahatan besar dan kecil lainnya. Jika dua pertiga anggota Senat yang jumlahnya 100 orang itu setuju, barulah presiden sanggup dimakzulkan.

sebelum ini, Seorang politisi Partai Demokrat menyerukan pemakzulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Seruan ini muncul sesudah Trump mencopot Direktur FBI yang menyeret Rusia. Berbicara di depan anggota Kongres di Capitol Hill, Washington DC, Raymond Eugene Green pada Rabu (17/5) menekankan bahwa Trump mesti cepat digulingkan.

Wawancara:

Pemakzulan Presiden AS dengan alasan sudah menghambat keadilan. Presiden yang mencopot Direktur FBI, yang sudah menyelidiki presiden atas hubungannya dengan campur tangan Rusia dalam pemilu presiden yang dimenangkannya.

Pemimpin minoritas Partai Demokrat di Senat Amerika Serikat memprotes retorika terbaru Presiden Donald Trump yang mengancam Iran. Associated Press (25/7) mengabarkan, Pemimpin minoritas Demokrat di Senat Amerika, Chuck Schumer menjelaskan, pesan Twitter Donald Trump terkait Iran mempertunjukkan bahwa ia putus asa sebab gagal mengalihkan opini publik AS dari masalah-masalah yang dibicarakan dengan Presiden Rusia. Schumer menambahkan, waktu Trump berhadapan dengan beberapa problem, maka ia akan membikin perang dan kekacauan di tempat lain.

Pemimpin minoritas Demokrat di Senat Amerika, Chuck Schumer

Sementara itu, Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Senat Amerika, Senator Bob Corker juga memprotes ancaman Trump kepada Iran dan menceritakan, Trump ndak berpikir bahwa penggunaan Twitter untuk menyampaikan masalah-masalah keputusan strategi luar negeri yang besar, ndak tepat. Dalam pesan Twitternya, Trump membalas statemen Presiden Iran, Hassan Rouhani dengan ancaman.

loading...

Salah seorang anggota Senat Amerika Serikat menjelaskan, pemerintahan Presiden Donald Trump dalam rapat dengar pandangan dengan Komisi Hubungan Luar Negeri Senat mengakui, sampai sekarang ndak ada satu negarapun yang menyokong sanksi Washington kepada Iran. Senator Chris Murphy menceritakan, Donald Trump sampai sekarang belum sukses meraih sokongan satu negarapun terkait sanksi yang akan dijatuhkan ke Iran.

sebelum ini, Gedung Putih pada 8 Mei 2018 mengumumkan keluar dari kesepakatan nuklir, JCPOA dan dalam kerangka sanksi baru, mengklaim akan menekan ekspor minyak Iran sampai ke titik terendah mulai tanggal 4 November 2018 yang akan datang.

Murphy menerangkan, alasan satu-satunya Washington keluar dari JCPOA ialah penerapan sanksi lebih ketat kepada Iran supaya negara itu mau menerima kesepakatan yang dinilai lebih baik menurut Trump.Namun faktanya  sampai sekarang ndak ada satu negarapun yang setuju dengan penerapan sanksi baru Gedung Putih kepada Iran.

Washington meminta negara-negara dunia untuk menekan impor minyak Iran sampai ke titik terendah selaku bagian dari sanksi ekonomi kepada Tehran, akan tetapi sebagian besar negara dunia menolak permintaan Amerika Serikat itu.

Pemerintah AS, Kamis (26/7) mengakui bahwa ratusan orang tua dan anak yang dipisahkan di tapal batas negara AS-Meksiko, belum dipersatukan lagi, meski batas waktu yang diperintahkan pengadilan untuk menyatukan mereka telah melewati batas.

Anak imigran Meksiko

Seorang hakim federal di California mengumumkan akan menuding pemantau independen untuk mempelajari keadaan bocah-bocah imigran di fasilitas tapal batas negara Amerika di Texas sesudah laporan menyebutkan keadaan yang buruk.

Hakim Dolly Gee di Los Angeles mengungkapkan adanya ketidaksesuaian penilaian keadaan mereka antara pemantau pemerintah Amerika dan orang tua imigran, dan menyerukan sikap obyektif dalam menyikapi problem tersebut. Di antara keluhan dari bocah-bocah imigran dan orangtua mereka termasuk makanan yang basi, air yang ndak mencukupi, dan udara yang dingin.

Pemerintah AS meminta pengadilan memberikan lebih beberapa waktu dalam usaha mempertemukan kembali bocah-bocah imigran dengan para orang tuanya. Mereka dipisahkan paksa sesudah melintasi tapal batas negara AS-Meksiko secara tidak resmi, sesuai keputusan strategi imigrasi tanpa toleransi pemerintahan Trump. Tindakan tersebut dikecam masarakat internasional, termasuk mitra AS, kubu advokasi HAM, dan Paus Fransiskus.

sebelum ini, American Civil Liberties Union (ACLU) menjelaskan pemerintah Amerika ndak mungkin sanggup menyatukan kembali seluruh anak imigran di bawah usia lima tahun, yang secara paksa dipisahkan dari keluarga mereka di tapal batas negara Amerika-Meksiko hari Selasa (10/7) sesuai tenggat waktu yang ditetapkan pengadilan.

Gugatan ACLU 26 Juni lalu memenangkan perintah pendahuluan yang menghasilkan keputusan pengadilan untuk menyatukan lagi bocah-bocah dibawah usia lima tahun pada 10 Juli dan seluruh keluarga pada 26 Juli.

loading...

Source by Hakim Abdul

Loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :