Allah Terlampau Pengasih Menghukum Diriku

Allah Terlampau Pengasih Menghukum Diriku

Allah Terlampau Pengasih Menghukum Diriku

Dikisahkan sufi besar Malik bin Dinar mempunyai Jiran yang terlalu meresahkan lingkungannya. Ia ialah seorang pemuda yang tingkah lakunya sering mengganggu ketentraman penduduk. Malik bin Dinar sering merasa terganggu oleh tingkah polah pemuda itu, tapi dirinya senantiasa bersabar. Beliau senantiasa menanti supaya ada orang lain yang lebih dulu menegur si pemuda tersebut. Akan tetapi tidak ada yang punya nyali menegur si pemuda itu. Bahkan para tetangganya menghadap Malik dengan curhat dan meminta Malik bin Dinar memberi advis pemuda tersebut. Memperoleh mandat dari penduduk lingkungan sekitarnya, Malik bin Dinarpun berangkat mendatangi pemuda itu dan memintanya supaya merubah sikapnya.

seusai berjumpa dengan si pemuda, Malik bin Dinar mengutarakan maksudnya. Akan tetapi respon si pemuda bahkan sebaliknya, dengan seenaknya menjawab “Saya ialah kesayangan sultan dan tidak seorang pun bisa mencegah atau mencegahku untuk berbuat sekehendak hatiku.”

“Saya akan mengadu ke sultan,” Malik bin Dinar dengan mengancam. Pemuda tersebut menjawab “Sultan tidak akan mencela diriku. Bahkan apapun yang ku lakukan, beliau akan menyukainya.” Malikpun berusaha mendengarnya dengan sabar dan berkata lagi, “Baiklah, kalau sultan tidak bisa berbuat apa-apa, maka saya akan mengadu ke Yang Maha Pengasih,” kata Malik bin Dinar seraya mengacungkan jari telunjukknya ke atas.

Menguping perkataan Malik Dinar pemuda itupun tampak tenang. “Allah ? ! Allah terlampau Pengasih untuk menghukum diri ku ini.”

Respon pemuda tersebut membikin Malik langsung bungkam. Mulutnya terkunci dan tidak mampu berkata apa-apa. Sejenak lantas ditinggalkannya pemuda tersebut. Waktupun secara bergantian tingkah si pemuda kian menjadi-jado dan melampaui batas. Sekali lagi Malik jadi utusan penduduk sekitarnya untuk menegur si pemuda. Dengan tekat bulat Malik menjumpai si pemuda itu. Akan tetapi ditengah Malik perjalanan Malik seketika menguping Ajakan yang ditujukan kepadanya, “Jangan engkau sentuh sahabat-Ku itu!.”

Kontan suara tersebut membikin Malik terkejut dan gemetar. Tatkala bersua dengan si pemuda Malik cuma terdiam. Menyaksikan kondisi seperti itu pemuda tersebut berkata dengan lantang, “Apa pulakah yang sudah terjadi sehingga engkau Hadir ke sini untuk ke 2 kalinya?” Malikpun menjawab, “Kali ini saya Hadir bukan untuk mencela tingkah lakumu. Saya Hadir semata-mata untuk menyampaikan kepadamu bahwa saya sudah menguping Ajakan yang menjelaskan …..”

Mendangar respon Malik, lantas si pemuda berseru, “ Cukup! Jikalau begitu halnya, maka gedung ku ini akan kujadikan selaku tempat untuk beribadah kepada-Nya. Saya tidak perduli lagi dengan seluruh harta kekayaan ku ini.” Malik bin Dinar tambah bingung menguping respon si pemuda. Sekelebat lantas pemuda itu tidak ada di hadapannya. Ia ngeloyor berangkat entah kemana.

Hari berganti tahun, Malik Sampai di kota Mekkah. Betapa kagetnya tatkala Malik berjumpa dengan pemuda berandal yang dulu jadi tetangganya. Hidupnua berubah. Ia tidak seperti waktu tinggal dekakt rumahnya. Tidak ada tingkah laku yang membikin onar. bahkan sebaliknya, pemuda itu kelihatan terlunta-lunta. Malikpun mendekati si pemuda itu. “Ia ialah sahabatku. Saya akan menjumpai sahabatku, ” ucap si pemuda yang lantas menghembuskan nafasnya terakhirnya.

IslamiDotCo by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.