Alasan Para Ulama NU Nggak Menerapkan Sistem Khilafah dan Negara Islam di Indonesia

86 Renungan, Nasehat dan Wejangan dari Para Ulama Sepuh
Loading...

Alasan Para Ulama NU Nggak Menerapkan Sistem Khilafah dan Negara Islam di Indonesia

Bisa jadi ada diantara kita yang pernah terlintas dalam pikiran, yaitu: “Kenapa para ulama khususnya di Nahdlatul Ulama ndak menerapkan hukum Islam di Indonesia sesudah kemerdekaan padahal kondisinya ketika itu amat memungkinkan? Kenapa pula penerus perjuangan NU sampai ketika ini tetap mempertahankan negara ini dan ndak merubahnya sebagai sistem Islam semisal khilafah?”

Terlebih ketika ini kayak gitu marak kubu yang memperjuangkan sistem negara Islam, baik yang berbentuk khilafah, piagam Jakarta, Perda Syariah dan lain sebagainya. Hal yang semacam ini kerap memunculkan propaganda yang menyudutkan NU, misalnya “NU yang murni ialah NU yang memperjuangkan Khilafah”, sampai mengakibatkan bocah-bocah muda NU, akademisi, buruh profesional dan warga awam sekalipun yang demam istilah “Syariah”, membikin mereka berpindah haluan secara ‘politik’ dan sebagai sipatisan mereka, meski secara amaliyah mereka tetap mengamalkan amaliyah NU.

NU bukan paranoid kepada sistem Negara Islam, NU bukan artinya anti kepada yang berbau “Syariah Islam”. Karena bagaimana bisa jadi NU alergi terhadap Islam padahal ruh Nahdlatul Ulama ialah Islam itu sendiri? NU menerima Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 ialah selaku strategi demi menjalankan ajaran Islam secara merdeka bagi ummat Islam di Indonesia tanpa ada disintegrasi bangsa, tanpa perang, tanpa aksi anarkis dan lainnya sebagaimana Rasulullah Saw menerima perjanjian damai Hudaibiyah yang seakan merugikan Islam, akan tetapi kenyataannya disanalah titik balik menyebarnya Islam tanpa perang dan senjata.

Aku baru mampu memahami secara utuh soal sikap dan landasan ulama NU diatas sesudah sering mengikuti Bahtsul Masail di NU, kajian Aswaja dari Ust. Idrus Ramli, riwayat cerita NU melalui kiai As’ad yang disampaikan Gus Sholahuddin Mujib dan sebagainya. Semoga secuil tulisan ini berguna.

Formalitas Agama Bukan Segalanya
Kala Orde Baru berusaha memberangus Ormas Islam di tahun 80-an, kala itu Presiden Suharto menerapkan peraturan Azaz Tunggal Pancasila. Yang ia harapkan, kalau ada ormas Islam yang menolaknya maka dengan mudah ‘diberhentikan’. Tetapi, Suharto salah prediksi, karena ternyata NU menerima Azaz Tunggal Pancasila, sehiangga Suharto ndak punya alasan demi membubarkan NU.

Sudah sampai terhadap aku riwayat dari Gus Sholahuddin, putra kiai Mujib Ridlwan Abdullah, beliau dari ayahnya kiai Mujib, bahwa awalnya kiai As’ad di masa itu ndak menerima adanya Azaz Tunggal Pancasila. untuk kyai pelaku sejarah NU ini, Islam ndak mampu diganti dengan apapun termasuk dengan Pancasila. kiai As’ad berkata terhadap kiai Mujib: “Nggak mampu Pak Mujib. Islam ndak mampu diganti dengan Azaz Tunggal. Jika Suharto masih meneruskan ini, kita wajib Sabil (perang), Pak Mujib. Aku meski telah tua begini jangan dikira takut perang. Kita turun ke hutan lagi semisal dulu”.

Terjadi dialog panjang antara kiai As’ad dengan kiai Mujib yang cenderung menerima Azaz Tunggal Pancasila. Nggak ada argumen yang keluar dari kiai Mujib kecuali langsung dijawab oleh kiai As’ad. Kala kiai Mujib mengeluarkan dalil al-Quran, maka kiai As’ad juga berdalil al-Quran, kayak gitu pula dengan dalil hadis. Akhirnya kiai Mujib berkata: “kiai, lebih berat mana NU menerima Azaz Tunggal Pancasila dengan Rasulullah menerima Perjanjian Hudaibiyah?”. Semenjak itulah lalu kiai As’ad menerima Azaz Tunggal Pancasila pada Munas Alim Ulama dan Muktamar NU di Situbondo.

Yang dimaksud oleh kiai Mujib dengan perjanjian Hudaibiyah tersebut ialah selaku berikut:
عَنِ الْبَرَاءِ – رضى الله عنه – قَالَ لَمَّا اعْتَمَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى ذِى الْقَعْدَةِ ، فَأَبَى أَهْلُ مَكَّةَ أَنْ يَدَعُوهُ يَدْخُلُ مَكَّةَ ، حَتَّى قَاضَاهُمْ عَلَى أَنْ يُقِيمَ بِهَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَتَبُوا الْكِتَابَ كَتَبُوا ، هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ . قَالُوا لاَ نُقِرُّ بِهَذَا ، لَوْ نَعْلَمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ مَا مَنَعْنَاكَ شَيْئًا ، وَلَكِنْ أَنْتَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ . فَقَالَ « أَنَا رَسُولُ اللَّهِ ، وَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ » . ثُمَّ قَالَ لِعَلِىٍّ « امْحُ رَسُولَ اللَّهِ » . قَالَ عَلِىٌّ لاَ وَاللَّهِ لاَ أَمْحُوكَ أَبَدًا . فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْكِتَابَ ، وَلَيْسَ يُحْسِنُ يَكْتُبُ ، فَكَتَبَ هَذَا مَا قَاضَى مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ لاَ يُدْخِلُ مَكَّةَ السِّلاَحَ ، إِلاَّ السَّيْفَ فِى الْقِرَابِ ، وَأَنْ لاَ يَخْرُجَ مِنْ أَهْلِهَا بِأَحَدٍ ، إِنْ أَرَادَ أَنْ يَتْبَعَهُ ، وَأَنْ لاَ يَمْنَعَ مِنْ أَصْحَابِهِ أَحَدًا ، إِنْ أَرَادَ أَنْ يُقِيمَ بِهَا . (رواه البخارى)
“Diriwayatkan dari al-Barra’, ia berkata: Kala Nabi Saw melaksanakan umroh di bulan Dzulhijjah, maka warga Makkah menolak kalau Nabi Masuk ke Makkah, sampai Nabi memberi keputusan terhadap mereka demi menetap di Makkah selama 3 hari. Kala mereka menuliskan surat, mereka mecatat: “Ini ialah keputusan Muhammad Rasulullah”. Mereka (Kafir Quraisy) berkata: “Kami ndak mengakui dengan nama ini. Andai kami tahu bahwa kamu ialah utusan Allah, maka tentu kami ndak bakal menghalangimu sedikitpun. Tetapi kamu ialah Muhammad bin Abdullah”. Nabi Saw bersabda: “Saya ialah utusan Allah dan saya ialah Muhammad bin Abdullah”. Lalu Nabi berkata terhadap Ali: “HAPUSLAH KALIMAT RASULULLAH!” Ali berkata: “Nggak. Untuk Allah aku ndak bakal menghapusmu selamanya”. Lalu Rasulullah mengambil kertas perjanjian, padahal beliau ndak mampu mecatat, lalu beliau mecatat: “Ini ialah keputusan Muhammad bin Abdullah. Muhammad ndak bakal masuk ke Makkah dengan pedang kecuali pedang yang tertutup, ndak membawa keluar seorangpun dari warga Madinah kalau ia ingin mengikutinya, dan ndak mencegah seorang juga dari sahabat Nabi kalau ingin menetap di Makkah” (HR al-Bukhari)

Terang sekali di dalam hadis ini Nabi Muhammad memerintahkan Sayidina Ali menghapus gelar formal Nabi Muhammad berupa kalimat RASULULLAH, sementara Sayidina Ali ndak mau menghapusnya, maka Nabi Muhammad sendiri yang menghapusnya. untuk ulama di kalangan NU, hadis ini memberi pemahaman bahwa gelar formal dalam agama bukan segala-galanya yang wajib dibela mati-matian. Bahkan ndak adanya gelar formal Islam, ummat Islam mampu leluasa keluar-masuk kota Makkah, menyebarkan Islam, mengenalkan Rasulullah Saw dan sebagainya.

Seperti inilah halnya dengan Indonesia, bagi ulama di kalangan NU, Pancasila bukan agama, oleh karenanya selamanya Pancasila ndak bakal menggantikan Islam. Bahkan dengan NU menerima Pancasila, ummat Islam di Indonesia mampu melaksanakan ajaran Islam kesehariannya dengan aman, tanpa rasa takut. Ummat Islam juga mampu masuk ke wilayah provinsi atau kabupaten yang asalnya sama sekali ndak ada Islamnya, semisal Medan, Manado, Ambon, Papua, Timor Timur (dahulu), sehingga perlahan di daerah sana tidak sedikit yang memeluk Islam.

Berperang Atau Menerima Perjanjian Damai
untuk di luar NU, demi negara Indonesia dirubah dengan sistem Syariat Islam bakal heroik membela mati-matian, meski sesudah itu bakal berlanjut perang dan disintegrasi bangsa, bahkan bisa jadi perang saudara semisal yang terjadi di Timur Tengah. Tetapi bagi NU bakal memilih opsi perjanjian damai, semisal yang dilaksanakan oleh Rasulullah Saw, meski diprotes oleh Sayidina Umar bin Khattab:

loading...

عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ كُنَّا بِصِفِّينَ فَقَالَ رَجُلٌ أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ . فَقَالَ عَلِىٌّ نَعَمْ . فَقَالَ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ اتَّهِمُوا أَنْفُسَكُمْ فَلَقَدْ رَأَيْتُنَا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ – يَعْنِى الصُّلْحَ الَّذِى كَانَ بَيْنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَالْمُشْرِكِينَ – وَلَوْ نَرَى قِتَالاً لَقَاتَلْنَا ، فَجَاءَ عُمَرُ فَقَالَ أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ وَهُمْ عَلَى الْبَاطِلِ أَلَيْسَ قَتْلاَنَا فِى الْجَنَّةِ وَقَتْلاَهُمْ فِى النَّارِ قَالَ « بَلَى » . قَالَ فَفِيمَ أُعْطِى الدَّنِيَّةَ فِى دِينِنَا ، وَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا . فَقَالَ « يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنِّى رَسُولُ اللَّهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِى اللَّهُ أَبَدًا » . فَرَجَعَ مُتَغَيِّظًا ، فَلَمْ يَصْبِرْ حَتَّى جَاءَ أَبَا بَكْرٍ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ وَهُمْ عَلَى الْبَاطِلِ قَالَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَلَنْ يُضَيِّعَهُ اللَّهُ أَبَدًا . فَنَزَلَتْ سُورَةُ الْفَتْحِ (رواه البخارى)
Diriwayatkan dari Abu Wail, ia berkata: “Kami berada dalam Shiffin, ada seseorang berkata: Apakah kau menyaksikan orang-orang yang diajak kembali ke al-Quran. Lalu Ali menjawab: Ya”. Sahal bin Hunaif berkata: “Berprasangkalah pada diri kalian. Sungguh aku menyaksikan diri kami dalam perjanjian Hudaibiyah yang dilaksanakan oleh Nabi Saw dan orang musyrikin. Kalau kami berpendapat perang maka kami bakal berperang. Lalu Umar berkata: Bukankah kita berada diatas kebenaran dan mereka di jalan yang salah? Bukankah orang yang terbunuh diantara kami ada di surga dan yang terbunuh dari mereka ada di neraka? Nabi menjawab: “Ya”. Umar berkata: “Dimanakah aku menaruh kehinaan dalam agama kita? Dan kita kembali sebelum Allah memberi keputusan diantara kita”. Nabi Saw bersabda: “Wahai putra Khattab. Aku ialah utusan Allah. Allah ndak bakal menyia-nyiakan aku selamanya”. Umar lalu kembali dengan amarah dan ndak mampu sabar sampai ia datang terhadap Abu Bakar, Umar berkata: “Wahai Abu Bakar, Bukankah kita berada diatas kebenaran dan mereka di jalan yang salah?” Abu Bakar berkata: “Wahai putra Khattab. Muhammad ialah utusan Allah. Allah ndak bakal menyia-nyiakan Muhammad selamanya”. Maka turunlah surat al-Fath” (HR al-Bukhari)

Maslahat atau nilai plus yang dipilih oleh Rasulullah dalam perjanjian damai ini ialah selaku berikut, semisal yang disampaikan oleh Imam an-Nawawi:
قَالَ الْعُلَمَاء : وَالْمَصْلَحَة الْمُتَرَتِّبَة عَلَى إِتْمَام هَذَا الصُّلْح مَا ظَهَرَ مِنْ ثَمَرَاته الْبَاهِرَة ، وَفَوَائِده الْمُتَظَاهِرَة ، الَّتِي كَانَتْ عَاقِبَتهَا فَتْح مَكَّة ، وَإِسْلَام أَهْلهَا كُلّهَا ، وَدُخُول النَّاس فِي دِين اللَّه أَفْوَاجًا ؛ وَذَلِكَ أَنَّهُمْ قَبْل الصُّلْح لَمْ يَكُونُوا يَخْتَلِطُونَ بِالْمُسْلِمِينَ ، وَلَا تَتَظَاهَر عِنْدهمْ أُمُور النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا هِيَ ، وَلَا يَحِلُّونَ بِمَنْ يُعْلِمهُمْ بِهَا مُفَصَّلَة ، فَلَمَّا حَصَلَ صُلْح الْحُدَيْبِيَة اِخْتَلَطُوا بِالْمُسْلِمِينَ ، وَجَاءُوا إِلَى الْمَدِينَة ، وَذَهَبَ الْمُسْلِمُونَ إِلَى مَكَّة ، وَحَلُّوا بِأَهْلِهِمْ وَأَصْدِقَائِهِمْ وَغَيْرهمْ مِمَّنْ يَسْتَنْصِحُونَهُ ، وَسَمِعُوا مِنْهُمْ أَحْوَال النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُفَصَّله بِجُزْئِيَّاتِهَا ، وَمُعْجِزَاته الظَّاهِرَة ، وَأَعْلَام نُبُوَّته الْمُتَظَاهِرَة ، وَحُسْن سِيرَته ، وَجَمِيل طَرِيقَته ، وَعَايَنُوا بِأَنْفُسِهِمْ كَثِيرًا مِنْ ذَلِكَ ، فَمَا زَلَّتْ نُفُوسهمْ إِلَى الْإِيمَان حَتَّى بَادَرَ خَلْق مِنْهُمْ إِلَى الْإِسْلَام قَبْل فَتْح مَكَّة فَأَسْلَمُوا بَيْن صُلْح الْحُدَيْبِيَة وَفَتْح مَكَّة ، وَازْدَادَ الْآخَرُونَ مَيْلًا إِلَى الْإِسْلَام ، فَلَمَّا كَانَ يَوْم الْفَتْح أَسْلَمُوا كُلّهمْ لِمَا كَانَ قَدْ تَمَهَّدَ لَهُمْ مِنْ الْمَيْل ، وَكَانَتْ الْعَرَب مِنْ غَيْر قُرَيْش فِي الْبَوَادِي يَنْتَظِرُونَ بِإِسْلَامِهِمْ إِسْلَام قُرَيْش ، فَلَمَّا أَسْلَمَتْ قُرَيْش أَسْلَمَتْ الْعَرَب فِي الْبَوَادِي . قَالَ تَعَالَى : إِذَا جَاءَ نَصْر اللَّه وَالْفَتْح وَرَأَيْت النَّاس يَدْخُلُونَ فِي دِين اللَّه أَفْوَاجًا (شرح النووي على مسلم – ج 6 / ص 241)
“Ulama berkata: Maslahat yang timbul atas perjanjian damai ini ialah sesuatu yang tampak dari buahnya yang indah dan manfaat yang nyata, yang berujung pada penaklukan kota Makkah, dan seluruhnya penduduknya memeluk Islam dan orang-orang masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Karena sebelum terjadinya perjanjian damai para warga Makkah ndak pernah berkumpul dengan ummat Islam dan ndak tampak terhadap mereka perilaku-perilaku Nabi Saw yang nyata, serta ndak ada yang menerangkan terhadap mereka secara terperinci. Kala terjadi perjanjian Hudaibiyah, mereka berbaur dengan ummat Islam, mereka datang ke Madinah dan ummat Islam berkunjung ke Makkah. Mereka berkumpul bareng keluarga, kawan dan lainnya. Mereka menguping dari para sahabat soal perilaku Nabi secara mendetail, mukjizat yang nyata, tanda kenabian yang terang, kepribadian yang baik, perilaku yang indah dan mereka sering menyaksikan secara langsung. Maka hati mereka mulai condong pada iman sampai tidak sedikit dari mereka bergegas dalam Islam sebelum penaklukan kota Makkah. Maka mereka sudah masuk Islam antara perjanjian damai Hudaibiyah dan penaklukan Makkah. Orang yang lain juga bertambah condong ke dalam Islam. Kala hari penaklukan kota Makkah, maka mereka sudah masuk Islam seluruhnya, karena mereka sudah mempunyai bekal kepada Islam. Sementara orang Arab yang di pedalaman selain Quraisy, mereka masih menanti orang Quraisy masuk Islam. Dan kala orang Quraisy masuk Islam maka orang-orang Arab pedalaman masuk Islam. Allah berfirman: “Apabila sudah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kau lihat insan masuk agama Allah dengan berbondong-bondong” (Syarah Muslim, Imam Nawawi 6/241)

Dengan beginilah, 4 Pilar kebangsaan yang sudah dinyatakan final oleh NU selaku langkah wujudnya perdamaian di Indonesia baik antar pulau, suku dan agama, sudah sesuai dengan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Saw. Tetapi bagi aliran yang berseberangan dengan NU, yang sesungguhnya mereka belum merasakan derita kalau suatu negara sudah terjadi perang agama atau perang saudara ndak bakal mampu pulih dalam waktu cepat, dan mereka belum tahu mahalnya sebuah kedamaian, maka mereka juga bakal tetap maju menyuarakan harapannya. Disinilah mereka bakal berhadapan dengan NU.
(Bersambung)

Oleh: Ustadz Ma’ruf Khozin

loading...

Sumber : Muslimoderat.net

Loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :