“Alfateka” dan Hikmah Qiroah Sab’ah dalam Ilmu Alquran

“Alfateka” dan Hikmah Qiroah Sab’ah dalam Ilmu Alquran
Loading...

“Alfateka” dan Hikmah Qiroah Sab’ah dalam Ilmu Alquran

Presiden Joko Widodo di MTQ Nasional (Foto: Rusman/ Biro Pers Setpres)

Media sosial diributkan oleh pro-kontra waktu Presiden Joko Widodo bilang “Alfateka” di depan peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Medan. Beberapa yang mecatat kalimat sarkasme, dan lebih beberapa lagi yang mencaci secara terang-terangan. Seorang temen mecatat bahwa dia begitu emosi menguping kata Alfateka dan dinilai menghina Alquran. Saya jadi bingung sekaligus geli, problem logat saja, kok dinilai menghina? Lagipula Pak Joko Widodo kapasitasnya bukan tengah melantunkan ayat Quran, cuma sekedar mengajak para peserta membaca Alfatihah untuk mendoakan korban bencana sekaligus membuka acara.

Problem logat harusnya bukan jadi bahan ejekan atau tertawaan, tapi jadi berkah dan mempertunjukkan betapa Tuhan Maha Kuasa, menciptakan lidah yang sama, tapi kesanggupan mengucapkan 1 kata yang berbeda-beda antara 1 suku dan lainnya. Jangankan orang Jawa yang jauh dari tempat diturunkan wahyu dan bukan jadi bahasa sehari-hari, orang Arab –tempat Rasulullah diberi wahyu– pun mempunyai dialek yang berbeda-beda dalam melafalkan Quran, sehingga seseorang dari suatu suku (kabilah) cara baca Qurannya sanggup tak sama dengan orang dari kabilah lainnya.

Waktu saya kuliah di Libya dulu, ada mata kuliah wajib yaitu Ulumul Quran (ilmu-ilmu Alquran). Bagian babnya membicarakan soal perbedaan cara baca Alquran. Jadi, meski Alquran diturunkan di tanah Arab yang secara umum bahasanya sama, akan tetapi sebab mempunyai beberapa dialek, maka huruf Alquran boleh dibaca sesuai lidah setempat. Jika kita baca artikel atau buku bahasa Arab, nyaris tidak ada perbedaan. Susunan kata dan gramatikanya sama. Namun, waktu kita ngobrol langsung dengan orang Arab, maka kita akan tahu beda dialeknya. Orang Saudi dialeknya beda dengan Libya, Tunisia, Maroko, Syiria, Yaman, Emirate, dan sebagainya. Itu sebab mereka terdiri dari bermacam-macam kabilah.

Nah, Allah Maha Adil. Ia mewahyukan Alquran dan tidak mau menyusahkan umat-Nya. Para Sahabat meriwayatkan 7 cara melafalkan Quran atau dikenal dengan Qiro’atus Sab’ah. Ada pula riwayat yang menjelaskan 10 (Qiro’ah Asyaroh), bahkan ada yang mengumumkan lebih beberapa. Misalnya, dalam surat Alfatihah, ada riwayat yang membaca kasroh selaku “i”, ada pula yang membaca dengan “e” (imalah) ada yang membaca “i pendek”, dan ada pula yang membaca “i panjang”. Ada pula huruf yang dibaca panjang seperti mim dalam kata (malikiyaumiddin), ada pula yang membaca pendek huruf mim-nya. Ada huruf yang dibaca tasydid (huruf dobel), tengah yang lainnya membaca bukan tasydid. Atau, ada akhiran huruf dibaca igham (meleburkan bunyi akhir), tengah yang lainnya tidak. Pokoknya banyaklah.

loading...

Pihak kampus tahu, bahwa problem pembacaan Quran ini akan jadi “perang pandangan” antarmahasiswa yang notabene Hadir dari bermacam belahan dunia, yang semuanya menganggap cara baca Quran mereka yang paling benar. Maka, waktu salat berjemaah, imamnya bergantian. Seringkali waktu Salat Tarawih, imamnya ada 2. Tarawih ke-1 diimami oleh maha siswa Afrika, tarawih seterusnya diimami dari Indonesia, lalu hari selanjutnya bergantian Pakistan, Arab, dan begitulah seterusnya, para maha siswa dari bermacam negara itu diberi Peluang yang sama jadi imam masjid.

Saya yang maha siswa baru dan masih duduk di tahun ke-1 waktu itu kaget, salat jadi tidak khusyu’, sambil membatin, “Kok bacaannya imamnya beda-beda?” Namun, sesudah beberapa menanyakan dan memperoleh mata kuliah Ulumul Quran, saya jadi lebih paham bahwa seluruh bacaan imam itu benar.

Pun begitu waktu mata kuliah Alquran, masing-masing maha siswa disuruh menghafal dan membaca surat oleh guru besar. Tatkala giliran orang Cina, suara mereka cenderung sengau, bahkan jikalau mereka tengah menghafal Quran, jikalau tidak jeli menguping, saya kira mereka tengah bercakap-cakap dalam bahasa Cina. Orang Asia Tengah (Uzbekistan, Tadjikistan, Kazakhstan), cara ngajinya lain lagi, cenderung seperti baca huruf V. Cara ngaji orang Afrika juga punya ciri khas, huruf kasrah yang biasa kita baca “i” terdengar seperti huruf “e”. Namun, toh guru besar kami tidak menyalahkan, seluruh dinilai benar, tidak pernah dia bilang, cara orang ngaji orang Indonesia atau orang Arab paling benar, misalnya.

Jadi, hikmah adanya Qiroah Sab’ah salah satunya ialah untuk keberagaman. Islam ialah agama yang toleran, masing-masing mesti menghormati perbedaan. Pun dalam Alquran sendiri tidak ada ayat yang mempertunjukkan bacaan suku A atau B yang paling benar, toh ilmu-ilmu Alquran sendiri seperti Qiroah Sab’ah diciptakan oleh para ulama dan sahabat.

Zaman Rasulullah, waktu beliau memperdengarkan Alquran, beberapa sahabat yang mendengarkan, dan masing-masing dari mereka dari suku yang tak sama. Sebab pendengaran juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan, maka pemahaman yang sampai di otak akan tak sama. Ini dalam ilmu Alquran lainnya disebut ‘Ilmul Aswat (ilmu bunyi). Contoh konkretnya ialah waktu ayam berkokok, orang Amerika akan bilang suara ayam tersebut “cock a doodle doo”, tengah orang Indonesia akan bilang “kukuruyuk”.

Utama dari mempelajari Alquran bukanlah supaya bacaan fasih, sehingga baca ain sampai terlalu sengau seperti orang Arab, lalu meledek orang lain yang bacaannya tidak fasih dinilai dangkal agamanya, tapi lebih untuk pengamalan ajaran damainya. Bahkan waktu Islam berjaya, Rasulullah menuding Bilal (yang notobene mualaf dan bukan dari bangsa Arab tapi dari Afrika (Etiopia) untuk adzan, padahal ia tidak fasih. walaupun begitu ia dijamin masuk surga.

Terlepas dari itu seluruh, telah saatnya kita lelah untuk mencaci hal-hal yang tidak substansial. Toh Pak Joko Widodo bacaan salatnya baik. Cuma sebab ia mempunyai lidah Jawa, sehingga spontan bilang “Alfateka” mesti dipersoalkan? Orang Sunda melafalkan Allah (yang harusnya pelafalannya bagian tengah lidah menyentuh langit-langit mulut) tapi dibaca Alloh. Atau, orang Minang yang melafalkan kata Muhammad dengan Muamaik (tanpa h) atau Muhamaik, tengah orang Persia membacanya dengan (Mohammed) atau Ahmed. Apa salah? Tidak sama sekali. Semuanya benar, yang salah ialah mereka yang mengakui dirinya dan kelompoknya yang paling benar beragama dan paling patut masuk surga. Wallahu’alam bis showab.

Anisatul Fadhilah alumnus International Islamic Call University, Tripoli-Libya dan Universitas Padjadjaran, Bandung

(detik.com/ suaraislam)

loading...


Suara Islam by Ahmad Zaini

Loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :