Ambisi Gulingkan Al-Assad Ialah Wujud Keangkuhan AS

Website Islam Institute

Andrew Korybko: Kampanye Gulingkan Assad Bentuk Keangkuhan Amerika (Bag 2, Tamat)

Keangkuhan Amerikalah yang sudah membawa dunia ke dalam kekacauan dahsyat ini, tapi kalau anda menanyakan ke Rusia, Kerendah-hatian Suriahlah yang akan mengeluarkan kita dari seluruh itu.

Islam-institute.com, RUSIA – Pada artikel bagian ke-1 disebutkan bahwa keangkuhan Amerika yang menyebabkan kehancuran di Suriah dan usaha penggulingan Bashar Assad, pada artikel bagian ke-2 ini mengulas bahwa rakyat amat menyokong pemerintahan Bashar Assad mari kita sama-sama membaca ulasan ini.

Kehendak Rakyat Menyokong Bashar Al-Assad

Tetapi terjadi sesuatu yang “salah” seperti biasanya dengan planning AS itu. Dan kekhilafan itu ialah, bahwa rakyat Suriah sepenuhnya Tidak mau strategi Ikhwanul Muslimin kepada Pergantian rezim di negaranya. Mereka lebih memilih untuk melestarikan kesekuleran dan ke-multikultural-an warga yang dalam peradaban Suriah hal itu sudah terkenal secara historis.

Untuk argumentasi sederhana ini, usaha melaksanakan revolusi kelir di Suriah sudah gagal total semenjak dari awal. Dan itulah mengapa AS dan sekutunya (yaitu Turki, Qatar, dan Arab Saudi) lantas berusaha mengubahnya jadi perang tidak lazim dengan mempersenjatai proksi-proksi mereka dan memerintahkannya untuk menaikkan kudeta lunak  jadi kudeta kasar, keras dan ngawur.

Dan hasil dari perang Hybrid yang sudah dikobarkan selama 4 setengah tahun sekarang hanyalah terbukanya obsesi geopolitikal AS untuk mewujudkan terjadinya Pergantian rezim. Jauh dari menyadari bahwa rakyat telah dengan tegas Tidak mau pendekatan ini semenjak dari awal, AS dan sekutunya malah berusaha memperkuat elemen-elemen proksi mereka di dalam negeri Suriah dengan memperbolehkan prajurit-prajurit asing membanjiri negara itu melalui tapal batas dengan Turki.

Di tengah gempuran eksternal yang diluncurkan kepada mereka ini, rakyat Suriah terus bernyali membela dan secara demokratis mempertunjukkan ke semua dunia bahwa mereka menyokong pemerintahannya. Hal ini terbuktu melalui sebuah referendum konstitusional di tahun 2012 yang disahkan dengan margin 89% dan dengan partisipasi 57% dari semua warga, serta dengan terpilihnya kembali Presiden Assad selaku presiden, pada tahun 2014 dengan 88,7% suara di mana 73% dari pemilih ikut mengambil bagian dalam Pemilihan Umum.

2 rangkaian kartu truf itu mempertunjukkan partisipasi dan legitimasi politik yang biasa diberlakukan di negara-negara barat dan para pemimpinnya. Dan seperti apa yang pernah dikatakan presiden Assad, bahwa tidak mungkin ia masih dapat tinggal di kantornya selama perang ini kalau ia tidak sungguh-sungguh memperoleh sokongan dari sebagian besar rakyatnya.

Hal ini juga menerangkan bahwa mereka yang sekarang jadi pengungsi dari negara itu, waktu itu belum mengungsi. Mereka mengambil keputusan untuk tetap tinggal di tanah airnya dan mencari keamanan di bawah penjagaan serdadu Suriah yang menjaga kisaran 80% warga Suriah.

Walaupun begitu, AS dan sekutunya yang keras kepala dengan seenaknya sudah melalaikan kehendak rakyat Suriah dan malah dengan sengaja terus memasok persenjataan dan prajurit-prajurit asing ke dalam negeri Suriah dan tetap melaksanakan kebodohan yang sama lagi dan lagi. Hal ini seperti apa yang disebut dalam peribahasa, “melaksanakan hal yang sama tetapi berkeinginan akan hasil yang tak sama”.

AS dan sekutunya berkeinginan, “Kalau situasi terurai, maka akan ada kemungkinan untuk mendirikan sebuah kerajaan Wahabi yang dapat di deklarasikan di Suriah bagian Timur (Hasaka dan Der Zor), dan inilah yang sesungguhnya yang diinginkan pihak oposisi sokongan asing. Yaitu untuk mengisolasi pemerintahan Suriah, yang dinilai selaku bagian ekspansi Syiah (Irak dan Iran).

Inilah penjelasan yang disebutkan oleh Duta Besar Suriah untuk Rusia, Riyadh Haddad dalam sebuah wawancaranya baru baru ini. Ia menuding AS sudah mempergunakan terorisme dalam usahanya melaksanakan Pergantian pemerintahan di dalam negerinya. Presiden Putin pun menindak lanjuti hal itu dalam perjumpaan CSTO, dengan mengingatkan negara-negara lain akan resiko berbahaya yang mesti mereka hadapi kalau bermain double standard kepada para teroris dan mempergunakan para teroris itu untuk secara langsung maupun tidak langsung selaku strategi untuk meraih tujuan-tujuan tertentu.

Untuk membendung gelombang teror yang sudah dikeluarkan AS di Timur Tengah, Rusia lantas melaksanakan langkah-langkah dengan menyusun gabungan anti-ISIS yang inklusif. Presiden Putin diperkirakan akan mempergunakan keynote speech-nya ini di Majelis Umum PBB pada akhir bulan ini untuk mempertunjukkan Perkara yang sesungguhnya, bahwa situasnya sama sekali bukanlah Soal Pergantian rezim, dan bahwa semua dunia mesti bersatu dalam menyokong Suriah dan berjuang berbarengan negara itu  di garis depan melawan teror.

Keangkuhan Amerikalah yang sudah membawa dunia ke dalam kekacauan dahsyat ini, tapi kalau anda menanyakan ke Rusia, Kerendah-hatian Suriahlah yang akan mengeluarkan kita dari seluruh itu. (AL/ARN/RM/MM/MN/Sputnik)

  • Penulis; Andrew Korybko
  • Andrew Korybko ialah seorang analis politik, awak media dan kontributor untuk beberapa jurnal online, serta member dewan ahli Lembaga Kajian Taktik dan Perkiraan di Universitas People’s Friendship di Rusia. Ia mengkhususkan diri dalam urusan dan geopolitik Rusia, khususnya taktik AS di Eurasia. Hal-hal lain yang jadi perhatiannya meliputi  strategi Pergantian rezim, revolusi kelir dan perang konvensional yang dipakai di semua dunia. Bukunya yang berjudul “Hybrid Wars:The Indirect Adaptive Approach To Regime Change” secara rinci mengnalisa situasi di Suriah dan Ukraina dan membuktiakan bahwa seluruh yang terjadi di 2 negara tersebut mempertunjukkan taktik perang model baru yang dilancarkan oleh Amerika Serikat.

 

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.