Ajiibb, Inilah 8 Muhaddits Islam Nusantara Yang Menginternasional

Ajiibb, Inilah 8 Muhaddits Islam Nusantara Yang Mendunia

Ajiibb, Inilah 8 Muhaddits Islam Nusantara Yang Menginternasional

Kalau selama ini kita ketahui para ulama’-ulama’ besar dunia cuma dari bangsa Arab, itu bukan hal yang mengejutkan. Tetapi tahukah kita bahwa bangsa kita sendiri sesungguhnya punya putra-putra terbaik, ulama’-ulama’ besar yang manjadi rujukan internasional?

Semenjak abad ke 19 M, Masjdil Haram Makkah selaku pusat peradaban Islam dunia menyimpan tidak sedikit ulama’ besar dunia, enggak terkecuali yang berkebangsaan Indonesia. Ulama’ asli Indonesia amat diperhitungkan di Makkah kala itu. Sebutlah nama-nama seperti Syaikh Nawawi Al Bantani pengarang kitab Tafsir Maroh Labid, Syaikh Mahfuzh At Turmusi, Syaikh Khatib Al Minangkabawi, Syaikh Khatib As Sambasi, Syaikh Baqir Al Jugjawi, Syaikh Yasin Bin Isa Al Fadani dan masih tidak sedikit lagi. Seperti yang disebutkan Prof. Abdul Karim dari Bangladesh, mereka bukan ulama’ sembarangan di Tanah Suci, tetapi selaku rujukan penting para guru-guru di Masjidil Haram dan Makkah selaku pusat peradaban pada umumnya. Mereka mengistilahkannya selaku Syaikhul Masyayikh atau Penghulunya para Guru Besar di Makkah.

Selain nama-nama tadi, Indonesia masih menyimpan nama besar ahli hadits yang amat diakui kepakarannya di dunia internasional, seperti yang ditulis Sholah Salim berikut ini.

———————————————————————
Al Musnid Al Ashr Syaikh Yasin Bin Isa Al Fadani menyebutkan bahwa siapa saja yang meriwayatkan hadits, baik yang mempunyai ilmu tentangnya atau ndak maka ia mampu disebut selaku musnid. Tapi di kurun terakhir, ndak mampu seseorang disebut selaku musnid kecuali mempunyai periwayatan yang cukup tidak sedikit yang bersambung terhadap para imam dari barat sampai timur.

Dan muhaddits yang bermakna sesuai dengan klasifikasi di atas mampu dipenuhi syaratnya oleh 130 ulama dari Nusantara, yang meliputi Indonesia, Malaysia dan Thailand. Dan dari mereka, ada 7 ulama yang mempunyai periwayatan paling tidak sedikit dan seluruhnya berasal dari Indonesia. Dalam komentarnya kepada Kifayah Al Mustafid li ma ‘Ala min Al Asanid Syeikh Yasin Al Fadani memperinci ke 7 ulama tersebut, diantaranya ialah:

1. Al Muhaddits As Syaikh ‘Aqib bin Hasanuddn Al Falimbani
Ulama ini disebut Syeikh Yasin Al Fadani selaku ulama yang paling tidak sedikit periwayatannya dari 7 ulama tersebut. Ulama yang wafat tahun 1182 H itu mengambil periwayatan dari Abdullah Al Bishri, Ahmad An Nakhli serta lainnya.

2. Syeikh Abdush Shamad bin Abdirrahman Al Atsyi
Seorang ulama shufi yang menisbatkan diri dengan propinsi Aceh ini juga dikenal dengan penisbatan Falimbani. Syeikh Abdush Shamad ini mengambil periwayatan dari Syeikh Yahya bin Umar Maqbul Ahdal, Sayyid Umar bin Ahmad bin Aqil As Saqqaf juga murid dari Syeikh ‘Aqib bin Hasanuddin Al Falimbani. Ulama yang wafat tahun 1211 H ini sendiri merupakan guru dari Sayyid Ulama Hijaz Syeikh Nawawi Al Bantani.
Syeikh Abdush Shamad juga mempunyai seorang anak wanita yang juga sebagai ulama besar di Makkah, ialah Syaikhah Fatimah yang kumpulan periwayatannya dibukukan di Al Faharis Al Qaimah.
Sedangkan Syeikh Abdush Shamad mecatat periwayatannya dalam kitab An Nur Al Ahmadi.

3. Syeikh Abdul Ghani bin Shabhi Al Bimawi
Syeikh Abdul Ghani bin Shabhi Al Bimawi ialah murid dari Muhaddits Surabaya As Sayyid Syeikh Ahmad bin Abdillah. Sedangkan Syeikh Mahufudz At Tarmasi ialah murid dari ulama ini.

Loading...
loading...

4. Syeikh Mahufdz At Tarmasi
Ulama yang wafat tahun 1338 H ini menimba ilmu dari ayahnya Syeikh Abdullah At Tarmasi, Syeikh Muhammad Shalih bin Umar As Samarani serta Sayyid Abu Bakr Syatha.
Syeikh Mahfudz Termas termasuk ulama Nusantara yang produktif mecatat. Sejumlah karyanya antara lain Manhaj Dzawi An Nadzar yang merupakan syarh Alfiyah hadits Imam As Suyuthi, Mauhibah Dzi Al Fadhl kitab fiqih 4 jilid, Nail Al Ma’mul yang merupakan kitab ushul fiqih dalam 3 jilid, Is’af Ath Thali’ juga mengenai ushul fiqih dalam 2 jilid.
Periwayatan Syeikh Mahfudz Termas dibukukan dalam Kifayah Al Mustafid li ma A’ala min Al Asanid.
Sejumlah ulama besar Nusantara yang berguru terhadap Syeikh Mahfudz antara lain, kiai Hasyim Asy’ari, Kyia Wahab Chasbullah, kiai Nawawi Pasuruan. Sedangkan dari kalangan Arab, murid yang mencolok ialah Muhaddits Al Haramain, Syeikh Umar Hamdan Al Mahrisi.

5. Syeikh Abdul Hamid Qudus
Sejumlah pihak menyebut bahwa Qudus ialah penisbatan terhadap sebuah wilayah di Yaman, tetapi sebagian penyebut bahwa Qudus ialah penisbatan terhadap kota Kudus Jawa Tengah. Syeikh Yasin sendiri termasuk berpendapat dengan pandangan ke dua, sampai ia memasukkan Syeikh Abdul Hamid dalam barisan muhaddits Nusantara.
Syeikh Abdul Hamid Qudus disebut selaku ulama mutafannin, ialah menguasai tidak sedikit disiplin ilmu. Sejumlah karya yang dihasilkan antara lain Irsyad Al Muhtadi yang membicarakan ilmu tauhid, Al Anwar As Saniyah yang membicarakan fiqih, Lathaif Isyarat soal ushul fiqih, Kanz An Najah dalam problem akhlak, juga sejumlah karya lainnya.
Syeikh Abdul Hamid Qudus berguru terhadap ayahnya Syeikh Muhammad Ali Qudus. Sedangkan bagian muridnya dari ulama Nusantara ialah Sayyid Ali bin Husain Al Aththas, Cikini Jakarta.
Periwayatan Syeikh Abdul Hamid Qudus dibukukan dalam Al Mafakhir As Saniyah fi Al Asanid Al Aliyah.

6. Sayyid Muhammad Muhktar bin Athar Al Bughuri
Ulama yang menisbatkan diri dengan wilayah Bogor ini juga masyhur dengan penisbatan Al Batawi. Syeikh Yasin memasukkan ulama ini ke dalam barisan ulama Nusantara yang mempunyai tidak sedikit periwayatan.

7. Sayyid Salim Jindan
Syeikh Sayyid Salim Jindan ialah seorang ahli nasab atau nassabah. Ulama ini dimasukkan ke dalam kubu dari mereka yang mempunyai tidak sedikit periwayatan sebab mempunyai guru lebih dari 100 orang.

8. Al Musnid Al Ashr Syeikh Yasin Al Fadani
Nama Syeikh Yasin, selaku ulama Nusantara yang mempunyai tidak sedikit periwayatan merupakan hal yang ndak asing bagi penuntut ilmu. Ulama ini sudah mengambil periwayatan dari Ulama Hijaz, Yaman, Mesir, Syam, Iraq, India juga Indonesia sendiri. Gurunya mencapai labih dari 170 ulama. Periwayatan ulama ini sendiri dibukukan dalam Bulugh Al Amani yang disusun oleh muridnya Syeikh Muhammad Mukhtaruddin Al Falimbani. Juga dibukukan dalam Tashnif Al Asma’ yang dibukukan oleh muridnya dari Mesir Syeikh Mahmud Said Mamduh Al Qahiri As Syafi’i.

Syeikh Yasin ndak menyebutkan bahwa dirinya ialah bagian dari 7 ulama Nusantara yang benyak mempunyai periwayatan. Tapi ia menyebutkan bahwa hitungan total gurunya juga sebanyak guru Syeikh Salim Jindan, ialah lebih dari 100 orang. Dan para ulama dunia Islam juga mengakui bahwa Syeikh Yasin mempunyai tidak sedikit periwayatan, karena itu ia dijuluki selaku al musnid al ashr, ialah musnid abad ini.*

Sumber : muslimoderat.net

Loading...

Source by Hakim Abdul

loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :